Jumat, 05 Maret 2010

Majapahit: Kerajaan Agraris-Maritim Di Nusantara

Oleh : Agus Aris Munandar
Universitas Indonensia
Abstrak :
Meskipun Indonesia merupakan kawasan maritim dan agraris namun keterlibatan Indonesia dalam perdagangan internasional berlangsung bertahap beriringan dengan perkembangan dan terbentukanya jaringan pelayaran yang terbentuk secara berantai. Dengan cara ini berbagai pertanian Indonesia secara bertahap menjadi komoditas internasional pada abad XIII, yaitu rempah-rempah. Apalagi setelah berbagai masalah internal masing-masing kerajaan dapat diselesaikan. Aktivitas itu mengalami perkembangan pesat pada abad XIV-XVI, dan mencapai puncaknya pada abad-abad berikutnya hingga mengundangdan melibatkan bangsa-bangsa dari Barat. Sejak itu Indonesia baik secara agraris maupun maritim terlibat dalam jaringan perdagangan internasional secara penuh. Dalam intensitas demikian salah satu instrumen yang sangat diperlukan adalah kapal.

Indonesia, agraris-maritim, dan perdagangan internasional.
Dalam berbagai sumber yang tersedia tentang Majapahit, dapat diketahui bahwa kerajaan tersebut memang merupakan kerajaan yang bertumpu kepada aktivitas pertanian. Banyak prasasti yang membicarakan tentang penetapan sima atau daerah perdikan, yaitu daerah yang dilarang dimasuki oleh para penikmat kekayaan raja (mangilala drwya haji) istilah yang ditujukan bagi para pejabat atau pegawai kerajaan yang dibayar oleh raja. Berdasarkan nama-nama jabatan para pegawai kerajaan saja dapat diketahui bahwa kerajaan-kerajaan Jawa Kuno sejak zaman Mataram di Jawa bagian tengah hingga era Majapahit di Jawa bagian timur adalah kerajaan agraris. Jabatan-jabatan seperti wilang thani (petugas sensus penduduk desa), air haji (penjaga mata air milik raja), pulung padi (pemungut pajak padi), pangalasan (petugas kehutanan), pawdus (petugas peternakan kambing), pakbo (petugas peternakan kerbau), papuyuh (penangkap burung buyuh), patangkalan (petugas pencacah tanam-tanaman penting), dan lain sebagainya, menunjukkan bahwa pejabat-pejabat tersebut banyak bergerak di bidang agraris.

Kerajaan Majapahit didirikan oleh Kertarajasa Jayawarddhana dalam tahun 1293 M, sebenarnya merupakan kelanjutan dari Singhasari. Sebagaimana diketahui dari kitab Pararaton dan didukung oleh berita kakawin Nagarakrtagama, pendiri Singhasari adalah Ken Angrok yang bergelar Sri Ranggah Rajasa Bhattara Sang Amurwabhummi. Ken Angrok adalah seorang anak desa, ibunya adalah petani yang bernama Ken Endok yang diperkosa oleh Dewa Brahma (sang pencipta) di ladang Lalateng, demikian menurut Pararaton memberikan legitimasi bahwa Ken Angrok memang punya kelebihan sebagai anak dewa. Dengan demikian Ken Angrok sebenarnya anak orang biasa yang karena kejadian-kejadian luar biasa ia dapat menjadi orang nomor satu di Tumapel dan akhirnya mendirikan Singhasari menggantikan peranan raja-raja. Kadiri yang sudah mulai pudar di awal abad ke-13. Raja-raja Singhasari dan Majapahit sebenarnya anggota satu dinasti, yaitu Rajasawangsa, mereka mempunyai leluhur yang sama, yaitu Ranggah Rajasa alias Ken Angrok.

Dalam perkembangannya baik Singhasari (abad ke-13 M) ataupun Majapahit (abad ke-14 s.d 15 M) lebih banyak disibukkan dengan urusan internal di wilayah Jawa Timur. Menurut prasasati Mula-Malurung (1255 M) terdapat beberapa negara daerah yang rajanya dibawah pemerintahan Krtanagara atau Nararyya Murddhaja. Nagara atau kota-kota di daerah tersebut adalah Morono, Lwa, Lamajang, Hring, Kadiri dan Glang-glang yang semuanya berada di wilayah Jawa bagian timur. Hanya satu wilayah Singhasari yang berada di luar Jawa, yaitu Pulau Madura dengan ibu kotanya di Sungeneb/Sumenep (Munandar 1986 : 4-5). Semua negara daerah di Jawa bagian timur itu sejatinya berada di sekitar pedalaman yang subur, di sekitar daerah aliran Sungai Brantas, di lereng-lereng gunung, dan dataran persawahan yang luas membentang.

Negara daerah Singhasari yang jelas memiliki lahan aktivitas yang subur adalah Lamajang (Lumajang) di selatan Gunung Semeru, Kadiri dan Lwa di daerah aliran Sungai Brantas, dan Glang-glang di wilayah Wurawan berada di sebelah barat Gunung Wilis. Adapun Singhasari sendiri berada di dataran tinggi Malang yang subur untuk sawah dan bercocok tanam palawija, sayur mayur, dan buah-buahan hingga dewasa ini. Dalam masa Majapahit jumlah negara daerah tersebut semakin banyak, menurut uraian Prasasti Waringin Pitu (1369 Saka/1447M) yang dikeluarkan oleh raja Wijayaparakramawarddhana (Dyah Krtawijaya) terdapat sekitar 14 negara daerah yang berada di wilayah inti Majapahit, yaitu Jawa bagian timur. Negara daerah zaman Majapahit tersebut adalah (1) Daha, (2)Jagaraga, (3) Kahuripan, (4) Tanjungpura, (5) Pajang, (6) Kembang Jenar, (7)Wengker, (8) Kabalan, (9) Tumapel, (10) Singapura, (11) Matahun, (12)Wirabhumi, (13) Keling, dan (14) Kalinggapura (Yamin 1962: 193-199). Pada masa Majapahit sudah terdapat negara daerah yang berada di daerah pantai utara Jawa bagian timur selain di pedalamannya juga. Hal itu menunjukan bahwa hubungan Majapahit dengan daerah-daerah lain di luar Jawa semakin berkembang, perhatian Majapahit pada daerah luar Jawa meningkat karena berbagai argumen internal atau pun eksternal. Perhatian ke luar Jawa itu tentunya merupakan aktivitas maritim dengan berbagai sistemnya.

Dalam hal kegiatan agraris penduduk Majapahit tetap melaksanakannya, walaupun menjelang keruntuhannya masyarakat Majapahit selalu terganggu oleh berbagai peperangan perebutan kekuasaan. Kedua aspek kehidupan itulah yang akan diperbincangkan lebih lanjut dalam kajian ini, karena Majapahit memang mempunyai bukti-bukti sebagai kerajaan agraris yang maritim, artinya Majapahit juga meluaskan cakrawala kekuasaannya tidak semata-mata di dalam Pulau Jawa, namun juga keluar Jawa.

Setelah panen menjelang musim kemarau, Rajasanagara (Hayam Wuruk) mengadakan perjalanan ke daerah Jawa Timur yang menjadi inti wilayah Majapahit pada tahun-tahun tertentu dalam masa pemerintahannya. Menurut uraian Nagarakrtagama Hayam Wuruk dan rombongannya dalam tahun 1353 mengadakan perjalanan ke daerah Pajang, tahun 1354 perjalanan ke pantai Lasem. Pada tahun 1357 Hayam Wuruk mengadakan perjalanan menuju ke pantai selatan, dan di tahun yang sama terjadi peristiwa Pasunda-Bubat.

Tahun 1359 Hayam Wuruk melakukan perjalanan ke Lamajang yang merupakan rute paling panjang. Perjalanan ke Lamajang inilah yang diuraikan secara panjang lebar dalam Nagarakrtagama. Tahun 1360 perjalanan ke Tarib dan Sampur. Tahun 1361 perjalanan ke Rabut Palah (kompleks Candi Panataran), merupakan candi kerajaan Majapahit. Tahun 1362 Hayam Wuruk memenuhi titah ibunya untuk mengadakan upacara sraddha bagi neneknya Rajapatni Gayatri. Merupakan upacara yang meriah dan diakhiri dengan meletakkan arca

Prajñaparamita di Candi Prajñaparamitapuri di Bhayanglango. Tahun 1363 Hayam Wuruk mengadakan perjalanan ke Simping (Sumberjati), meresmikan bangunan candi yang konon baru dipindahkan ke lokasi baru. Candi tersebut dibangun untuk memuliakan eyang Hayam Wuruk, yaitu Raden Wijaya (Krtarajasa Jayawarddhana).

Pada setiap perjalanan tersebut Hayam Wuruk selalu dinyatakan oleh Mpu Prapanca melewati kampung-kampung, dan pesawahan penduduk. Dalam Nagarakrtagama mengesankan bahwa kehidupan masyarakat Majapahit pada waktu itu sangat sejahtera, rakyat di desa-desa berdesak-desak di tepi jalan untuk menonton rombongan rajanya lewat. Di tempat-tempat penghentian dalam perjalanan tersebut Hayam Wuruk dan rombongannya selalu disambut dengan suka cita oleh penduduk setempat, makanan disediakan cukup berlimpah, dan bermacam hiburan yang ada dipertunjukkan kepada rombongan raja Hayam Wuruk.

Berdasarkan catatan musafir Cina bernama Ma Huan yang berkunjung ke Majapahit dalam masa akhir pemerintahan Hayam Wuruk, dapat diketahui bahwa kehidupan masyarakat dan perekonomian Majapahit masa itu relatif maju. Catatan Ma Huan menguraikan antara lain sebagai berikut : Di Majapahit udaranya terus menerus panas, seperti musim panas di kita (Cina), panen padi 2 kali setahun, padinya kecil-kecil, berasnya berwarna putih. Di sana juga ada buah jarak dan karapodang (kuning), tetapi tidak ada tanaman gandum. Kerajaan itu menghasilkan kayu sepang, kayu cendana, intan, besi, buah pala, cabe merah panjang, tempurung penyu baik yang masih mentah ataupun yang sudah dimasak. Burungnya aneh-aneh, ada nuri sebesar ayam dengan aneka warna merah, hijau, dan sebagainya. Beo yang semuanya dapat diajari berbicara seperti orang,kakatua, merak, dan lainnya lagi. Hewan yang mengagumkan adalah kijang dan kera putih, ternaknya adalah babi, kambing, sapi, kuda, ayam, itik, keledai dan angsa. Buah-buahannya adalah bermacam-macam pisang, kelapa, tebu, delima, manggis, langsap, semangka, dan sebagainya. Bunga penting adalah teratai.

Penduduk di pantai utara di kota-kota pelabuhan seperti Gresik, Tuban, Surabaya, dan Canggu kebanyakan menjadi pedagang. Kota-kota pelabuhan tersebut banyak dikunjungi oleh pedagang asing yang berasal dari Arab, India, Asia Tenggara, dan Cina. Ma Huan memberitakan bahwa di kota-kota pelabuhan tersebut banyak orang Cina dan Arab menetap, penduduk anak negeri datang ke kota-kota tersebut untuk berdagang

Laporan Ma Huan selanjutnya menyatakan bahwa ibu kota Majapahit berpenduduk sekitar 200-300 keluarga, suatu angka cukup besar untuk zaman itu. Penduduk telah memakai kain dan baju, kaum lelaki berambut panjang dan diuraikan, sedangkan perempuannya bersanggul. Setiap laki-laki mulai yang anak yang berumur 3 tahun ke atas, baik orang berada atau orang kebanyakan, mereka mengenakan keris dengan pegangannya yang diukir indah-indah, terbuat dari emas, cula badak, atau gading. Kerapkali apabila mereka bertengkar, maka dengan cepat masing-masing telah siap dengan kerisnya. Pantangan bagi penduduk Jawa adalah memegang kepala orang lain, karena hal itu merupakan penghinaan dan akan menimbulkan perkelahian berdarah.

Mereka duduk di rumahnya tidak menggunakan bangku, tidur tanpa memakai ranjang, dan makan tanpa memakai sumpit. Sepanjang hari mereka senang memakan sirih, baik laki-laki atau pun perempuan, apabila ada tamu datang yang disuguhkan bukannya teh, melainkan siring dan pinang. Atas titah raja, orang Majapahit juga senang mengadakan pertandingan dengan menggunakan tombak bambu. Apabila ada yang meninggal karena tertusuk tombak bambu itu si pemenang wajib memberikan uang kepada keluarga korban. Apabila bulan terang, terutama purnama, mereka senang bermain bersama. Para perempuan membentuk kelompok sebanyak 20 sampai 30 orang. Seorang wanita memimpin di depan dan mereka semua bergandengan tangan berjalan di bawah bulan purnama. Wanita pemimpin menyanyikan lagu-lagu yang kemudian diikuti oleh seluruh rombongannya. Mereka berkunung ke rumah-rumah orang kaya atau para pejabat kerajaan, mereka mendapat hadiah berupa uang logam tembaga, emas atau hadiah lainnya. Kesenian lain yang populer adalah bentuk cerita Wayang Beber, yaitu kisah wayang yang dilukiskan pada kain yang direntangkan (beber) kemudian sang dalang menceritakan adegan-adegan yang digambarkan tersebut.

Para pedagang pribumi umumnya sangat kaya, mereka suka membeli batu-batu perhiasan yang bermutu, barang pecah belah dari porselin Cina dengan gambar bunga-bungaan berwarna hijau. Mereka juga membeli minyak wangi,kain sutra, katun yang baik dengan motif hiasan ataupun yang polos, mereka membayar dengan uang tembaga Majapahit, uang tembaga Cina dari dinasti apapun laku di kerajaan Majapahit (Groeneveldt 2009: 67-9).

Majapahit mengembangkan kegiatan agraris adalah hal yang sudah wajar, karena kerajaan itu berada di Pulau Jawa yang subur. Jika dicermati secara lebih mendalam, terdapat beberapa alasan konsepsual-religius yang agaknya dijadikan referensi oleh raja dan masyarakat Klasik sejak zaman Mataram hingga Kadiri mengembangkan kerajaan bercorak agraris. Alasan itu antara lain sebagai berikut :
1.Konsepsi keagamaan: baik ajaran Hinduisme menyatakan bahwa daratan adalah tempat penting, tempat itu dinamakan Jambhudwipa, sebagai lokasi bermukimnya manusia. Dengan demikian kerajaan-kerajaan yang bercorak Hinduisme di Jawa lebih mementingkan inward looking dan tidak memperhatikan daerah-daerah di luar Jambhudipa (Jawadwipa).

2. Dalam konsep makro kosmos Hinduisme dinyatakan bahwa di tengah Jambhudwipa terdapat Gunung Mahameru sebagai pusat alam semesta dan axis mundi antara ketiga dunia (bhurloka, bhuwarloka, dan swarloka). Di bagian kaki gunung itu adalah tempat tinggal manusia, di lerengnyabermukim orang-orang suci dan para pertapa, dan di bagian puncak gunungMahameru terdapat sorga atau kota-kota tempat bersemayamnya para dewa dinamakan Sudarsana. Maka dari itu banyak kerajaan yang bernafaskan Hinduisme selalu mendekatkan diri kepada gunung dan dan dataran tinggi yang dipercaya sebagai jelmaan dari Gunung Mahameru pusat alam semesta. Dalam konsep ini daerah tepian pantai, laut atau lautan dianggap daerah yang nista dan kotor, tempat tinggal roh-roh jahat, para raksasa, dan makhluk-makhluk rendah lainnya. Oleh karena itu perhatian kepada laut, pelayaran dilaut dan menjelajah lautan bukan aktivitas yang disenangi oleh para pemelukagama Hindu

3. Terdapat mitos Agastya yang menyatakan adanya larangan bagi para pendeta Hindu untuk berlayar menyeberangi lautan. Oleh karena dalam mitologinya Agastya dipercaya menghirup air laut sehingga kering (oleh karena itu dinamakan Rsi Kumbhayoni, arcanya selalu digambarkan berperut buncit), barulah Agastya berjalan kaki dari Jambhudwipa ke pulau-pulau lain di selatan India hingga ke Nusantara. Di Nusantara Agastya dipuja sebagai pendeta suci murid Siwa yang berjasa menyebarkan Hindu-saiwa. Dalam pada itu terdapat juga faktor-faktor eksternal yang menjadikan kerajaan-kerajaan kuno di Jawa dalam masa klasik belum mengembangkan kekuatan lautnya. Faktor-faktor itu antara lain adalah :
a. Jalur perdagangan laut antara abad ke-7 s.d 12 belum terlalu ramai, walau pun hubungan lewat laut antara India, Cina, dan wilayah Asia Tenggara telah lama terjadi. Sebenarnya peningkatan perdagangan laut mulai terjadi dalam abad ke-13 dan berangsur-angsur semakin ramai dalam abad ke-14 hingga masuknya bangsa-bangsa barat.

b. Rempah-rempah belum dikenal sebagai sumber komoditi yang laku diperdagangkan, karena itu para pedagang asing dari Barat belum banyak yang berkunjung ke Nusantara

c. Belum banyak bandar niaga yang berkembang di pulau-pulau Nusantara, hal ini terjadi seiring dengan belum banyaknya jumlah penduduk masa itu.

Demikian beberapa faktor yang menjadi mungkin menjadi penyebab kerajaan-kerajaan di Jawa dalam masa Hindu-Buddha, sejak Mataram kuno hingga Kadiri (abad ke-7 s.d 12 M) belum memperhatikan benar aktivitas di laut. Hal itu tercermin juga dalam berbagai karya sastra Jawa Kuno sezaman, uraian karya sastra tersebut hampir seluruhnya bernuansakan dataran, tempat istana-istana berada, lereng, pegunungan, hutan, dan gunung. Tidak ada karya sastra Jawa Kuno yang mempunyai uraian agak rinci tentang laut, pelayaran di laut perahu, atau pun tentang kemampuan navigasi laut orang Jawa Kuno.

Jadi seakan-akan kegiatan di laut itu luput dari perhatian para pujangga penyusun kitab-kitab susastra Jawa Kuno. Hanya satu kitab Jawa Tengahan yang menuturkan perjalan di laut, itupun perjalanan mitos yang dilakukan Bhima untuk mencari air Amerta, kitab itu adalah Nawaruci. Uraian perjalanan Bhima di laut tersebut bukanlah perjalanan biasa di laut, namun lebih menunjukkan metafora perjalanan batin seseorang untuk bertemu dengan pengejawantahan Superhuman being. Dengan demikian tidak dapat dijadikan referensi khusus dalam kajian maritim masa Jawa Kuno.

Dalam Prasasti Gondosuli (OJO III) yang berangka tahun 769 Saka/847 M disebutkan adanya pejabat yang berjuluk dang puhawa(ng) Glis. Istilah dang puhawang dalam masa kemudian di Jawa diucapkan dengan ”dampoawang” yang artinya nakhoda kapal besar, saudagar kaya, atau pemimpin perjalanan
dengan kapal di laut. Dang sebenarnya setara dengan sang, yaitu kata sandang bagi seseorang yang dihormati, adapun kata puhawang dari kata pu + hawan memiliki kata dasar hawan atau hawang. Pu menunjuk kata sandang juga berarti ”dihormati, dimuliakan” dan hawan artinya jalan, kendaraan, alat/cara untuk mencapai sesuatu (Zoetmulder 1995, I : 345). Uraian Prasasti Gondosuli (ditemukan di lereng utara Gunung Sumbing) yang menggunakan bahasa Melayu Kuno menyiratkan adanya seorang saudagar kaya atau nakhoda besar dari daerah Malayu (Sumatra) yang akhirnya mendarat dan bermukim di pedalaman Jawa bagian tengah.

Dapat ditafsirkan bahwa dalam masa itu terjadi hubungan laut antara Sumatra dengan Jawa. Inskripsi berbahasa Melayu Kuno lainnya yang ditemukan di Jawa Tengah adalah Prasasti Sojomerto (sekitar tahun 700 M). Dengan adanya temuan tersebut penafsiran telah ada hubungan antara Jawa dan Sumatra semakin menguat, dan dapat dipastikan hubungan itu terjadi melalui jalur laut, artinya telah dikenal perahu-perahu. Jejak kapal besar dalam era Syailendra abad ke-8 s.d 10 sudah banyak dikaji oleh para ahli lewat penggambaran relief di Candi Borobudur. Kapal Borobudur tersebut bahkan telah
dibuat replikanya dan dilayarkan ke laut. Dengan demikian pelayaran di laut lepas ketika pusat kerajaan di Jawa bagian tengah masih berdiri sudah barang tentu telah dikenal, namun perhatian terhadap pengembangan perahu-perahu besar untuk meluaskan pengaruh Kerajaan Mataram hingga luar Jawa belum ada buktinya, kecuali interpretasi adanya hubungan antara Sriwijaya dan Mataram
dalam abad ke-9 M.

Dalam masa yang sama sebagaimana disebutkan dalam prasasti-prasasti Jawa Kuno dikenal pula kata hawan. Perkembangan selanjutnya mengartikan kata hawan/ng sebagai kendaraan perahu. Uraian prasasti-prasasti Jawa kuno menyebutkan kata hawan berarti perahu atau kapal. Misalnya dinyatakan dalam Prasasti Kubu (827 Saka/905 M): ”mwaK ikanaK rama i kubu-kubu... an pinaka hawan ing wai” (”kemudian rama di Kubukubu... bagaikan perahu di sungai”).Prasasti lainnya yang menyebutkan hawan adalah Telang I (825 S/903 M): ”makamitana ikanaK kamulan muaK prahu umantassakna sang mahawan pratidina” (”alasannya, di sana [ada] kamulan dan perahu yang mendarat dan dikendarai setiap hari”) Dalam Prasasti Mantyasih I (829 S/907 M) dinyatakan juga ”ikanaK patih rumaksa ikanaK hawan” (”di sana patih memelihara perahu”).Hal itu menunjukkan bahwa perahu sebagai kendaraan dikenal di pedalaman Jawa, namun prasasti-prasasti dan karya sastra tidak memberitakan adanya ekspedisi ke luar Jawa dalam era Syailendrawangsa. Sehingga dapat dikemukakan bahwa Kerajaan Mataram kuno belum mengembangkan pengaruhnya hingga luar Jawa, artinya dunia maritim masih belum diperhatikan dengan baik, keculai di masa mendatang ditemukan bukti-bukti baru. Adalah Kerajaan Singhasari yang dapat ditafsirkan mulai memperluas wawasan wilayahnya hingga ke luar Jawa. Interpretasi tersebut diperoleh berdasarkan berita kitab Pararaton yang didukung oleh peninggalan arkeologis berupa arca yang ditulisi prasasti (Prasasti Amoghapasa bertarikh 1208 Saka/1286 M) yang dikeluarkan oleh Krtanagara. Sebagaimana telah diketahui dalam sejarah Singhasari, menurut berita Cina Krtanagara pernah didatangi Meng-chi utusan dari Kublai Khan agar Jawa menghamba kepada kaisar dinasti Yuan tersebut. Krtanagara tidak terima dan marah, lalu melukai wajah utusan Kubhilai Khan, dan memerintahkan Meng-chi agar segera enyah dari Pulau Jawa. Krtanagara segera mengirimkan sejumlah besar tentara Singhasari ke Suwarnabhumi dengan maksud Suwarnabhumi mengakui kekuasaan Singhasari dan dapat membendung kekuasaan Kubhilai Khan ke arah Selat Malaka dan
kepulauan Asia Tenggara. Pamalayu tersebut, demikian kitab Pararaton menyatakan berhasil dengan gemilang, raja Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa dihadiahi arca Amoghapasa oleh Krtanagara.

Hubungan dengan Malayu tersebut seakan-akan terputus tiba-tiba, karena dalam tahun 1292 Krtanagara, terbunuh dalam serangan mendadak yang dilancarkan oleh pasukan Jayakatwang yang datang dari Gelang-gelang dan berkubu di wilayah Kadiri. Dalam masa-masa awal pembangunan Majapahit sudah pasti Raden Wijaya dan para pejabat tingginya belum lagi memperhatikan daerah Nusantara, walaupun mereka telah berhasil armada dinasti Yuan untuk kembali ke negeri asalnya. Begitupun dalam masa pemerintahan Jayanagara perhatian terhadap wilayah pulau lain belum nyata benar karena pemberontakan-pemberontakan masih acapkali terjadi di Majapahit.

Agaknya hubungan dengan Cina dalam masa Jayanagara tetap berlangsung, menurut berita Cina antara tahun 1325 sampai 1328 telah datang beberapa utusan dari Jawa ke Cina. Utusan Jawa itu dipimpin oleh Seng-chia-liyeh, sedangkan raja Jawa masa itu disebut dengan Cha-ya-na-ko-nai (Jayanagara) (Sumadio 1984:431). Dalam masa Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwarddhani Majapahit mulai melebarkan pengaruhnya ke Bali. Menurut sumber-sumber Bali yang sangat berperanan dalam penguasaan Bali adalah Gajah Mada, tentara Majapahit menyerang Bali dipimpin oleh Gajah Mada dan Pu Aditya (Adityawarman). Armada Majapahit mendarat di pantai utara, timur, dan daerah pantai selatan Bali, mereka lalu melakukan perjalanan darat menyerang ibu kota Bali Kuno yang mungkin berkedudukan di wilayah Gianyar sekarang. Setelah melalui pertempuran panjang, akhirnya Pulau Bali dapatdikuasai oleh tentara Majapahit dan bernaung di bawah panji-panji kebesaran Majapahit.

Tokoh Gajah Mada selalu saja dihubungkan dengan sumpahnya yang terkenal, sumpah yang membuat ia melakukan berbagai upaya untuk dapat membuktikannya. Mungkin saja apa yang diucapkan oleh Gajah Mada di hadapan penguasa dan para pembesar Majapahit dalam suatu paseban lengkap itu dapat dianggap sebagai pernyataan politik, atau suatu tujuan pemerintahan yang harus dicapai agar Majapahit jaya dan disegani di seluruh Nusantara.

Masa itu (abad ke-14 M) di wilayah Asia Tenggara bermunculan beberapa kerajaan yang mencoba meluaskan hegemoninya. Di wilayah Asia Tenggara daratan berdiri kerajaan Ayut’ia (Ayudhya), kerajaan ini berkembang di wilayah Menam Tengah dan Selatan, pengaruhnya mengarah ke Semenanjung Melayu yang secara tradisional selalu berhubungan dengan Asia Tenggara kepulauan. Ayut’ia juga sudah berkuasa atas wilayah Tenasserim dan Tavoy yang berada dalam wilayah Myanmar. Dalam pada itu kerajaan Khmer yang berpusatkan di Angkor kedudukannya menjadi terancam akibat munculnya kerajaan Ayudhya di Siam tersebut (Hall 1988: 158).

Wilayah Champa berhasil membebaskan diri dari kekuasaan Khmer pada sekitar akhir abad ke-13, namun di waktu yang bersamaan muncul ancaman dari kekuatan dinasti Yuan (Mongol) yang berkuasa di Cina. Oleh karena itu para penguasa Champa menerima ajakan raja-raja Jawa untuk bersekutu membendung serangan orang-orang Tartar tersebut. Persekutuan itu seakan-akan tidak berarti setelah Raja Jawa (Singhasari) Krtanagara terbunuh tiba-tiba oleh serangan Jayakatwang. Jawa akhirnya diserang oleh tentara Kubhilai Khan tahun 1292, setelah mengalahkan Kadiri tentara Cina itu diusir kembali oleh Raden Wijaya dengan kawan-kawan, kemudian berdirilah Majapahit. Hubungan antara Champa dan Majapahit terus berlangsung dengan baik terutama di bawah pemerintahan Raja Jayasimhavarman di Champa. Hubungan-hubungan antara Champa dengan Majapahit mungkin berlanjut terus hingga Raja Che Bo Nga (1360-1390 M) dan Raja Indrawarman V (1400-1441 M) (Groslier 2002 : 320). Masa pemerintahan Raja Che Bo Nga di Champa hampir bersamaan waktunya dengan era kejayaan Majapahit dalam periode pemerintahan Hayam Wuruk (1351-1389 M). Agaknya hubungan kedua kerajaan tersebut berlangsung akrab, di situs Trowulan bekas kota Majapahit, banyak ditemukan boneka tanah liat bakar yang menggambarkan figur dengan wajah Asiatic Mongoloid. mungkin figur-figur itu dimaksudkan sebagai orang-orang Asia Tenggara daratan (Champa dan Siam) yang banyak berkunjung dan berniaga di kota Majapahit. Bahkan sampai sekarang terdapat kuburan kuno yang dinamakan oleh penduduk setempat dengan Makam Putri Campa, mungkin tokoh tersebut memang berasal dari Campa yang akhirnya pindah bermukim di Majapahit hingga akhir hayatnya.

Tanah Birma (Myanmar) pada masa itu tengah kacau, kekuasaan kerajaan cukup lemah, pemberontakan kerapkali terjadi. Raja Binya Oe terpaksa memindahkan ibu kotanya yang semula di Martaban, lalu dalam tahun 1363 pindah ke Donwun. Telah dikemukakan bahwa di Siam (Muang Thai) memerintah para raja Sukodaya (Sukothai), kota Ayodyapura didirikan dalam sekitar tahun 1350 oleh raja yang berjuluk Darmaraja II. Dalam pada itu Setelah Kubhilai Khan meninggal tahun 1294, maka kekuasaan dinasti Yuan mulai merosot di Cina. Sepeninggal Kubhilai Khan memerintah sekurangnya 10 raja dinasti Yuan di Cina yang tidak berpengaruh dan tidak mengesankan, malah pemberontakan demi pemberontakan orang-orang Cina terus terjadi merongrong kekuasaan raja-raja Mongol. Pada akhirnya dalam tahun 1368, seorang jendral Cina bernama Tsyu Yuan Tsyang (Hung Wu) berhasil mengenyahkan orang-orang Mongol dari dari daratan Cina, muncullah dinasti Baru di Cina, yaitu Ming (1368-1644 M) (Yamin 1977 : 64). Perkembangan sezaman di Cina dan Asia Tenggara daratan itulah sedikit banyak turut mempengaruhi Kerajaan Majapahit yang sedang dibangun oleh para rajanya yang didukung oleh Mahapatihnya, yaitu Gajah Mada.

Kakawin Nagarakrtagama yang digubah oleh Mpu Prapanca dalam masa kejayaan Majapahit di bawah pemerintahan Hayam Wuruk, menyatakan adanya beberapa negara mitra satata di luar Nusantara, selain berbagai daerah Nusantara yang diakui telah mengakui panjí-panji kebesaran Majapahit. Pupuh 15 Nagarakrtagama menyatakan sebagai berikut;
“… tuhun/ taŋ syańkāyodyapura kimutaŋ darmmānāgarī, marûtma mwaŋ riŋ rajapura nuniweh sinhanagari, ri campa kambojanyat i yawana mitreka satata”. (“…kemudian Syangkayodyapura, lalu Darmmanagari, Marutma, dengan Rajapura, termasuk Singanagari, Campa, Kamboja, dan Yawana itulah negara-negara sahabat”)

Kerajaan-kerajaan yang disebutkan dalam Nagarakrtagama sebagai negara sahabat tersebut, berkembang di wilayah Asia Tenggara daratan, ada yang berada di Thailand (Syangkayodyapura dan Darmmanagari), di Myanmar (Marutma dan Rajapura), Di Kamboja dan wilayah Vietnam sekarang (Champa dan Yawana).

Semua kerajaan itu berkembang bersamaan waktunya dengan Majapahit di Jawa bagian timur. Para petinggi Majapahit sangat mungkin menyadari sekali akan hal itu, oleh karena itu Majapahit berupaya membendung pengaruh kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara daratan agar jangan sampai menyebar di kepulauan Nusantara. Nusantara sudah semestinya milik kerajaan yang tumbuh di pulau-pulau itu, kali ini Majapahitlah yang pantas mengembangkan pengaruhnya di pulau-pulau Nusantara, bukan kerajaan-kerajaan daratan Asia Tenggara.

Maka Gajah Mada pun mengangkat sumpah di pertemuan lengkap para pejabat tinggi Majapahit, di balairung kedaton tanpa dihadiri Ratu Tribhuwanottungga, demikian yang dapat ditafsirkan dari uraian Pararaton. Gajah Mada lalu berkata: “Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, amun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa” (Padmapuspita 1966 : 38).

Demikian ucapan Gajah Mada ketika ia bersumpah menurut kitab Pararaton. Banyak tafsir dan masalah yang dapat didiskusikan dalam peristiwa “Sumpah Palapa” tersebut. Menurut ucapan sumpah Gajah Mada terdapat 10 wilayah di Nusantara yang harus mengakui kejayaan Majapahit, yaitu Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik. Agaknya penulis Pararaton hanya menyebutkan beberapa daerah yang dianggap penting saja dari sejumlah besar daerah Nusantara yang mengakui kebesaran Majapahit sebagaimana yang termaktub dalam Nagarakrtagama. Sepuluh daerah tersebut tersebar di seluruh wilayah Nusantara, jadi walaupun tidak disebutkan banyak daerah, kesepuluh daerah itu dianggap cukup mewakili wilayah Nusantara yang harus mengakui kebesaran Majapahit. Daerah yang pertama disebut oleh Gajah Mada adalah Gurun, daerah ini terletak di Pulau Lombok, artinya mewakili pulau itu secara keseluruhan, ke-2 Seran adalah daerah kepala burung di Papua, daerah ke-3 Tanjung Pura adalah wilayah penting yang terdapat di Pulau Kalimantan, ke-4 Haru daerah di wilayah pantai timur Sumatra utara, ke-5 Pahang adalah daerah penting di Semenanjung Melayu, ke-6 Dompo terdapat di Sumbawa dekat dengan wilayah Bima, ke-7 Bali, adalah Pulau Bali, ke-8 Sunda, atau Kerajaan Sunda terletak di Jawa bagian barat, ke-9 Palembang, di Sumatra bagian selatan, dan ke-10 adalah Tumasik, adalah nama lama dari Singapura sekarang.

Beberapa daerah yang “dibidik” oleh Gajah Mada tersebut ternyata tempat berkembangnya kerajaan lama, kerajaan terdahulu yang mempunyai sejarah lebih tua daripada Majapahit. Misalnya Bali, dahulu di pulau itu pernah berdiri Kerajaan Balidwipamandala dengan ibu kota Singhadwala milik dinasti Warmadewa (abad ke-8 s.d 10 M). Sunda yang terletak di Jawa bagian barat, dahulu di wilayah itu pernah berdiri kerajaan tertua di Tanah Jawa, yaitu Tarumanagara (sekitar abad ke-4 s.d 6 M). Menyusul Tanjungpura yang terletak di Kalimantan, di pulau itu pernah berdiri kerajaan Kutai kuno dengan rajanya Mulawarmman (abad ke-4 s.d 5 M), dan Palembang di Sumatra selatan bekas tempat kedudukan Kerajaan Sriwijaya yang berkembang dalam abad ke-8 s.d 12 M. Gajah Mada seakan-akan hendak mencari tuah dan kekuatan sakti dari kerajaan-kerajaan yang mendahului Majapahit, selain itu Gajah Mada juga sepertinya hendak meneguhkan bahwa Majapahit adalah pewaris dari kerajaan-kerajaan terdahulu di Nusantara.

Pahang dan Tumasik adalah daerah-daerah penting untuk menyongsong perhubungan laut dengan kekuatan dari Asia Tenggara daratan, dan yang penting sekali adalah untuk menetralisir pengaruh kekuatan politik dari Cina. Haru di Sumatra bagian utara, merupakan salah satu daerah barat Nusantara untuk memudahkan hubungan dengan kerajaan-kerajaan di benua Jambhudwipa (India), adapun Dompo harus dikuasai karena daerah pusat penghasil kayu cendana bermutu tinggi yang sangat diperlukan dalam berbagai ritus keagamaan dan laku dijual keluar Nusantara, sedangkan Seran dan pulau-pulau di sekitarnya (Maluku) adalah penghasil rempah-rempah yang dalam abad ke-14 mulai dicari dan diminati oleh para pedagang Jambhudvipa untuk dijual lagi ke kawasan timur tengah dengan harga yang tinggi.

Dengan demikian Gajah Mada tidak asal saja dalam mengucapkan sumpahnya. Daerah-daerah yang dikatakannya harus berada di bawah kekuasaan Majapahit, adalah daerah pilihan yang mempunyai makna tersendiri bagi Majapahit, jika Majapahit ingin berkembang menguasai Nusantara, maka daerah-daerah itulah yang harus dikuasai lebih dahulu, demikian maksud Gajah Mada. Setelah para penentang pembuktian Sumpah Palapanya lenyap, Gajah Mada beserta tentara Majapahit dan para ksatrya, arya, dan pendukung lainnya mulai “unjuk kekuatan” dengan mengembangkan pengaruh Majapahit ke luar Jawa [timur]. Daerah pertama yang didatangi oleh bala tentara Majapahit adalah Bali, setelah peperangan lama dan melelahkan Bali ditaklukkan, lalu dengan segera Gurun (Pulau Lombok) pun dapat ditaklukkan tentera Majapahit.

Menurut uraian Berita Cina dari dinasti Ming, pada tahun 1377 Suwarnabhumi (Sumatra) diserbu oleh tentara Jawa. Putera mahkota Suwarnabhumi tidak berani naik tahta tanpa bantuan dan persetujuan kaisar Cina, putera mahkota itu takut kepada kekuasaan raja Jawa. Kaisar Cina lalu mengirimkan utusan ke Suwarnabhumi untuk mengantarkan surat persetujuan pengangkatan putra mahkota sebagai raja, namun utusan Cina itu dicegat oleh tentara Jawa dan dibunuh. Kaisar Cina tidak melakukan tindakan apapun terhadap raja Jawa, karena tindakan balasan tidak ada gunanya. Penyerbuan bala tentara Jawa ke Suwarnabhumi itu dikarenakan raja Suwarnabhumi dalam tahun 1373 mengirimkan utusan ke Cina tanpa seizin raja Jawa. Tentu saja pengiriman utasan itu dipandang oleh raja Jawa sebagai pelanggaran terhadap status negara Suwarnabhumi yang sebenarnya menjadi bawahan raja Jawa Majapahit (Groeneveldt 1960 : 69, Muljana 1979 : 142).

Raja Jawa yang dimaksudkan menurut berita Cina itu tentunya raja Majapahit, karena kerajaan itulah yang mempunyai armada laut mengesankan dalam abad ke-14 di kepulauan Nusantara. Menilik angka tahun 1377 waktu tentara Jawa menyerang Suwarnnabhumi, maka dapat dipastikan bahwa yang menjadi raja di Majapahit adalah Hayam Wuruk, karena berdasarkan berbagai sumber tertulis dapat diketahui bahwa raja tersebut memerintah antara tahun 1351-1389 M. Mengenai daerah mana yang diserang oleh tentara Majapahit tersebut, memang tidak dapat diketahui dengan pasti, tetapi ada kemungkinan adalah Kerajaan Sriwijaya di masa senjanya yang berkedudukan Palembang. Dalam berbagai sumber tertulis lokal, berita Cina, dan juga folklore setempat dinyatakan bahwa satu-satu daerah di Sumatra yang akrab dengan kekuasaan Cina adalah Palembang.

Sriwijaya disebut oleh orang-orang Cina dengan Che-li-fo-tsi atau Co-ye. Setelah Sriwijaya runtuh, lama sekali bekas kota Sriwijaya itu dibiarkan tidak mempunyai raja. Para bajak laut Cina sempat berkuasa lama di bekas kota Sriwijaya hingga pada awal abad ke-15 ketika Majapahit sedang mengalami konflik internal, datanglah armada Cina ke bekas kota Sriwijaya untuk memulihkan keadaan. Kemudian mulai tahun 1408 berdirilah sistem pemerintahan baru yang dipimpin oleh orang-orang Cina, kota itu disebut dengan Kyu-kang (Ku-kang), verita Cina lainnya ada yang sudah menamakannya dengan Fa-ri-fong (Palembang) (Boedenani 1976 : 61). Demikianlah maka yang dimaksud dengan penyerbuan tentara Jawa ke Suwarnabhumi, adalah penyerangan tentara Majapahit terhadap kerajaan tua Sriwijaya yang pada waktu itu telah lemah dan banyak berkiblat kepada Cina.

Kejayaan bala tentara Majapahit yang menaklukkan daerah-daerah di luar Jawa juga dicatat oleh Sejarah Melayu. Menurut sumber tersebut tentara Majapahit berhasil mengalahkan Tumasik karena adanya penghianatan salah seorang pembesar Tumasik yang bernama Rajuna Tapa. Berkat peranan Rajuna Tapa itulah tentara Majapahit dengan mudah merebut Tumasik, karena kelemahan-kelemahan Tumasik dapat dimanfaatkan oleh tentara Majapahit. Setelah peperangan usai, dan Tumasik mengakui kewibawaan Majapahit, Rajuna Tapa mendapat kutukan negeri, ia berubah menjadi Batu di tepi sebuah kali di Singapura, rumahnya roboh, dan beras simpanannya menjadi tanah (Muljana1979 : 143).

Berita dari Sejarah Melayu itu menjadi bukti bahwa Sumpah Palapa Gajah Mada memang benar-benar dilaksanakan oleh Majapahit, sebab salah satu daerah Nusantara yang diucapkan Gajah Mada dalam sumpahnya dan yang harus ditaklukkannya adalah Tumasik. Mungkin sekali sejak abad ke-14 Tumasik telah menjadi daerah yang strategis bagi jalur laut yang melalui Selat Malaka ke Laut Cina Selatan dan sebaliknya, oleh karena itu Gajah Mada berpikiran harus dikuasai Majapahit. Terbukti ratusan tahun kemudian, setelah berganti-ganti penguasa Tumasik menjelma menjadi negara-kota yang jaya, yaitu Singapura.

Di wilayah Sumatra bagian utara terdapat beberapa lokasi yang mengala kepada tafsiran bahwa tentara Majapahit waktu menyerang daerah Pasai dipimpin langsung oleh Patih Amangkubhumi Gajah Mada.Dongeng yang beredar di kalangan penduduk setempat menyatakan bahwa sebuah bukit di dekat kota Langsa bernama Manjak Pahit, berasal dari kata Majapahit. Menurut cerita rakyyat setempat tentara Majapahit membuat kubu dan perkemahan di area bukit tersebut sebelum menyerbu kota Tamiang. Rawa yang membentang antara Perlak dan Peudadawa dinamakan penduduk dengan Rawa Gajah, konon nama itu berasal dari nama Gajah Mada. Sang Patih beserta tentara Majapahit pernah memintasi rawa tersebut dalam perjalanan menuju Lhokseumawe dan Lambu air. Di seberang rawa, di daerah pedalaman terdapat Bukit Gajah, dinamakan seperti itu karena setelah perahu-perahun tentara Majapahit itu mendarat di seberang rawa, mereka segera bergerak langsung menuju Bukit Gajah dipimpin oleh Gajah Mada. Adapun bukit yang ada di dekatnya dinamakan Meunta, pengubahan pengucapan dari Mada. Di tempat itulah Patih Mada berkemah mengatur strategi untuk menyerang Pasai. Nama-nama tempat itu berhubungan dengan Majapahit dan Gajah Mada, maka ada kemungkinan penaklukkan Pasai oleh bala tentara Majapahit dalam tahun 1350 dipimpin langsung oleh Mahapatih Gajah Mada (Muljana 1979 : 144). Demikian beberapa sumber tradisi yang terdapat di Sumatra yang masih dikenal hingga sekarang, sumber-sumber tersebut menjelaskan toponimi suatu lokasi yang berhubungan dengan Majapahit atau Gajah Mada. Tentu saja hal itu akan mengingatkan orang bahwa di masa silam pernah ada serangan tentara Majapahit melalu laut yang dipimpin langsung oleh Gajah Mada.

Majapahit juga mengarahkan armada militernya ke pulau-pulau sebelah timur Bali, yaitu Pulau Sumbawa dan pulau lainnya. Peristiwa penyerangan ke Dompo dalam Pararaton disebut Padompo terjadi dalam tahun 1357, setelah meletusnya peristiwa Bubat. Menurut karya historiografi lokal disebutkan adanya kedatangan tokoh cerita wayang yang berasal dari Jawa, yaitu sang Bima dan saudara Pandawa lainnya. Karya itu berjudul “Cerita Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-dewa” dan Hikayat Sang Bima yang telah dialihaksarakan dan diterjemahkan oleh Henri-Chambert-Loir (2004). Uraian kisahnya pun telah dilingkupi dengan berbagai mitos, legenda, dongeng, dan mungkin juga peristiwa sejarah sezaman ketika naskah itu pertama kali digubah dalam abad ke-17 dan 19 (Chambert-Loir 2004: 7)

Henri Chambert-Loir pernah menyatakan bahwa pemberian nama daerah Bima kepada wilayah di timur Dompo di daerah Sumbawa timur itu agaknya diberikan oleh orang asing (sangat mungkin orang Jawa), tidak diketahui alasan orang asing tersebut memberikan nama Bima kepada daerah tersebut, karena penduduk asli sendiri menamakannya dengan Mbojo, untuk “bahasa Bima” disebut dengan nggahi Mbojo dan “orang Bima” disebut doü Mbojo. “Barangkali nama tersebut patut dibubungkan dengan kultus tokoh Bima yang berkembang di Jawa Timur pada akhir Jaman Majapahit”, demikian menurut Chambert-loir (2004 : 69).

Adanya kemungkinan serangan orang-orang Jawa dari Majapahit terhadap daerah Dompo dan Bima ternyata mendapat dukungan dari berbagai tinggalan arkeologis. Selain adanya arca-arca yang bersifat Hindu-saiwa, di daerah tersebut terdapat juga dua prasasti singkat yang dinamakan oleh penduduk dengan Wadu Pa’a (batu pahat) dan Wadu Tunti (batu bertulis). Prasasti Wadu Tunti diperkirakan oleh para ahli berasal dari abad ke-14 M, selain prasasti singkat juga dipahatkan 4 figur relief rendah yang salah satunya menggambarkan Siwa Mahadewa. Adapun Prasasti Wadu Pa’a mempunyai banyak ciri, prasasti tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-6 s.d 7 M karena mengandung beberapa ciri prasasti Sriwijaya, tetapi juga menyimpan ciri prasasti Bali abad ke-11, namun ada juga sebagian karakter yang mirip dengan prasasti-prasasti Jawa Timur dari sekitar tahun 1371 M (Chambert-loir 2004 : 67-69). Kesimpulan yang dapat ditarik dari berita adanya serangan Majapahit ke Dompo dan juga berdasarkan temuan arca-arca serta prasasti yang bercirikan kronologi lebih tua daripada zaman Majapahit adalah bahwa di daerah Dompo telah berkembang kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha. Kerajaan itu agaknya telah lama berkembang dan pengaruhnya dirasakan mengganggu armada dagang Majapahit ke wilayah Nusantara timur, karena itulah perlu segera ditaklukkan oleh tentara Majapahit. Pada waktu serangan tentara Majapahit ke Dompo tersebut, pusat kekuasaan di Bima belum lagi ada, karenanya baik Pararaton maupun Nagarakrtagama menyatakan adanya serangan Majapahit ke Dompo, bukan ke Bima. Setelah Dompo jatuh tentara Majapahit dengan dibantu oleh penduduk setempat yang masih diketuai oleh para ketua adat lalu mendirikan pemukiman baru yang kelak dinamakan dengan Bima. Pemukiman baru itu sengaja didirikan untuk menjaga kelanggengan pengaruh Majapahit di Sumbawa; andaikata Dompo hendak memberontak lagi, maka anak keturunan bangsawan Majapahit dan tentara Majapahit yang telah kawin-mawin dengan penduduk setempat di Bima dapat segera menggempur Dompo kembali.

Dompo disebutkan dalam kakawin Nagarakrtagama pupuh 72, dengan menyatakan bahwa Hayam Wuruk menunjuk pejabat tinggi Tumenggung Wiramandalika untuk urusan mancanagara bernama Pu Nala. Ia adalah orang yang pemberani, pengabdi raja setia, sering mengadakan perjalanan muhibah antara lain ke Dompo (Pigeaud 1960, III : 84). Peristiwa ini disebutkan setelah Gajah Mada Meninggal tahun 1286 S/1364 M, jadi memang Pu Nala ditunjuk oleh Hayam Wuruk untuk menggantikan peranan Gajah Mada dalam bidang “menteri luar negeri” yang bertugas mengelola hubungan dengan daerah-daerah kekuasaan Majapahit di luar Jawa timur (Nusantara). Pu Nala sendiri sebagaimana yang dinyatakan dalam Nagarakrtagama ialah orang yang sering mengadakan perjalanan muhibah ke luar Jawa, antara lain dalam melakukan serangan terhadap Dompo, jadi Pu Nala bukan pemimpin utama penyerangan terhadap Dompo, melainkan salah seorang laksamana Majapahit yang turut serta dalam ekspedisi tersebut. Lalu siapa gerangan laksamana utama yang merancang untuk menaklukkan Dompo ?, sebagaimana telah dikemukakan terdahulu, tokoh itu tidak lain adalah Gajah Mada sendiri. Gajah Madalah yang memimpin langsung armada Majapahit untuk menaklukkan negeri-negeri jauh ke arah matahari hidup. Dalam Pararaton disebutkan bahwa dalam tahun yang sama dengan Pasunda-Bubat yaitu tahun 1357 M, terjadi pula Padompo (ekspedisi ke Dompo) (Hardjowardojo 1965 : 53). Demikianlah setelah Dompo ditaklukkan tahun 1357, dan Bima didirikan pada tahun-tahun kemudiannya, kakawin Nagarakrtagama yang selesai digubah oleh Mpu Prapanca dalam tahun 1365 M pupuh 14 : 3 menyatakan sebagai berikut;

“sawetan ikanang tanah jawa muwah ya warnanen ri bali makamukya tan badahulu mwang i lwagajah gurun, makamukya sukun/ri taliwang ri dompo sape ri sanghyang api, bima , seram i hutan kadaly apupul”

(“Di sebelah timur Tanah Jawa, termasuk daerah-daerah di Bali, terutama wilayah Badahulu dan Lwa Gajah, Gurun, daerah penting Sukun di Taliwang, Dompo, Sape, Sanghyang Api (Gunung Tambora), Bima, Seram, Hutan Kadali, semuanya bersatu [di bawah panji-panji Majapahit]”).

Maka dapatlah disimpulkan bahwa ekspedisi armada Majapahit ke Dompo berhasil dengan dengan baik, orang-orang Majapahit kemudian mendirikan nagara Bima, dan para pembesar ekspedisi tersebut lalu kembali ke Majapahit termasuk Gajah Mada dan Pu Nala. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, dapat diketahui berbagai sebab sehingga Majapahit walaupun bertumpu kepada aktivitas agraris, tetapi juga mengembangkan perhatiannya kepada dunia maritim. Beberapa alasan internal sehingga Majapahit mengembangkan wawasannya hingga ke luar Jawa (timur) dan didukung dengan aktivitas kemaritiman yang meluas :
1. Konsep keagamaan masa Majapahit telah memadukan ajaran Hindu-saiva dan Buddha Mahayana. Agaknya ajaran Buddha yang menempatkan benua Jambhudwipa di selatan Gunung Mahameru telah membantu membuka wawasan bahwa ada benua-benua lain di sekitar Mahameru (barat, utara, dan selatan) yang harus dikunjungi para pemeluk Buddha (dikenal adanya Buddha Dipaŋkara yang dipuja oleh para pelaut untuk meredakan gelombang dan badai besar di lautan).

2. Majapahit melanjutkan politik Dwipantara yang telah digagas oleh Krtanagara namun diperbaharui lagi oleh Gajah Mada dengan Sumpah Palapanya.

3. Mempunyai pejabat tinggi yang mendukung aktivitas kemaritiman, semisal Gajah Mada dan Pu Nala. Kenyataan yang menarik adalah apabila Hayam Wuruk menurut Nagarakrtagama kerapkali melakukan perjalanan darat berkeliling Jawa bagian timur sebagai daerah inti Majapahit, maka terdapat sejumlah data yang dapat ditafsirkan bahwa Gajah Mada melakukannya di laut. Gajah Mada sangat mungkin seringkali melakukan perjalanan laut ke berbagai wilayah Nusantara untuk membuktikan isi Sumpah Palapanya.

Dalam pada itu terdapat beberapa faktor luar sehingga memaksa Majapahit mengembangkan kekuatan maritimnya :
1. Meningkatnya perhubungan laut di Asia Selatan dan timur, jalur laut tradisional antara Arab, India, dan Cina semakin ramai dilalui para niagawan untuk melakukan transaksi barang dagangannya, akibatnya

2. Meningkatnya perdagangan laut di kawasan Asia Tenggara, karena di kawasan tersebut berdiri beberapa kerajaan besar yang mempunyai wilayah kekuasaan cukup luas.

3. Semakin banyaknya kapal-kapal layar dari pulau-pulau Nusantara dan luar Nusantara yang berlabuh di bandar-bandar Majapahit, seperti di Tuban, Lasem, Gresik, dan Ujung Galuh (Surabaya) membawa kesadaran akan adanya wilayah-wilayah lain di luar Jawa yang juga harus dikuasai oleh Majapahit

Perkara yang secara logis mudah diduga adalah perihal kapal layar atau perahu besar zaman Majapahit yang menjadi armada laut kerajaan tersebut. Sudah pasti Majapahit memiliki banyak perahu besar kecil, kapal layar, jung perang lainnya mengingat pengaruhnya yang menyebar ke seluruh Nusantara, namun hingga kini perahu atau kapal layar itu belum dapat diketahui bentuknya secara pasti. Kesulitan untuk mengungkap bentuk perahu/kapal layar zaman Majapahit tersebut disebabkan adanya keterbatasan data, antara lain :
1. Tidak ada penggambaran relief candi yang cukup memadai perihal perahu besar/kapal layar zaman Majapahit. Hanya ada satu-satu relief ”kapal” yang penggambarannya samar-samar, adapun relief perahu menunjukkan sampan kecil yang dapat dimuati oleh 2 orang. Relief-relief tersebut terdapat di kompleks Candi Panataran.

2. Sumber-sumber tertulis (prasasti dan karya sastra) yang digubah zaman Majapahit lebih banyak menguraikan dunia daratan, hutan, pegunungan, lereng berhutan, istana dan pertapaan, jadi tidak ada yang bertutur tentang dunia pelayaran di laut.

3. Belum banyak tinggalan arkeologis yang merupakan sisa perahu besar atau kapal layar zaman Majapahit.

Data butir 1 dan 2 yang memang sangat terbatas sangat mungkin dikarenakan :
1. Masyarakat sezaman tidak perlu lagi menggambarkan bentuk perahu/kapal layar, karena memang masa itu bentuk dan ukurannya merupakan pengetahuan sehari-hari yang sudah umum, karena itu penggambaran relief perahu Majapahit di candi-candi menjadi langka.

2. Dalam karya sastra yang perlu dinarasikan adalah peristiwa aktivitas tokoh-tokoh di daratan dalam upaya menegakkan kebenaran, melaksananakan ajaran keagamaan atau upaya mencari hakekat yang tertinggi, dan biasanya bertapa di hutan-hutan di lereng gunung simbol Mahameru.

3. Perahu atau kapal layar menggunakan bahan kayu, sehingga sangat mungkin banyak sisa kapal layar zaman Majapahit telah lapuk dan hancur termakan usia sehingga sukar dilacak lagi keberadaannya.

Berikut dikutipkan beberapa karya sastra sezaman atau sedikit lebih muda yang disusun di daerah pantai utara Jawa Timur (Lasem) dan yang digubah di luar Pulau Jawa. Berdasarkan uraiannya dapat diketahui karya sastra tersebut mengacu kepada setting sejarah Majapahit, namun tidak digubah oleh para pujangga besar Majapahit atau anonim; oleh karena itu disebut saja karya sastra minor masa Majapahit.

Uraian karya-karya sastra minor itu ada yang menyinggung tentang perahu layar atau perahu yang dipergunakan era Majapahit. Diharapkan berdasarkan kutipan-kutipan karya sastra minor yang belum banyak dieksplorasi informasinya tentang perahu, dapat dihipotesakan bentuk–bentuk perahu atau kapal kayu yang dipergunakan dalam zaman itu.

Carita Lasem:
”Dhek nalika taun Syaka 1273 sing dadi Ratu aneng Lasem iku asma Dewi Indu, adhik nakdulur misane Prabu Hayam Wuruk ing Wilwatikta..... Para kawula ing Lasem nganti marabi asma Dewi Purnamawulan. Garwane asma Pangeran Rajasawardana, dadi Dhang Puhawang Wilwatika, nguwasani jung-jung peranging plabuhan Kaeringan lan plabuhan Regol ing Lasem...” (Carita Lasem 1920: 10).

Menurut Carita Lasem yang berbahasa Jawa Tengahan, di pelabuhan Lasem dalam tahun 1273 Saka/1351 M banyak bersandar jung-jung perang yang merupakan bagian armada tempur Majapahit. Adapun yang menjadi laksamananya adalah Rajasawardana suami Rani Lasem Dewi Indu.

Sedikit informasi tersebut tetap harus diperhatikan untuk menyusun data perahu/kapal masa Majapahit. Babad Dalem dari Bali mempunyai informasi pula perihal perahu zaman Majapahit, dinyatakannya sebagai berikut:
”Dikisahkan perjalanan utusan (Majapahit) itu dengan menumpang perahu layar dari Bubat, menyalakan lampu menuju Telagorung, melewati Pajarakan ke selatan menuju Pulwayam menyusuri Selat Bali. Tampak pantai Kapurancak...” (Rai Putra 1995: 13).

Informasi yang didapat dari kutipan tersebut adalah adalah perahu layar yang berlampu dalam zaman Majapahit dapat berlayar dari Bubat, artinya menyusuri Sungai Berantas menuju Selat Madura, membelok ke selatan memasuki Selat Bali dan menuju pantai Bali selatan. Perahu dari Majapahit itu sebenarnya sedang menuju ke Samprangan yang dewasa itu menjadi ibu kota Bali dibawah pengaruh Majapahit.

Bagian lain dalam Babad Dalem menyatakan bahwa ketika Raja Bali Smara Kapakisan diundang oleh Hayam Wuruk ke istana Majapahit, maka :
”Dikisahkan raja Bali dalam perjalanan itu menggunakan perahu layar yang dihias dengan tumbuh-tumbuhan melata, meniru hiasan dewa asmara. Setelah itu beliau beliau yang berlayar dalam dua perahu ibarat bunga teratai yang indah, tiang panji-panjinya dihias dengan permata indah bermacam ragam. Kryan Patandakan berlayar di depan raja dengan perahu berwarna putih di sana-sini, Kryan Kubon Tubuh sebagaimana biasa menggunakan perahu berwarna hitam, para mentri yang lain menggunakan perahu sebagai masa-masa lampau, berturut-turut perahunya merupakan iring-iringan” (Rai Putra 1995: 23-24)

Dari kutipan tersebut dapat diketahui bahwa terdapat bermacam peringkat perahu, ada yang milik raja, mentri utama yang pengawal raja (berwarna putih), perahu pengawal yang tentunya jung perang (berwarna hitam), dan perahu-perahu para pejabat tinggi lainnya. Perahu layar raja Bali dan pengiringnya sangat mungkin di bagian depannya dihias dengan figur bentuk makara, sebagaimana yang dikenal hingga sekarang pada perahu-perahu nelayan Bali.

Makara adalah binatang mitos berkepala ikan, namun berbelalai seperti gajah, oleh karena itu dalam kebudayaan India dinamakan dengan Gaja-mina. Perahu-perahu itu menurut Babad Dalem, berlayar sangat cepat di laut dan lincah dikendalikan (Rai Putra 1995 : 24).

Dalam uraian Kisah Panji (Angreni) Palembang dinyatakan bahwa setelah Dewi Angreni dibunuh atas perintah raja Koripan, jenazahnya dibawa oleh suaminya Raden Panji untuk berlayar ke laut. Panji seperti hilang ingatan dan mengganggap Dewi Angreni masih hidup dan akan dihiburnya dengan bercengkerama dengan perahu di laut. ”Achirnja ia (Pandji) berkata kepada saudara-saudaranja : ’Kalau kalian kasihan kepadaku, ikutilah aku kemana aku pergi’. Saudara-saudaranja berdjandji. ’Sekarang aku hendak bersampan-sampan’, kata Pandji meneruskan, ’berilah aku perahu’. Prasanta memerintahkan mempersiapkan perahunja jang bernama Indrajala dan memuatinja dengan 600 orang pengajuh. Perahu jang sebuah lagi bernama Djaladara, dengan 400 orang pengajuh. Kedua perahu itu dipersiapkan untuk menempuh laut (Poerbatjaraka 1968: 186).

Kisah Panji diciptakan dan disebarkan dalam zaman Majapahit, oleh karena itu informasi yang terkandung di dalamnya sezaman dengan perkembangan kerajaan itu. Berdasarkan kutipan tersebut dapat diketahui adanya kapal kayu besar yang bisa memuat 600 dan 400 orang pengayuh sekaligus. Walaupun cerita Panji adalah kisah rekaan, namun situasi zaman, kehidupan sosial-budaya, bahkan inti ceritanya bersandarkan pada peristiwa sejarah yang pernah terjadi dalam zaman Majapahit (Munandar 2005). Oleh karena itu berita tentang adanya kapal kayu besar dalam era Manjapahit agaknya dapat dipercaya.

Dalam kisah Panji Angreni selanjutnya diuraikan bahwa rombongan perahu Raden Panji, saudara-saudara, para pengiring dan pengawalnya akhirnya diamuk badai, sebagian besar perahu kecil milik rakyat dan pengiring Raden Panji pecah dan tenggelam, hanya kedua kapal besar itu saja yang bertahan dan terdampar di Pulau Bali (Poerbatjaraka 1968: 187).

Karya sastra lainnya adalah Hikayat Sang Bima digubah oleh seorang dalang yang bernama Wisamarta ialah ”seorang-orang Melayu (yang) datang ke Bima”. Ia memutuskan untuk menulis karya tersebut berdasarkan sebuah cerita setempat dengan tujuan menghibur hati dan menceritakan asal-usul kerajaan Bima ”supaya tahu segala yang belum tahu dan supaya dengar segala yang belum mendengar (Chambert-Loir 2004: 143).

Dalam karya sastra itu disebutkan bahwa Sang Bima (sebenarnya metafora bangsawan Majapahit) beserta adik-adiknya meminta izin kepada Sang Nata di paseban untuk menyerang lawan ke arah matahari hidup (timur) agar termasyur, sebab seluruh Tanah Jawa telah ditaklukkan.
”...tetapi jikalau demikian baiklah kita membawa rakyat Jawa ini supaya kita suruh berbuat perahu akan kenaikan kita. Maka dikerahkan rakyat Jawa itu berbuat jung dan gurab dan pelang dan knt...[teks tidak dapat dibaca] beberapa ratus, dan kenaikan baginda empat bersaudara sebuah seorang gurab, panjangnya 30 depa, bukanya 15 depa. Maka beberapa lamanya baginda menyuruh berbuat perahu, maka sudahlah segala perahu itu dengan segala kelengkapannya” (Chambert-Loir 2004 : 217).

Berdasarkan kutipan tersebut dapat dapat diketahui bahwa ada perahu Jawa (Majapahit) yang disebut gurab panjangnya 30 depa dan lebarnya 15 depa. Ada pula jenis perahu lainnya yaitu jung dan pelang.

Dalam pada itu Hikayat Banjar menyatakan bahwa ketika Negara-Dipa telah berdiri maka dan telah makmur maka banyak pedagang yang datang berniaga di pelabuhannya. Kemudian sang raja berkata: ”Sudah kita berbuat nagri sandiri, manurut tahta astilah tjara nagri Majapahit. Maka pakaian kita samuanja pakaian tjara orang Djawa. Maka chabar tjarita orang tuha-tuha dahulu-dahulu kala: manakala orang nagri itu manurut pakaian orang nagri lain nistjaja datangnya sangsara” (Ras 1968 : 264).

Mengenai perahu orang-orang Nagara-Dipa itu dinyatakan : ”Maka Aria Magatsari mahalukan ke palabuhan itu lawan parahu tanggahan namanja si Tjarang Padap. Panjangnja sapuluh depa, Andjil-andjilnja kumbala radjasa, barkakitir amas bertirai amas. Sulanja basi malila. Pabalahnja barkajuh ampat puluh. Parahu itu dikajuh tangkasnja saparti burung tarbang rupanja. Tubuh parahu itu bartulis galuga pahul dan air mas” (Ras 1968 : 260).

Demikianlah gambaran perahu Nagara-Dipa yang meneruskan cara dan tradisi Majapahit, perahu itu panjangnya 10 depa, haluannya yang membelah air dilapis baja hitam yang awet, tombak di haluan dari besi kuat, berbendera kecil-kecil kain emas, bertirai kain emas mempunyai kayuh 40, tubuh perahu diwarnai merah gelap, biru terang, dan warna emas.

Beberapa kutipan karya sastra minor masa Majapahit tersebut kiranya dapat membantu untuk sekedar membayangkan bagaimana dunia perkapalan dalam zaman Majapahit menurut sumber-sumber lokal sendiri. ”Karya sastra minor” itu dihasilkan di daerah-daerah yang mendapat pengaruh kuat kebudayaan Majapahit, sebelum banyaknya orang-orang Barat berkunjung ke pelabuhan-pelabuhan Nusantara. Pada akhirnya diperoleh beberapa butir pemahaman mengenai perahu/kapal layar hasil interpretasi dari karya sastra minor Majapahit. Pemahaman itu antara lain adalah :
1. Banyak jenis perahu layar yang dikenal dalam era Majapahit, perahu yang jelas berlabuh di pelabuhan Kaeringan dan Regol di Lasem adalah jung-jung perang (Carita Lasem); kemudian ada jenis perahu gurab, pelang, jukung, dan lainnya (Hikayat sang Bima & Hikayat Banjar).

2. Ukurannya perahu bermacam-macam, berdasarkan relief Candi Panataran ada yang berupa sampan yang hanya dikayuh oleh 2 orang agaknya untuk menyusuri kali atau memintas sungai. Ada pula yang berukuran panjang 30 depa dan lebar 15 depa (Hikayat sang Bima), serta ada perahu yangberukuran 10 depa (Hikayat Banjar).

3. Hampir semua karya sastra menyatakan bahwa perahu/kapal-kapal Majapahit itu mempunyai layar (tidak dijelaskan bertiang tunggal atau ganda) (Babad Dalem, Hikayat sang Bima, Hikayat Banjar, Kisah Panji Angreni Palembang, dan Carita Lasem)

4. Kayuh yang dipasang ada yang berjumlah 40 pengayuh (Hikayat Banjar), namun ada pula yang mempunyai 400 sampai 600 pengayuh dalam 1 kapal layar besar (Kisah Panji Angreni Palembang)

5. Mempunyai perlengkapan kapal yang memadai seperti lampu, senjata, tombak di haluan, haluan yang dilapis baja, rumah kapal, dapur, dan gudang (Babad Dalem, Hikayat sang Bima, dan Hikayat Banjar)

6. Perahu/kapal layar itu melaju dengan cepat, tangkas dan mudah dikemudikan
(Babad Dalem & Hikayat Banjar).

7. Kapal layar besar dan penting mempunyai nama yang mengesankan. Dalam Kisah Panji Angreni kedua kapal layar Panji dan para pengiringnya dinamakan dengan Indrajala (raja/penguasa air), Jaladara (menyerupai air atau ”menyatu dengan air”), dalam Hikayat Banjar ada kapal yang dinamakan Tjarang Padap. Perahu/Kapal layar dihias dengan berbagai ornamen melata, ukiran bermacam, tiang utama di lapisi gading, layar putih tinggi, mempunyai payung kebesaran, itulah perahu milik penguasa Bali (Babad Dalem). Hampir semua karya sastra
menyebutkan bahwa dalam kapal itu dilengkapi dengan iringan musik gamelan. Kapal mempunyai warna berbeda, jung perang berwarna hitam, kapal layar lainnya ada yang putih, merah gelap, dan biru-terang.

Beberapa pemahaman tentang perahu/kapal layar zaman Majapahit tersebut didokumentasikan oleh orang-orang yang berada di luar lingkaran inti wilayah Majapahit, seperti Lasem, Bali, Bima, Palembang, dan Banjar, dengan demikian apa yang dideskripsikan mungkin lugas dan netral. Sosok kapal layar Majapahit dinarasikan apa adanya, namun memang tidak ada karya sastra yang memerikan secara lengkap sehingga diperoleh gambaran yang komplit tentang wujud kapal layar Majapahit. Bagaimana pun diharapkan kapal layar Majapahit itu dapat direkonstruksi melalui serpihan data yang ada dari berbagai sumber.

Hal yang menarik adalah adanya penggambaran relief satu-satunya dari kapal layar Majapahit di kompleks Candi Panataran, jadi dapat dipastikan otentik dari masanya. Dalam relief tersebut dipahatkan kapal layar besar, mempunyai rumah kapal di tengah, namun bertiang kaki dua yang menyatu di bagian tengah hingga puncaknya. Kedua kaki tiang itu ditancapkan di bagian tepian dek tengah kapal lalu menyatu menjadi tiang tunggal di bagian atas rumah kapal. Apakah konstruksi kapal dengan tiang layar berkaki dua itu memungkinkan?, ataukah hanya gambaran kisah yang berbau mitos saja, sebab relief itu dipahatkan di kompleks bangunan keagamaan.



Kepustakaan :
Boedenani, H., 1976. Sejarah Sriwijaya. Bandung : Tarate.
Chambert-Loir, Henri, 2004. Kerajaan Bima Dalam Sastra dan Sejarah: Cerita Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-dewa, Hikayat Sang Bima, Syair Kerajaan Bima. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia & École
française d’Extrême-Orient.
Damais, Louis-Charles, 1970. Répertoire Onomastique de L’Epigraphie Javanaise (Jusqu’a Pu Sindok Śrī Iśānawikrama Dharmmotuŋgadewa). Paris: École Française D’Extrême-Orient.
Groeneveldt, W.P.,1960. Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources. Djakarta: Bhratara.
-------------, 2009. Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Terjemahan dari judul asli: Notes on The Malay Archipelago and Mallaca Compiled from Chinese Sources. Depok: Komunitas Bambu.
Groslier, Bernard Philippe, 2002. Indocina Persilangan Kebudayaan. Penerjemah Ida Sundari Hoesen. Jakarta-Paris: Kepustakaan Populer Gramedia, École française d’Extrême-Orient, Pusat Penelitian Arkeologi.
Hall, D.G.E., 1988. Sejarah Asia Tenggara. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh I.P.Soewarsha. Surabaya: Usaha Nasional.
Hardjowardojo, Pitono, 1965. Pararaton. Djakarta: Bhratara.
Muljana, Slamet, 1979. Nagarakrtagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara Karya Aksara
Munandar, Agus Aris, 1986, ”Prasasti Mula-Malurung: Pelengkap Sejarah Kerajaan Singhasari”, dalam Buku IIa Aspek Sosial Budaya, Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV, Cipanas, 3—9 Maret 1986. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Halaman 1-24.
-------------, 2005. “Bingkai Sejarah yang Menjadi Acuan Kisah Panji”, makalah
dalam Seminar Internasional Jawa Kuna: Mengenang Jasa-jasa Prof.Dr.P.J.Zoetmulder S.J. Kajian Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Kuna. Diselenggarakan oleh Program Studi Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok 8—9 Juli
Padmapuspita, Ki J., 1966. Pararaton: Teks Bahasa Kawi Terdjemahan Bahasa Indonesia. Jogjakarta: Penerbit Taman Siswa.
Panji Kamzah, R. & Panji Karsono, 1920. Carita (Sejarah) Lasem. Semarang: Pambabar Pustaka.
Pigeaud, Theodore G.Th., 1960—63, Java in The 14th Century A Study in Cultural History: The Nagara kertagama By Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 AD. Volume I—V. The Hague: Martinus Nijhoff.
Rai Putra, I.B., 1995. Babad Dalem. Denpasar: Upada Sastra.
Rass, J.J., 1968. Hikayat Bandjar: A Study in Malay Historiography. The Hague: Martinus Nijhoff.
Sumadio, Bambang (Penyunting jilid), 1984. Sejarah Nasional Indonesia II: Jaman Kuna. Jakarta: Balai Pustaka.
Yamin, H.M., 1962. Tatanegara Majapahit II. Risalah Sapta Parwa. Djakarta: Prapantja.
---------, 1977. Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara. Jakarta: Balai Pustaka.
Zoetmulder, P.J. & S.O.Robson, 1995. Kamus Jawa Kuna-Indonesia I. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Sumber Tulisan :
http://ariesgoblog.files.wordpress.com/2010/01/agus-arismunandar-majapahit-ker_-agraris-maritim.pdf

Kamis, 04 Maret 2010

Mempercepat Startup Windows Vista

Bermasalah dengan startup Windows Vista kita yang terasa lambat? Cara dibawah ini mungkin bisa dicoba :

- Start

- Run

- Di kotak Run kita ketik Prefetch

- Ctrl + A (Select All)

- Klik kanan dan pilih Delete

- Lalu tutup explorer Prefetch

Sejak era Windows XP MicroSoft menggunakan sebuah mekanisme yang disebut dengan Prefetch untuk meningkatkan kinerja sistem ketika startup.

Prefetch itu sendiri adalah sebuah folder yang terletak di direktori Windows dan terkadang jika komputer kita agak lambat ketika startupnya maka ada kemungkinan folder Prefetch tersebut penuh dengan file2 yg mengganggu

Sumber
http://rifqitaek.dagdigdug.com/

Cara Meningkatkan Keamanan PC

Meningkatkan Keamanan PC Banyak hal menjengkelkan yang bisa terjadi pada komputer temen2. Misalnya ada orang yang baik sengaja atau pun tidak sengaja menghapus file-file penting temen2. Atau merubah berbagai konfigurasi pada Windows. Selain itu bisa saja orang lain melihat file-file temen2 yang bersifat rahasia. Kejadian seperti itu sangat mungkin terjadi bila komputer temen2 merupakan komputer “umum”. Maksudnya banyak orang lain yang turut memakai, misalnya adik atau saudara. Ingat, seorang pemula (dalam hal komputer) biasanya sangat senang mencoba-coba segala sesuatu pada komputer. Nah, untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan yang terjadi pada computer. Temen2 bisa mencoba berbagai langkah berikut ini :


1. Password BIOS

Pertama kali temen2 mesti membuat password pada BIOS temen2. Mengapa ? Karena pada BIOS ini terdapat fasilitas untuk meng-enable dan men-disable beberapa sumber daya komputer kita. Walaupun ada cara yang mudah untuk menembus password ini, tapi setidaknya ini akan memperlambat sang pencuri leptop cipluan juga di pasword pakai bios biar yang yolong ga bisa jebol. hohoohoho

2. Pastikan booting hanya dari harddisk.
Pada BIOS temen2, pastikan setting untuk booting hanya dari harddisk. Dengan kata lain disable fasilitas booting dari floopy disk, CD-ROM, atau media lainnya.

3. Men-disable Boot Key
Maksudnya adalah mencegah penekanan tombol F8 dan F5 selama booting. Dengan menekan F8 maka akan muncul start-up menu. Cara mendisablenya: Bukalah file msdos.sys yang terletak pada direktori utama (C:\) dengan Notepad. Lalu gantilah Bootkeys=1 menjadi Bootkeys=0.

4. Menyembunyikan icon pada Control Panel

Pada Control Panel terdapat berbagai fasilitas untuk melakukan setting/konfigurasi pada komputer temen2. Misalnya setting tentang password, printer, desktop themes, dll. Nah bila temen2 tidak ingin ada orang lain yang ingin mengganti setting komputer temen2, temen2 bisa melakukan aksi berikut, yakni menyembunyikan berbagai icon pada Control Panel. Caranya, pertama buka file control.ini yang terdapat pada folder: c:\windows\control.ini (bila folder windows temen2 bernama lain, silahkan disesuaikan). Lalu di bawah bagian [don't load] silahkan masukkan fasilitas yang tidak ingin temen2 tampilkan. Misalnya untuk menyembunyikan icon password silahkan tulis: “password.cpl=no”. Untuk menyembunyikan icon Desktop Setting, tulis “desk.ini=no”, dan seterusnya. Untuk melihat daftar file *.cpl bisa temen2 lihat di c:\windows\system.

5. Proteksi dengan Software

Proteksi dengan software bisa bermacam-macam bentuknya. Pertama enkripsi. Dengan melakukan enkripsi (penyandian) orang lain akan kesulitan untuk membuka file yang di-enkripsi. Pada waktu melakukan enkripsi kita diharuskan untuk memasukkan password, yang mana password tersebut jugaakan digunakan untuk melakukan dekripsi. Dengan begitu orang yang tidak tahu passwordnya tidak akan bisa membuka file tersebut dan tidak akan tahu isinya. Contoh software yang digunakan untuk melakukan enkripsi adalah Cryptext, PGP, dll. Selain dengan enkripsi ada cara lain untuk mengamankan file-file kita, yaitu dengan menggunakan software Win-Secure It dan Folder Guard. Dengan software tersebut kita bisa menyembunyikan file/folder, mencegah eksekusi program, mencegah penghapusan (delete), dll. File yang sudah disembunyikan (hidden) tidak akan terlihat pada Windows Explorer walaupun option Show All File diaktifkan. Mencegah orang lain mengeksekusi/menjalankan program menjadi sangat penting jika temen2 mempunyai software untuk melakukan konfigurasi pada Windows, seperti WinBoost, Tweak UI, Start Menu Changer, dan sebagainya.

6. Bila temen-teman termasuk paranoid
Dengan enam langkah di atas komputer temen2 sudah mempunyai tingkat keamanan yang lumayan (tentunya bukan lumayan bagi seorang hacker). Namun bila temen2 termasuk paranoid atau betul-betul takut komputer temen2 diisengin orang lain temen2 bisa meneruskan langkah berikutnya. Yaitu hapus atau rename-lah file-file yang termasuk kategori “berbahaya” bila dijalankan, seperti : fdisk.exe, format.exe, dll.

Latar Belakang Teknologi Mobile

Dunia teknologi informasi mengalami perkembangan yang sangat pesat dan cepat, hampir diseluruh aspek kehidupan manusia. Kebutuhan manusia yang beragam mengakibatkan teknologi informasi terus maju berkembang, salah satu kebutuhan pokok manusia adalah mereka ingin segala pekerjaan dan urusannya dapat diselesaikan dengan cepat dan efisien sehingga tidak membuang banyak waktu dan tenaga. Kebutuhan inilah yang membuat teknologi mobile semakin berkembang.

Dewasa ini lingkungan pekerjaan sudah mengalami pergantian dari kantor tradisional menjadi kantor yang modern. Perkembangan teknologi peranti mobile yang didukung oleh internet, menciptakan akses di setiap waktu dan tempat. Dengan terciptanya mikroprosesor yang kecil, efektif, dan mempunyai kecepatan tinggi. Peranti mobile menjadi semakin pintar dan dibutuhkan pada setiap bidang pekerjaan.

Internet bukan suatu hal yang asing lagi di era globalisasi dan berkembangnya teknologi, internet sudah menjadi bagian yang penting untuk berbagai macam kebutuhan, dengan adanya internet dapat mengetahui berbagai macam informasi yang ada di seluruh negara.

Perusahaan selalu mengikuti perkembangan teknologi terbaru untuk memberikan pelayanan yang cepat dan terbaik untuk customer. Oleh karena itu pada kegiatan tugas akhir ini penulis ingin meneliti dan mengembangkan suatu aplikasi booking space cargo secara online dan mobile agar customer menjadi lebih cepat dan mudah dalam melakukan kegiatan yang berhubungan dengan booking space cargo.

Install Program Di Linux


Mungkin sudah banyak yang tau bagaimana cara menginstall program di linux namun ada baiknya saja saya menambahkan catatan saya pada blog ini. Pada dasarnya di linux memiliki beberapa macam cara menginstall software dan biasanya setiap distro juga memiliki cara yang berbeda dalam menginstall sebuah program.

Cara menginstall program di linux dibagi menjadi beberapa bagian;
1. mengcompile dan install program dari source
2. menginstall program berekstensi RPM dari Redhat Packet Manager
3. menginstall program menggunakan apt-get bawaan debian
4. menginstall program di mandriva
5. menginstall program di fedora menggunakan yum
6. menginstall paket di slackware
7. menginstall file binary (.BIN/ .SH)

Berikut saya akan tuliskan caranya bagaimana cara menginstall software di linux berdasarkan kategori yang telah saya kelompokkan diatas;

1. mengcompile dan install program dari source
Biasanya aplikasi yang diinstall dari source akan berekstensi “.tar.gz”, “.tar.bz2″, “. zip”, dan biasanya sebelum menginstall program tersebut ada beberapa orang yang lebih suka menaruh file-file tersebut sebelum diinstall di /usr/local/src/ tetapi ini bukan suatu keharusan bisa ditaruh dimana saja. Langsung saja ke tahap selanjutnya mulai menginstall, pertama-tama buka terminal atau command prompt anda lalu langsung menuju ke dimana anda menaruh file tersebut, lalu lakukan hal ini, sesuaikan dengan ekstensi file anda.

[ file dengan ekstensi .tar.gz ------> tar -xzvf ]

[ file dengan ekstensi .tar.bz2 ------> tar -jxvf ]

[ file dengan ekstensi .zip ------> unzip ]

setelah melakukan hal tersebut maka file anda akan terekstaks secara otomatis akan membuat sebuah folder, lalu buka file tersebut dengan

[ cd ]

langkah selanjutnya adalah tinggal tinggal melakukan pre-installation dengan menuliskan

[ ./configure ]

[make]

[make install]
sampai disini sudah selesai, namun ada baiknya sebelum melakukan instalasi program anda membaca manual dalam menginstall program tersebut biasanya ada di INSTALL atau README.

2. menginstall program berekstensi RPM dari Redhat Packet Manager
Untuk menginstall program dengan ekstensi ini sangat mudah biasanya aplikasi ini di pakai pada distro redhat dan turunannya, berikut caranya;

[ menginstall program ---' rpm -i ]

[ menguninstall program ---' rpm -e ]

3. menginstall program menggunakan apt-get bawaan debian
Pada distro debian danturunannya dikenal apt-get untuk menginstall program, namun ada yang lebih penting selain aplikasi tersebut yaitu kita arus menset source-list yaitu alamat yang digunakan untuk aplikasi tersebut menginstall program in iberguna apabila kita menggunakan aplikasi apt-get ini secara online. Biasanya alamat tersebut ditambahkan di /etc/apt/source.list dengan cara buka dengan aplikasi editor anda lalu tambahkan alamat-alamat yang berisi source-list program.

Setelah melakukan perubahan source.list ada baiknya kita melakukan

[ apt-get update ] untuk mengupdate source.list yang kita miliki.

Langkah selanjutnya adalah mengintall program menggunakan apt-get

[ install ---' apt-get install ]

[ uninstall --' apt-get remove ]

4. menginstall program di mandriva
Untuk menginstall program di mandriva dapat dilakukan dengan cara

[ install --' urpmi ]
[ uninstall --' urpme ]

[ yum remove ]

6. menginstall paket di slackware
menginstall paket di slackware lebih gampang lagi tinggal masuk ke root kemudian;

[ install -'installpkg ]

[ uninstall --' removepkg ]

atau bisa juga menggunakan
[ pkg tool ]

selain itu kita juga bisa mengubah file berekstensi rpm ke format tgz dengan cara yang sangat mudah

[rpm2tgz ]

7. menginstall file binary (.BIN/ .SH)

untuk menginstall program binary ada beberapa langkah yang pertama pastikan file tersebut dapat dieksekusi berikut caranya;

[ chmod +x nama program.bin], kemudian

[ ./nama program.bin]

[sh nama program.sh]

Mungkin ini hanya beberapa cara saja dari banyak cara dalam menginstall program di linux namun ini sudah cukup untuk mengenal dan menginstall program di linux

Catatan :
” Cara diatas semuanya dilakukan menggunakan console/terminal/ command-prompt di linux.
” biasanya dalam menginstall program hanya bisa dilakukan oleh root, maka masuklah sebagai root untuk menginstall program-program tersebut. Ada beberapa cara masuk ke root bisa menggunakan [su], atau bisa juga menggunakan [sudo su].
” Selain cara menginstall diatas mungkin anda bisa menggunakan aplikasi GUI yang juga bisa digunakan untuk menginstall program, sebagai contoh di debian dan ubuntu bisa menggunakan synaptic packet manager.

Referensi http://www.linuxforums.org/forum/linux-tutorials-howtos-reference-material/

Rabu, 03 Maret 2010

Lebih Jauh Mengenal Komputasi Awan (2)


Dalam tulisan terdahulu, sudah sedikit disinggung mengenai karakteristik dan jenis-jenis dari Cloud Computing, dan juga sejarah kemunculannya. Tulisan kali ini akan berbicara sedikit lebih dalam tentang berbagai aspek teknis dari Cloud Computing itu sendiri. Seperti juga sudah disinggung sebelumnya, bahwa sampai saat ini paradigma cloud computing ini masih berevolusi, dan masih menjadi subyek perdebatan yang melibatkan akademisi, vendor teknologi informasi, badan pemerintah, dan pihak-pihak terkait lainnya. Dan untuk memberikan satu common ground bagi publik, pemerintah Amerika melalui National Institut of Science and Technology (NIST) sebagai bagian dari Departemen Perdagangan Amerika, telah membuat beberapa rekomendasi standar tentang berbagai aspek dari Cloud Computing untuk dijadikan referensi. Sebagian besar isi artikel ini diambil dari dokumentasi NIST tersebut.

Kriteria Cloud Computing

Seperti sudah sedikit dijelaskan dalam tulisan terdahulu, bahwa tidak semua aplikasi berbasis web dapat dimasukkan ke dalam kategori cloud computing. NIST menetapkan setidaknya lima kriteria yang harus dipenuhi oleh sebuah sistem untuk bisa di masukkan dalam keluarga cloud computing, yaitu : 1. Swalayan (On Demand Self Service)

Seorang pelanggan dimungkinkan untuk secara langsung "memesan" sumber daya yang dibutuhkan, seperti processor time dan kapasitas penyimpanan melalui control panel elektronis yang disediakan. Jadi tidak perlu berinteraksi dengan personil customer service jika perlu menambah atau mengurangi sumberdaya komputasi yang diperlukan.

2. Akses Pita Lebar (Broadband Network Access)

Layanan yang tersedia terhubung melalui jaringan pita lebar, terutama untuk dapat diakses secara memadai melalui jaringan internet, baik menggunakan thin client, thick client ataupun media lain seperti smartphone.

3. Sumberdaya Terkelompok (Resource pooling)

Penyedia layanan cloud, memberikan layanan melalui sumberdaya yang dikelompokkan di satu atau berbagai lokasi date center yang terdiri dari sejumlah server dengan mekanisme multi-tenant. Mekanisme multi-tenant ini memungkinkan sejumlah sumberdaya komputasi tersebut digunakan secara bersama-sama oleh sejumlah user, di mana sumberdaya tersebut baik yang berbentuk fisik maupun virtual, dapat dialokasikan secara dinamis untuk kebutuhan pengguna/pelanggan sesuai permintaan. Dengan demikian, pelanggan tidak perlu tahu bagaimana dan darimana permintaan akan sumberdaya komputasinya dipenuhi oleh penyedia layanan. Yang penting, setiap permintaan dapat dipenuhi. Sumberdaya komputasi ini meliputi media penyimpanan, memory, processor, pita jaringan dan mesin virtual.

4. Elastis (Rapid elasticity)

Kapasitas komputasi yang disediakan dapat secara elastis dan cepat disediakan, baik itu dalam bentuk penambahan ataupun pengurangan kapasitas yang diperlukan. Untuk pelanggan sendiri, dengan kemampuan ini seolah-olah kapasitas yang tersedia tak terbatas besarnya, dan dapat "dibeli" kapan saja dengan jumlah berapa saja.

5. Layanan Yang Terukur (Measured Service)


Sumberdaya cloud yang tersedia harus dapat diatur dan dioptimasi penggunaannya, dengan suatu sistem pengukuran yang dapat mengukur penggunaan dari setiap sumberdaya komputasi yang digunakan (penyimpanan, memory, processor, lebar pita, aktivitas user, dan lainnya). Dengan demikian, jumlah sumberdaya yang digunakan dapat secara transparan diukur yang akan menjadi dasar bagi user untuk membayar biaya penggunaan layanan.

Dari sisi jenis layanan cloud sendiri, sampai saat ini para pemain di area ini sepakat untuk membagi jenis layanan cloud computing ke dalam tiga jenis layanan, yaitu:

1. Software as a Service (SaaS).

SaaS ini merupakan layanan Cloud Computing yang paling dahulu populer. Software as a Service ini merupakan evolusi lebih lanjut dari konsep ASP (Application Service Provider). Sesuai namanya, SaaS memberikan kemudahan bagi pengguna untuk bisa memanfaatkan sumberdaya perangkat lunak dengan cara berlangganan. Sehingga tidak perlu mengeluarkan investasi baik untuk in house development ataupun pembelian lisensi. Dengan cara berlangganan via web, pengguna dapat langsung menggunakan berbagai fitur yang disediakan oleh penyedia layanan. Hanya saja dengan konsep SaaS ini, pelanggan tidak memiliki kendali penuh atas aplikasi yang mereka sewa. Hanya fitur-fitur aplikasi yang telah disediakan oleh penyedia saja yang dapat disewa oleh pelanggan. Dan karena arsitektur aplikasi SaaS yang bersifat multi tenant, memaksa penyedia untuk hanya menyediakan fitur yang bersifat umum, tidak spesifik terhadap kebutuhan pengguna tertentu.

Meskipun demikian, kustomisasi tidak serta-merta diharamkan, meskipun hanya untuk skala dan fungsi yang terbatas. Tapi dengan berkembangnya pasar dan kemajuan teknologi pemrograman, keterbatasan-keterbatasan itu pasti akan berkurang dalam waktu tidak terlalu lama. Untuk contoh layanan SaaS, tentu saja kita harus menyebut layanan CRM online Salesforce.com--yang dikomandai Marc Benioff dan telah menjadi ikon SaaS ini. Selain itu Zoho.com, dengan harga yang sangat terjangkau, menyediakan layanan SaaS yang cukup beragam, dari mulai layanan word processor seperti Google Docs, project management, hingga invoicing online. Layanan akunting online pun tersedia, seperti yang diberikan oleh Xero.com dan masih banyak lagi. IBM dengan Lotuslive.com nya dapat dijadikan contoh untuk layanan SaaS di area kolaborasi/unified communication. Sayangnya untuk pasar dalam negeri sendiri, seperti sudah saya sampaikan dalam tulisan terdahulu, masih sangat sedikit yang mau berinvestasi untuk menyediakan layanan SaaS ini.

2. Platform as a Service (PaaS)

Seperti namanya, PaaS adalah layanan yang menyediakan modul-modul siap pakai yang dapat digunakan untuk mengembangkan sebuah aplikasi, yang tentu saja hanya bisa berjalan diatas platform tersebut. Seperti juga layanan SaaS, pengguna PaaS tidak memiliki kendali terhadap sumber daya komputasi dasar seperti memory, media penyimpanan, processing power dan lain-lain, yang semuanya diatur oleh provider layanan ini. Pionir di area ini adalah Google AppEngine, yang menyediakan berbagai tools untuk mengembangkan aplikasi di atas platform Google, dengan menggunakan bahasa pemrograman Phyton dan Django. Kemudian Salesforce juga menyediakan layanan PaaS melalui Force.com, menyediakan modul-modul untuk mengembangkan aplikasi diatas platform Salesforce yang menggunakan bahasa Apex.

Dan mungkin yang jarang sekali kita ketahui, bahwa Facebook juga bisa dianggap menyediakan layanan PaaS, yang memungkinkan kita untuk membuat aplikasi diatasnya. Salah satu yang berhasil menangguk untung besar dari layanan PaaS Facebook adalah perusahaan bernama Zynga, yang tahun lalu saja berhasil meraup keuntungan bersih lebih dari US$ 100 juta, lebih besar dari keuntungan yang didapat oleh Facebook sendiri. Anda mungkin akan sedikit terkejut kalau saya beritahu bahwa Zynga ini bisa untung besar dari aplikasi yang sama sekali tidak serius, tapi mengandung zat adiktif luar biasa yaitu: Farmville, yang hingga kini telah berhasil menjadikan 80 juta lebih penduduk Facebook menjadi petani yang rajin mencangkul, menanam dan panen serta memerah susu sapi demi keuntungan mereka.

3. Infrastructure as a Service (IaaS).

IaaS terletak satu level lebih rendah dibanding PaaS. Ini adalah sebuah layanan yang "menyewakan" sumberdaya teknologi informasi dasar, yang meliputi media penyimpanan, processing power, memory, sistem operasi, kapasitas jaringan dan lain-lain, yang dapat digunakan oleh penyewa untuk menjalankan aplikasi yang dimilikinya. Model bisnisnya mirip dengan penyedia data center yang menyewakan ruangan untuk co-location, tapi ini lebih ke level mikronya. Penyewa tidak perlu tahu, dengan mesin apa dan bagaimana caranya penyedia layanan menyediakan layanan IaaS.

Yang penting, permintaan mereka atas sumberdaya dasar teknologi informasi itu dapat dipenuhi. Perbedaan mendasar dengan layanan data center saat ini adalah IaaS memungkinkan pelanggan melakukan penambahan/pengurangan kapasitas secara fleksibel dan otomatis. Salah satu pionir dalam penyediaan IaaS ini adalah Amazon.com yang meluncurkan Amazon EC2 (Elastic Computing Cloud). Layanan Amazon EC2 ini menyediakan berbagai pilihan persewaan mulai CPU, media penyimpanan, dilengkapi dengan sistem operasi dan juga platform pengembangan aplikasi yang bisa disewa dengan perhitungan jam-jaman. Untuk di dalam negeri sendiri, rencananya ada beberapa provider yang akan menyediakan layanan sejenis mulai pertengahan tahun ini.

Setelah karakteristik dan jenis layanan, sekarang kita berlanjut ke tipe-tipe penerapan (deployment) dari layanan Cloud Computing, yang terbagi menjadi empat jenis penerapan, yaitu:

1. Private cloud

Di mana sebuah infrastruktur layanan cloud, dioperasikan hanya untuk sebuah organisasi tertentu. Infrastruktur cloud itu bisa saja dikelola oleh si organisasi itu atau oleh pihak ketiga. Lokasinya pun bisa on-site ataupun off-site. Biasanya organisasi dengan skala besar saja yang mampu memiliki/mengelola private cloud ini.

2. Community cloud


Dalam model ini, sebuah infrastruktur cloud digunakan bersama-sama oleh beberapa organisasi yang memiliki kesamaan kepentingan, misalnya dari sisi misinya, atau tingkat keamanan yang dibutuhkan, dan lainnya. Jadi, community cloud ini merupakan "pengembangan terbatas" dari private cloud. Dan sama juga dengan private cloud, infrastruktur cloud yang ada bisa di-manage oleh salah satu dari organisasi itu, ataupun juga oleh pihak ketiga.

3. Public cloud

Sesederhana namanya, jenis cloud ini diperuntukkan untuk umum oleh penyedia layanannya. Layanan-layanan yang sudah saya sebutkan sebelumnya dapat dijadikan contoh dari public cloud ini.

4. Hybrid cloud

Untuk jenis ini, infrastruktur cloud yang tersedia merupakan komposisi dari dua atau lebih infrastruktur cloud (private, community, atau public). Di mana meskipun secara entitas mereka tetap berdiri sendiri-sendiri, tapi dihubungkan oleh suatu teknologi/mekanisme yang memungkinkan portabilitas data dan aplikasi antar cloud itu. Misalnya, mekanisme load balancing yang antarcloud, sehingga alokasi sumberdaya bisa dipertahankan pada level yang optimal.

Demikian sedikit penjelasan dari model-model cloud yang disarikan dari NIST. Namun seperti diakui oleh lembaga ini, definisi dan batasan dari Cloud Computing sendiri masih mencari bentuk dan standarnya. Di mana nanti pasarlah yang akan menentukan model mana yang akan bertahan dan model mana yang akan mati. Namun semua sepakat bahwa cloud computing akan menjadi masa depan dari dunia komputasi. Bahkan lembaga riset bergengsi Gartner Group juga telah menyatakan bahwa Cloud Computing adalah wacana yang tidak boleh dilewatkan oleh seluruh pemangku kepentingan di dunia TI, mulai saat ini dan dalam beberapa waktu mendatang.

Sumber
Detik.com

Senin, 01 Maret 2010

Siapa Penemu Telepon ?


Alexander Graham Bell, pria Amerika Serikat yang disebut-sebut sebagai penemu telepon, kini diusik kedudukannya. Seorang pria Jerman diklaim telah menemukan telepon, 15 tahun sebelum Bell.

Telepon, alat komunikasi asal Jerman yang mulai diproduksi pada tahun 1863 ini, ternyata dipermasalahkan siapa penemu sesungguhnya. Ketika itu, telah ada dokumen yang berisi file-file yang merupakan bukti bahwa “Telephon” buatan ilmuan asal Jerman, Philipp Reis, telah berhasil mentransmisi dan menerima suara.

Disampaikan BBC, Senin (01/12/2003), diduga seorang pengusaha asal Inggris, Sir Frank Gill, ada di balik penyembunyian bukti tersebut.

Dokumen itu berisi sejumlah file dari arsip sebuah museum di London, Science Museum. Dokumen tersebut ditemukan kembali pada bulan Oktober oleh kurator bagian komunikasi dari museum tersebut, John Liffen.

Kilas Balik

Gill merupakan pimpinan perusahaan Standard Telephones and Cables (STC), sebuah perusahaan yang melangsungkan proses testing terhadap alat hasil temuan Reis.
Ketika itu, STC menerima tawaran kontrak dari American Telephone and Telegraph Company, perusahaan yang dikembangkan dari Bell Company.

Gill berpikir bahwa jika dunia mengetahui hasil tes tersebut, itu akan menenggelamkan kesempatan STC untuk memenangkan kontrak.

Sebuah memo, tertanggal 18 Maret 1947, dari Gerald Garrat, pendahulu Liffen, menunjukkan bahwa laporan STC mengenai alat temuan Reis tersebut diberikan pada dirinya disertai ancaman bahwa dokumen tersebut tidak akan pernah muncul di khalayak ramai atau dipublikasikan tanpa ijin.

Pada surat berikutnya, Garrat menulis: “Saya pergi dengan pikiran bahwa ada sesuatu yang sangat rahasia tentang dokumen tersebut yang akan menjadi sejarah kelas satu.”
“Kalian harus tahu seperti halnya saya tahu sebuah kontrofersi lama: ‘Apakah Bell menemukan telepon?’ Dan saya menyimpan sebuah dokumen setebal lebih dari 400 halaman yang membuktikan sebuah kesimpulan penting bahwa dia bukan penemunya.”

Pada tahun 1955, LC Pocock, seorang peneliti dari laboratorium STC, menulis surat untuk Garrat, menjelaskan: “Keputusan (Frank Gill) tersebut dilakukan karena dirinya tidak ingin nama STC dilibatkan dalam kontroversi yang mungkin muncul di kemudian hari berkenaan dengan alat temuan Reis.”

“Telephon”, alat hasil temuan Reis dapat mentransmisikan suara dengan
sangat jelas. Alat tersebut dapat menerima suara berkualitas bagus, tapi dengan efisiensi yang sangat rendah.

“Jika telepon (telephone), diartikan sebagai peralatan yang memungkinkan kita untuk berkomunikasi dalam jarak dekat, maka Reis-lah yang menemukan telepon,” kata Liffen.
Ilmuan Amerika kelahiran Skotlandia, Alexander Graham Bell, sering kali disebut-sebut sebagai yang pertama kali berhasil mentransmisikan suara dari satu titik ke titik lainnya pada tahun 1876. Namun kemudian, banyak klaim berkaitan dengan “yang pertama di dunia”.

Peneliti-peneliti seperti Antonio Meucci dan Elisha Gray juga merupakan orang yang dikenal pernah membuat perlatan pentransmisi suara, di jaman yang sama dengan Bell dan Reis. Kalau begitu, siapa penemu telepon sebenarnya ? (nks)

Sumber
Reporter : Ni Ketut Susrini
detikcom - Jakarta,
[http://www1.detik.com/printing/index.html?idArtikel=215888]

Sejarah Bulutangkis


Bulutangkis atau badminton adalah suatu olahraga raket yang dimainkan oleh dua orang (untuk tunggal) atau dua pasangan (untuk ganda) yang berlawanan.
Mirip dengan tenis, bulutangkis dimainkan dengan pemain di satu sisi bertujuan memukul bola permainan (”kok” atau “shuttlecock”) melewati net agar jatuh di bidang permainan lawan yang sudah ditentukan. Dia juga harus mencoba mencegah lawannya melakukan hal tersebut kepadanya.


Partai

Ada lima partai yang biasa dimainkan dalam bulutangkis. Mereka adalah:
1. Tunggal putra
2. Tunggal putri
3. Ganda putra
4. Ganda putri
5. Ganda campuran

Sejak 1 Februari 2006, seluruh partai memakai sistem “pemenang dua dari tiga set” (best of three) yang masing-masing diraih dengan mencapai 21 poin secara rally point.

Memainkan bulutangkis


Tiap pemain atau pasangan mengambil posisi pada kedua sisi jaring di atas wilayah persegi panjang yang ditandai di lantai sebagaimana diperlihatkan di diagram.
Tujuan permainan adalah untuk memukul sebuah kok menggunakan raket, melompati jaring ke wilayah di seputar batasan/aras tertanda sebelum pemain atau pasangan lawan bisa memukulnya balik. Untuk setiap kali ini berhasil dilakukan oleh regu yang menyervis, pemain atau pasangan penyervis (peladen) mencetak skor satu poin. Setelah memenangi satu poin, pemain yang sama menyervis kembali, dan terus menyervis sepanjang mereka terus mencetak poin.

Apabila regu yang tak menyervis memenangkan reli ini, tiada poin dicetak oleh mereka tetapi ada pergantian penyervis. Dalam permainan ganda, seorang peladen memulai permainan, dan setelah kalah sebuah reli, servis berpindah ke regu lawan. Dari waktu itu ke depannya, kedua pemain pada seregu bergantian menyervis (meladen) sebelum servis kembali berpindah kepada lawan mereka. Pemain di sisi servis tangan kanan selalu memulai servis.

Wilayah servis


Gelanggang badminton
Tiap-tiap pemain menetapkan di antara dua wilayah servis. Ada wilayah servis untuk tunggal, yakni berlebar 5,18 meter dan panjangnya 13,40 meter. Areal servis untuk ganda berukuran 6,10 meter pada lebarnya dan 11,88 meter panjangnya. Wilayah servis dibagi dua belahan. Di tengah-tengah lapangan berdiri jaring/net, yakni 1,55 meter tingginya. Garis-garis servis pendek berentang 1,98 meter dari jaring. Kotak servis kiri dan kotak servis kanan dipisahkan oleh garis di tengahnya.

Perlengkapan


• Raket: Secara tradisional raket dibuat dari kayu. Kemudian aluminium atau logam ringan lainnya menjadi bahan yang dipilih. Kini, hampir semua raket bulutangkis profesional berkomposisikan komposit serat karbon (plastik bertulang grafit). Serat karbon memiliki kekuatan hebat terhadap perbandingan berat, kaku, dan memberi perpindahan energi kinetik yang hebat. Namun, sejumlah model rendahan masih menggunakan baja atau aluminium untuk sebagian atau keseluruhan raket.

• Kok: Kok adalah bola yang digunakan dalam olahraga bulutangkis, terbuat dari rangkaian bulu angsa yang disusun membentuk kerucut terbuka, dengan pangkal berbentuk setengah bola yang terbuat dari gabus. Dalam latihan atau pertandingan tidak resmi digunakan juga kok dari pelastik.

• Senar: Mungkin salah satu dari bagian yang paling diperhatikan dalam bulutangkis adalah senar nya. Jenis senar berbeda memiliki ciri-ciri tanggap berlainan. Keawetan secara umum bervariasi dengan kinerja. Kebanyakan senar berketebalan 21 ukuran dan diuntai dengan ketegangan 18 sampai 30+ lb. Kesukaan pribadi sang pemain memainkan peran yang kuat dalam seleksi senar.

• Sepatu: Karena percepatan sepanjang lapangan sangatlah penting, para pemain membutuhkan pegangan dengan lantai yang maksimal pada setiap saat. Sepatu bulutangkis membutuhkan sol karet untuk cengkraman yang baik, dinding sisi yang bertulang agar tahan lama selama tarik-menarik, dan teknologi penyebaran goncangan untuk melompat; bulutangkis mengakibatkan agak banyak stres (ketegangan) pada lutut dan pergelangan kaki.

• Net: Bulutangkis tidak akan pernah bisa berjalan tanpa perlengkapan yang satu ini. Net merupakan pembatas antara bidang permainan pemain yang satu dengan yang lain. Tinggi net kurang lebih 152 cm dan sama untuk semua jenis permainan, baik itu tunggal maupun ganda, putri maupun putra.

Sejarah

Olah raga yang dimainkan dengan kok dan raket, kemungkinan berkembang di Mesir kuno sekitar 2000 tahun lalu tetapi juga disebut-sebut di India dan Tiongkok.
Nenek moyang terdininya diperkirakan ialah sebuah permainan Tionghoa, Jianzi yang melibatkan penggunaan kok tetapi tanpa raket. Alih-alih, objeknya dimanipulasi dengan kaki. Objek/misi permainan ini adalah untuk menjaga kok agar tidak menyentuh tanah selama mungkin tanpa menggunakan tangan.

Di Inggris sejak zaman pertengahan permainan anak-anak yang disebut Battledores dan Shuttlecocks sangat populer. Anak-anak pada waktu itu biasanya akan memakai dayung/tongkat (Battledores) dan bersiasat bersama untuk menjaga kok tetap di udara dan mencegahnya dari menyentuh tanah. Ini cukup populer untuk menjadi nuansa harian di jalan-jalan London pada tahun 1854 ketika majalah Punch mempublikasikan kartun untuk ini.

Penduduk Inggris membawa permainan ini ke Jepang, Republik Rakyat China, dan Siam (sekarang Thailand) selagi mereka mengolonisasi Asia. Ini kemudian dengan segera menjadi permainan anak-anak di wilayah setempat mereka.

Olah raga kompetitif bulutangkis diciptakan oleh petugas Tentara Britania di Pune, India pada abad ke-19 saat mereka menambahkan jaring/net dan memainkannya secara bersaingan. Oleh sebab kota Pune dikenal sebelumnya sebagai Poona, permainan tersebut juga dikenali sebagai Poona pada masa itu.

Para tentara membawa permainan itu kembali ke Inggris pada 1850-an. Olah raga ini mendapatkan namanya yang sekarang pada 1860 dalam sebuah pamflet oleh Isaac Spratt, seorang penyalur mainan Inggris, berjudul “Badminton Battledore - a new game” (”Battledore Bulutangkis - sebuah permainan baru”). Ini melukiskan permainan tersebut dimainkan di Gedung Badminton (Badminton House), estat Duke of Beaufort’s di Gloucestershire, Inggris.

Rencengan peraturan yang pertama ditulis oleh Klub Badminton Bath pada 1877. Asosiasi Bulutangkis Inggris dibentuk pada 1893 dan kejuaraan internasional pertamanya berunjuk-gigi pertama kali pada 1899 dengan Kejuaraan All England.
Bulutangkis menjadi sebuah olah raga populer di dunia, terutama di wilayah Asia Timur dan Tenggara, yang saat ini mendominasi olah raga ini, dan di negara-negara Skandinavia.

International Badminton Federation (IBF) didirikan pada 1934 dan membukukan Inggris, Irlandia, Skotlandia, Wales, Denmark, Belanda, Kanada, Selandia Baru, dan Prancis sebagai anggota-anggota pelopornya. India bergabung sebagai afiliat pada 1936. Pada IBF Extraordinary General Meeting di Madrid, Spanyol, September 2006, usulan untuk mengubah nama International Badminton Federation menjadi Badminton World Federation (BWF) diterima dengan suara bulat oleh seluruh 206 delegasi yang hadir.

Olah raga ini menjadi olah raga Olimpiade Musim Panas di Olimpiade Barcelona tahun 1992. Indonesia dan Korea Selatan sama-sama memperoleh masing-masing dua medali emas tahun itu.

Sumber
http://yudhim.dagdigdug.com

Pengertian dari SPG


SPG alias Sales Promotion Girl namanya. Biasanya berdandan seayu mungkin untuk memikat calon konsumen. Kadang bertingkah genit untuk menarik agar orang tertarik dengan barang yang ditawari. SPG tak hanya ditemui di acara-acara tertentu, tetapi kini pun makin agresif door to door.

Seingatku, belum pernah aku tergoda untuk membeli produk yang ditawarkan mereka. Kadang saya merasa kasihan juga, sudah capek-capek dandan dan mengenakan rok mini kok ya ndak laku juga. Tetapi memang salah mereka sendiri karena saya tidak melihat kemampuannya untuk meyakinkan kenapa produk itu mesti ditawarkan.

Nah urusan meyakinkan calon konsumen, saya bertekuk lutut sama SPG perbankan yang hanya mengandalkan pembicaraan dari telpon. Saya tidak kenal dan saya pun sebenarnya tidak ingin mengambil penawaran yang disampaikan beberapa menit melalui telpon. Namun argumentasi-argumentasi yang sulit untuk dipatahkan, meyakinkanku untuk ikut program itu.

Ada saja cara dia menggiring untuk mengiyakan. Waduh, saya tak kebayang kalau orang ini menjajakan produknya door to door, mungkin saya menganggap sama dengan SPG lain. Oalaaaah, SPG.


Sumber
http://benra.dagdigdug.com/2008/03/01/spg/