Tampilkan postingan dengan label komputer awan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komputer awan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Januari 2011

Fujitsu: 2011, Era Komputasi Awan Dimulai

VIVAnews - Fujitsu akan menjadikan komputasi awan (cloud computing) sebagai landasan strategi bisnisnya mulai tahun 2011. Penyedia layanan ICT itu serius membidik pendapatan sebesar US$17 miliar (setara Rp153 triliun) sampai Maret 2016 dari seluruh bisnis komputasi awan secara global.

Untuk mencapai target tersebut, Fujitsu siap menginvestasikan US$1,1 miliar (setara Rp 10 triliun) di berbagai bidang bisnis terkait komputasi awan dan melatih hingga 5.000 spesialis hingga tahun 2012.

"Nilai pendapatan sebesar itu bisa datang dari jasa konsultasi dan pengadaan layanan-layanan awan bernilai tambah tinggi pada para pelanggan," kata Achmad S Sofwan, Presiden Direktur Fujitsu Indonesia di sela Fujitsu Media Gathering 2011 di Bali, Selasa 25 Januari 2011.

Sebagai informasi, cloud computing adalah solusi ICT (information & information technology) melalui mekanisme komputasi awan yang memungkinkan kita menggunakan ataupun menyewa layanan ICT. Sementara itu, pengelolaan infrastruktur, platform, maupun aplikasi IT services dilakukan oleh penyedia.

Saat ini, Achmad mengatakan, jasa komputasi awan telah menyumbang sekitar US$14 juta untuk Fujitsu, atau setara Rp126 miliar, terutama dari jasa infrastruktur sebagai layanan (Infrastructure-as-a-Service).

"Di masa depan, sebagian besar pendapatan itu akan datang dari jasa konsultasi integrasi dan model-model komputasi awan lainnya," tandas dia.

Dari sisi investasi, Fujitsu mengalokasikan sebagian besar budgetnya untuk data center, termasuk di Tatebayashi Annex dan beberapa titik negara lainnya. Sisa budget akan digunakan untuk transformasi internal, seperti pelatihan dan restrukturisasi bisnis sampai cocok beroperasi di pasar awan. Selain itu, budget juga digunakan untuk pengembangan piranti lunak sebagai layanan (Software-as-a-Service) dengan mitra Microsoft Azure.

Di Asia Tenggara, Fujitsu merogoh kocek investasi sebesar US$38 juta untuk mendirikan platform awan global di Singapura. Dari situ, ia akan melayani seluruh pelanggan komputasi awan di Asia. Platform awan ini merupakan satu dari lima fasilitas serupa yang didirikan Fujitsu di seluruh dunia.

Keamanan, Kendala Utama Komputasi Awan

VIVAnews - Meski berani mengeluarkan investasi besar-besaran untuk mengembangkan bisnis komputasi awan secara global, Fujitsu tampak belum terlalu berambisi untuk menawarkan jasa komputasi awan di pasar Indonesia pada tahun 2011.

Kekhawatiran pelanggan terhadap risiko keamanan disebut-sebut menjadi alasan mengapa komputasi awan sulit diadopsi perusahaan-perusahaan di Tanah Air.

Alasan itu didasarkan pada temuan terbaru Gartner. Lembaga riset independen itu memaparkan sekitar 70 persen perusahaan (dengan jumlah karyawan kurang dari 1.000 orang) belum mau mengadopsi layanan komputasi awan karena alasan keamanan.

“Keamanan menjadi faktor yang paling dominan. Selain itu ada beberapa kendala lain seperti belum terbiasanya aktivitas reporting dan auditing di komputasi awan, sampai kurangnya rasa yakin perusahaan jika jasa itu benar-benar dapat mereduksi biaya,” kata Achmad S. Sofwan, Presiden Direktur Fujitsu Indonesia, pada Fujitsu Media Gathering 2011 di Denpasar, Bali.

“Padahal, tren cloud computing nanti akan membuka kemungkinan munculnya konvergensi. Misalnya, konvergensi semua perangkat yang digunakan oleh user, berperan besar dalam pengelolaan fasilitas publik seperti air, listrik, lalu lintas, perbankan, melalui satu pintu. Ini akan memberikan value yang besar di sisi ekonomi,” ucap Achmad.

Sebagai informasi, di Indonesia, sektor telekomunikasi (telco) menyumbang pendapatan terbesar bagi Fujitsu. Beberapa operator seperti Telkom, Telkomsel, dan XL telah menjadi mitranya. Sektor telco disusul sektor pemerintahan dengan beberapa kantor Departemen, dan manufaktur, terutama perusahaan yang juga berasal dari Jepang.

“Akan tetapi, untuk jasa komputasi awan kami masih akan melihat acceptance pasarnya dulu. Di samping menunggu pasar sampai matang, kami juga akan melihat kesiapan regulasi. Memang selama ini teknologi cloud dikaitkan dengan UU ITE, tapi sampai saat ini belum ada instrumen hukum yang benar-benar jelas mengatur komputasi awan secara menyeluruh,” ucap Achmad.

Jika merujuk pada survei Boston Consulting Group, Indonesia memang bisa dibilang ketinggalan. Survei itu menunjukkan nilai saham perusahaan berbasis teknologi, media dan telekomunikasi dunia yang berbasis di negara berkembang meroket sepanjang 2010.

Laporan Boston Consulting menyebutkan, tujuh dari sepuluh pemain telekomunikasi global, lima dari sepuluh pemain top media dunia, dan empat dari sepuluh pemain top teknologi terbesar dunia, telah memindahkan basis produksinya di India, Taiwan, Meksiko, China, dan negara-negara berkembang lain. Negara-negara ini menjadi pusat inovasi karena sumber tenaga kerja yang murah.

Perusahaan di bidang telekomunikasi berusaha melakukan reorientasi strategi mereka untuk mencapai pertumbuhan yang cepat dari mobile data. Bagi perusahaan teknologi dan telekomunikasi, komputasi awan memegang janji pertumbuhan.

“Industri pelan-pelan akan migrasi ke cloud walaupun dengan private cloud terlebih dulu,” ucap Made Sudharma, Country Head Application Services Fujitsu Indonesia, pada kesempatan yang sama.

Minggu, 23 Januari 2011

Fleksibilitas Layanan Komputasi Awan

JAKARTA, KOMPAS.com - Layanan komputasi awan (cloud computing) menawarkan fleksibilitas kepada perusahaan untuk membangun fasilitas teknologi informasinya. Sebab, dengan teknologi inilah perusahaan bisa memilih skala infrastruktur yang dibutukannya tanpa terbebani total cost ownership (TCO) atau ongkos investasi di awal.

Cloud computing pun fleksibel digunakan dari skala perusahaan kecil, menengah, hingga kelas enterprise. Hal tersebut dikatakan Presiden Direktur PT Microsoft Indonesia, Sutanto Hartono, di sela-sela konferensi "Microsoft Cloud Summit 2011" yang digelar Kamis (20/1/2011) hari ini di Hotel Shangri La, Jakarta. Dalam kesempatan itu, Microsoft memperkenalkan solusi cloud computing.

"Kami merancang rencana dan sistem sesuai kebutuhan setiap bisnis," ujar Sutanto. Terdapat tiga tawaran layanan yang diberikan Microsoft. Masing-maaing dibagi dalam tiga kategori yakni private, public, dan hybrid. Microsoft sendiri mempersilakan setiap bisnis untuk memilih yang terbaik sesuai kebutuhannya.

Chris Sharp, GM Online Services SMSP Microsoft Asia menjelaskan perbedaan dari tiga layanan tersebut. "Dalam layanan private, perusahaanlah yang menjadi inang dari teknologi komputasi awan dan digunakan untuk melayani setiap orang dalam perusahaannya."

Jadi, bisa dikatakan bahwa layanan ini khusus diperuntukkan bagi perusahaan tertentu. Konfigurasi dan fitur layanan sendiri sangat menyesuaiakn pada kebutuhan perusahaan tersebut. Sharp mengatakan, layanan ini sesuai bagi perusahaan korporasi yang siap secara infrastruktur.

Sementara, dalam Public Cloud, Sharp mengatakan, "Orang yang menggunakan adalah perusahaan tertentu yang berupaya untuk memenuhi kebutuhannya." Dalam pemenuhannya, perusahaan tersebut sepenuhnya tergantung pada penyedia layanan atau pihak luar.

Hybrid cloud merupakan gabungan dari Private Cloud dan Public Cloud. Pengertian hybrid ini bisa berbagai macam, misalnya penggunaan hardware fisik dan layanan komputasi awan bersamaan. Tetapi sederhananya bisa dikatakan sebagai penggabungan dua layanan tersebut.

Sutanto menjelaskan, layanan Private Cloud Microsoft memiliki beberapa kelebihan. Diperkuat dengan teknologi Hyper V dan System Center, layanan Private Cloud dengan mudah dihubungkan dengan layanan Public Cloud kapan pun dibutuhkan.

Sutanto mengatakan, nilai investasi Private Cloud Microsoft hanya sepertiga dibanding penggunaan teknologi kompetitornya. "Saat ini kami telah memiliki 17 perusahaan konsumen yang sedang membangun arsitektur Private Cloud dengan teknologi Hyper V dan System Center kami," papar Sutanto.

Saat ini, Microsoft berinvestasi sebanyak 2,3 miliar dollar AS untuk pembangunan layanan komputai awan. Sementara itu, puluhan ribu insinyur dikerahkan untuk mengembangkan aplikasi. Beberapa layanan komputasi awan seperti Xbox Live dan Microsoft Live telah dijalankan.

Menurut survei Gartner, 76 persen perusahaan akan menuju strategi Private Cloud Computing pada tahun 2012. Biaya sebesar 112 miliar dollar AS akan dibelanjakan secara kumulatif untuk software as a service, platform as a service, dan infrastructure as a service dalam kurun waktu 5 tahun ke depan.