Tampilkan postingan dengan label Mutiara Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Islami. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Agustus 2009

" Belajar dari Janda Penjual Penjual Susu "

Suatu malam, Aslam bersama Khalifah Umar bin al Khaththab bersandar di sebuah dinding bilik. Sayup-sayup didengarnya dialog antara seorang ibu penjual susu dan anak gadisnya.

"Anakku, campurlah air itu ke dalam susu!", perintah sang ibu, "Maaf bu, bukankah Khalifah melarangnya? ", jawab si gadis, anaknya. "Saat ini Khalifah tidak mungkin tahu", sahud sang ibu lagi."

"Ibu bukankan kita berkewajiban menaati khalifah disaat ramai dan di saat sepi?" Jawab sang anak.

Penggalan dialog ini di rekam oleh Sang Khalifah, Umar radliallahu anhu. Wahai Aslam tandailah rumah ini, dan besok engkau cari tahu siapa mereka!"

Pagi menjelah, tahulah Sang Khalifah, ternyata meraka adalah seorang janda dan anak gadisnya semata wayang.

Umar radliallahu anhu, mendatangi ketiga anaknya, Abdullah, Abdurrahman dan 'Ashim radliallahu anhum ajma'in.

"Wahai anakku, maukah engkau menikahi seorang gadis mulia, jika seandainya bapakmu ini masih ingin menikah lagi, niscaya aku akan mendahului kalian.

"Aku sudah menikah ayahanda", seru Abdullah.

"Akupun sudah menikah ayahanda", seru Abdurahman

"Nikahkanlah aku dengannya wahai ayahku!" pinta Ashim..

Mereka pun menikah, dari pernikahannya lahirlah seorang wanita, dan dari rahimnya kemudian lahir seorang khalifah yang terkenal keadilan, ketaqwaan dan kebijaksanaannya, Umar bin Abdul Aziz.

Sepenggal fragmen kehidupan Khalifah Umar bin Al Khaththab ini dinukil bahkan oleh Ibnu Qayyim Al Jauzi, juga di kitab Al Hilyah.

Sebuah kisah yang dapat kita ambil hikmahnya.

Pertama, Kebiksanaan Pemimpin

Betapa sehebat apapun pangkatnya, sebesar apapun kedudukannya, seorang pemimpin jika sudah menduduki tampuk kursinya, saat itu pula ia adalah pelayan rakyatnya. Dan itulah sesungguhnya tugas terbesar bagi seorang pemimpin, selain tugas utamanya kepada Rabbnya. Umar bin Khathathab adalah teladan terbaik setelah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakr Ash Shiddiq radliallahu anhu.

Khalifah Umar selalu gelisah hatinya manakala melihat rakyatnya sengsara. Beliau seperti bapak ditengah keluarganya, ketika hak-hak rakyatnya terampas dialah yang memberikannya. Ketika rakyatnya ketakutan dirinyalah yang memberikan rasa keberanian dengan menyingkirkan kedhaliman yang melingkupinya. Beliau merasakan kehidupan yang dijalani rakyatnya. Maka tak ayal bersandar di sebuah dinding bilik ia lakoni karena istananya bukanlah gedung menjulang berhias emas.

Kedua, Kejujuran adalah permata

Kejujuran seorang gadis miskin, anak seorang janda tua penjual susu, bukanlan calon istri ideal bagi pria manapun. Karena ia sangat jauh dari type ideal, kaya, cantik, keturunan berada dan terhormat.

Tapi bagi Sang Khalifah kejujurannya mengalahkan atribut duniawi itu, ia tawarkan kepada anak-anaknya setelah ia sendiri mengakui bahwa seandainya ia masih ingin menikah lagi niscaya ia akan menikahi sebelum anak-anaknya. Dan benarlah ternyata kejururan itu berbuah ranum. Dari rahimnya, lahir seorang wanita shalihah yang melahirkan Khalifah besar setelahnya, Umar bin Abdul Aziz.

Ketiga, Ketaatan kepada pemimpin

Pemimpin dipilih atau diangkat untuk ditaati. Sebagai seorang muslim kita harus mentaati perintah pemimpin kita. Walau pimpinan itu seorang yang hitam legam, keriting sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Nabi Shallahu alaihi wa sallam.

Namun sebagaimana yang dijelaskan buku-buku fikih para ulama terdahulu, ketika perintahnya melanggar perintah Allah subhanahu wata'ala maka kita hanyalah menaati yang bersesuaian dengan aturan Allah saja. Karena tidak ada ketaatan kepada Makhluq dalam kemaksiatan Al Khaliq.

Menaati pemimpin dalam kebaikan dan taqwa adalah manifestasi dari ibadah kepada Allah subhanahu wata'ala.. Athiullaha waathiur rasuul, waulul amri minkum. "Taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul, serta kepada pemimpin-pemimpin dari kalian". Kata Taatlah diulang dua kali, kemudian dilanjutkan kepada pemimpin…

Keempat, Muraqabatullah

Manusia harus selalu sadar bahwa ia selalu diawasi dari detik-ke detik selama 24 jam sehari selama ia hidup didunia. Setiap hal yang ia lakoni walaupun sebesar atom, kelak ia akan menerima pahala atau dosa. Maka sungguh seorang yang bijaksana adalah orang yang selalu menghitung timbangan kebaikan dan keburukannya.

Semoga timbangan kebaikan kita lebih berat daripada timbangan kejelekan kita. Wallahu a'lam bishwab. Aminuddin, 7 Ramadlan 1430 H. Disampaikan di Masjid AtTauhid ARH, UI, Jakarta kamis,28-08- 2009

Sponsored by. www.madinastore. com


Selasa, 24 Februari 2009

" Bekerja yang bernilai Ibadah "

Rasulullah SAW bersabda," Barangsiapa yang pada pagi harinya menjadikan dunia sebagai konsentrasi utama.dan sama sekali tidak memperhatikan hak Allah,niscaya Allah akan menumbuhkan empat perkara kepadanya :

1. Keinginan yang tidak akan pernah habis-habisnya
2. Kesibukan yang tidak akan pernah terselesaikan olehnya.
3. Kebutuhan yang tidak pernah berujung.
4. Angan -angan yang tidak pernah tercapai( HR.Dailami )

Apakah yang dapat diharapkan lagi dari hidup ini jika keempat perkara tersebut telah membelit kita ??? Maka seyogyanya,kita memberikan hak Allah terhadap segala aktifitas keseharian kita.


Apakah yang dapat diharapkan lagi dari hidup ini jika keempat perkara tersebut telah membelit kita ??? Maka seyogyanya,kita memberikan hak Allah terhadap segala aktifitas keseharian kita.

Ketika makan,kita niatkan setiap suap makanan itu sebagai nutrisi untuk mengisi ulang energi tubuh kita,dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya. Manakala hendak bekerja, niatkanlah dalam hati kita untuk melakukan perintah Allah dalam memberi nafkah terhadap keluarga kita. Dan tentu saja kesemuanya juga dijauhkan dari hal-hal yang diharamkan Allah.

Dengan demikian, mudah-mudahan segala aktifitas kita itu akan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Dan " Bekerjalah kamu,maka Allah dan Rosul-Nya serta orang mukmin akan melihat perkerjaanmu itu ............ ... ( QS. 9 :105 )

Sungguh setiap tetes keringat yang mengalir di tubuh kita dijalan mencari nafkah,nilainya adalah ibadah. Dan ada dosa-dosa yang hanya terampuni dengan kerja keras. Untuk itu saudaraku... mari penuhi niat kita hanya untuk kebaikan.Apapun bentuk amalan kita...

" Keadaan Hati "

Ada 6 keadaan hati kita sebagai manusia :

1. Kehidupan
2. Kematian
3. Kesehatan
4. Sakit
5. Sadar
6. TidurKehidupan adalah petunjuk, kematiannya adalah kesesatan,kesehatan nya adalah kebersihan dan kejernihan. Sakitnya adalah kekeruhan dan ketergantungan, sadarnya adalah dzikir dan tidurnya adalah kelalaian.

Setiap keadaan mempunyai tanda,tanda kehidupan adalah beramal dengan penuh harap dan rasa takut, kematiannya adalah kebalikannya. Tanda kesehata adalah rasa lezat dan sakitnya adalah kebalikannya. Lalu tanda sadar adalah mendengar dan melihat sedang tidur adalah kebalikannya. .

Aku mencari tahu didalam hatiku ,,, dimanakah situasi hatiku sekarang...aku takut, aku tidak mau kondisi hatiku lara... Aku ingin hatiku selalu hidup sehat dan sadar... Ya Roob.. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui tentang aku, dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira...Gengamlah. .. genggamlah hatiku ini agar selalu berada ditanganmu.. .Karena Engkaulah maha pembolak balik hati... Amiin.

Selasa, 10 Februari 2009

" Sejarah Yahudi "

Akar Konflik Palestina-Israel
Sebagai hadiah menyambut Tahun Baru Hijriyyah 1 Muharram 1430 H. Sebagai bentuk rasa solidaritas kepada saudara-saudara umat manusia

Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz Mehdawi, dalam wawancara dengan TVOne mengatakan, bahwa serangan Israel ke Jalur Gaza sejak 27 Desember lalu, adalah serangan ilegal yang telah terjadi selama puluhan tahun. Dalam ulasan berita di MetroTV disebutkan, serangan Israel kali ini merupakan kejadian paling buruk sejak 60 tahun terakhir (sejak Israel berdiri tahun 1948).. Para mahasiswa Arab mempertanyakan posisi Liga Arab yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dunia internasional, termasuk negara-negara Eropa mengutuk keras serangan Israel ke Gaza , tetapi pihak yang dikutuk terus melancarkan serangan. Bahkan Israel telah menyiapkan tank-tank dan pasukan cadangan sekitar 6500 orang. Targetnya jelas, seperti kata Ehud Barak, yaitu menggulingkan Hamas.

Masalah konflik Palestina-Israel bukanlah konflik satu bangsa dengan bangsa lain. Ia adalah konflik peradaban yang usianya sangat tua. Disana terbentang benang merah panjang, sejak konflik antara Nabi Muhammad shallallah 'alaihi wa sallam dengan kaum Yahudi di Madinah, konflik antara Yahudi dan Romawi, konflik antara Yahudi dengan negara-negara Eropa, konflik antara Musa dengan Fir'aun, bahkan konflik antara Yusuf 'alaihissalam dengan saudara-saudaranya. Ujung-ujungnya adalah konflik abadi antara Allah Ta'ala dengan iblis laknatullah 'alaih.

Kalau memahami konflik ini hanya secara lokal dan temporer, yakinlah Anda akan tersesat dalam frustasi. Kondisi Ummat Islam di jaman modern yang penuh kesulitan dan derita, merupakan bagian dari konflik ini. Yahudi sendiri adalah bangsa "terkuat di dunia", dalam arti: merekalah satu-satunya ras manusia yang berani konfrontatif melawan kehendak Allah Ta'ala.

Sejarah Kebangkitan Yahudi
Ketika melihat konflik Palestina-Israel, kita perlu merunut kembali catatan-catatan perjalanan sejarah di masa lalu. Disana kita akan menemukan bahan-bahan untuk memahami peta konflik ini secara utuh. Jika tidak demikian, maka kita hanya akan "konsumen terbaik" berita-berita media massa seputar konflik ini. Bayangkan semua ini sudah dimulai sejak era Perang Arab, pembakaran Masjid Aqsha, tragedi Sabra Satila, Intifadhah akhir 80-an, tragedi Al Khalil Hebron, penembakan Muhammad Ad Durrah, pembunuhan Syaikh Ahmad Yasin dan Abdul Aziz Rantisi, dll. sampai serangan Israel saat ini. Dan rata-rata model peristiwanya serupa, hanya berbeda waktu dan para pelakunya saja.
Mari kita runut latar-belakang historis fitnah Yahudi di dunia, dengan memohon petunjuk dan pertolongan Allah Ta'ala:

[1] Bani Israil pada dasarnya masih keturunan Ibrahim 'alaihissalam. Ibrahim memiliki dua anak, Ismail dan Ishaq 'alaihimassalam. . Ismail nanti menurunkan keturunan bangsa Arab Adnani, lalu Ishaq mempunyai anak Ya'qub 'alaihissalam. Nah, Ya'qub inilah yang kemudian disebut Israil, sehingga anak-anak Ya'qub di kemudian hari disebut Bani Israil.

[2] Saat berbicara tentang Bani Israil, perhatian kita segera tertuju kepada anak-anak Ya'qub. Mereka adalah Yusuf 'alaihissalam, Benyamin, dan 11 saudara Yusuf. Semuanya berjumlah 13 orang; sama jumlahnya dengan matahari, bulan, dan 11 bintang yang terlihat dalam mimpi Yusuf sedang bersujud kepadanya. Karena itu angka 13 merupakan "angka keramat" bagi Yahudi sampai saat ini. Banyak logo-logo perusahaan top dunia dibuat dari karakter 13 ini.

[3] Secara umum, Bani Israil itu mewarisi dua sifat besar, yaitu: sifat keshalihan dan sifat durjana. Sifat keshalihan diturunkan dari garis Yusuf 'alaihissalam. Sedangkan sifat durhaka diturunkan dari sifat saudara-saudara Yusuf (seayah berbeda ibu). Disana sudah tampak bakat-bakat kelicikan, dengki, kebohongan, dan sebagainya. Tetapi itu sebatas potensi, bukan kemutlakan takdir. Apalagi, di akhir hayat Ya'qub, seluruh anak-anaknya tunduk dalam agama tauhid. (Al Baqarah: 133). Saat berbicara tentang Bani Israil, sebagian orang sangat shalih dan sebagian sangat durhaka. Namun setelah kedatangan Islam, Bani Israil tidak diperkenankan lagi mengikuti agama selain Islam. Jika mereka tidak masuk Islam, dianggap durhaka seluruhnya, tidak ada toleransi sedikit pun. (Ali Imran: 85).

[4] Perjalanan sejarah Bani Israil dimulai ketika Yusuf 'alaihissalam bersentuhan dengan peradaban Mesir. Waktu itu atas jasa Yusuf membantu bangsa Mesir, mereka diberi lahan luas oleh penguasa Mesir di wilayah Kan'an. Disana Ya'qub dan anak-keturunannya mulai membangun kehidupan. Mereka memilih tinggal di Kan'an sebab dekat dengan Mesir yang makmur, sedang di tempat asalnya sering dilanda paceklik. Waktu itu anak keturunan Ya'qub sangat dihormati penguasa Mesir. Entah bagaimana mulanya, hubungan bangsa Mesir dengan anak-keturunan Ya'qub lama-lama menjadi buruk. Alih-alih Mesir akan menghargai jasa-jasa Yusuf di masa lalu, mereka malah menjadikan Bani Israil sebagai budak-budak. Setelah ditinggal oleh Ya'qub dan Yusuf, nasib Bani Israil menjadi bulan-bulanan bangsa Mesir. Hal itu bisa terjadi karena sifat buruk Bani Israil sendiri atau sifat menindas bangsa Mesir. Tetapi kalau mencermati sikap penguasa Mesir yang bersikap sportif kepada Yusuf,
kemungkinan hal itu karena sifat Bani Israil sendiri.

[5] Era perbudakan Bani Israil di Mesir sangat mengkhawatirkan. Bukan saja karena perbudakan itu kejam, tetapi ia bisa menghancurkan karakter sebuah bangsa (Bani Israil). Bayangkan, selama ratusan tahun mereka tertindas oleh sistem tirani di Mesir. Bani Israil diberi anugerah berupa bakat-bakat kecerdasan besar, dan manakala bakat itu dibesarkan di bawah sistem perbudakan, ia bisa melahirkan penyimpangan mental dan pemikiran luar biasa. Oleh karena itu Allah Ta'ala mendatangkan Musa dan Harun 'alaihimassalam untuk menyelamatkan Bani Israil. Misi dakwah Musa bukan untuk mengislamkan Fir'aun dan rakyatnya, tetapi untuk menyelamatkan Bani Israil dari penindasan Fir'aun. Dalam Al Qur'an: Dan Musa berkata: "Hai Fir'aun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam, wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani
Israil (pergi) bersama aku." (Al A'raaf: 104-105). Musa tidak pernah diperintahkan untuk memerangi Fir'aun, tetapi membawa Bani Israil tinggal di Palestina (waktu itu namanya bukan Palestina). [Perlu dicatat juga, Fir'aun (Pharaoh) adalah gelar raja-raja Mesir, bukan nama seseorang. Sedangkan Fir'aun yang tenggelam di Laut Merah bukanlah Fir'aun yang memangku Musa di waktu kecil, lalu direnggut janggutnya oleh Musa. Fir'aun dalam Al Qur'an lebih mencerminkan tabiat kekuasaan tiranik, bukan sekedar pribadi].

[6] Musa berhasil membawa Bani Israil keluar dari Mesir, Fir'aun dan bala tentaranya tenggelam di Laut Merah.. Lalu mereka menetap di Ardhul Muqaddas (Palestina) setelah berhasil mengalahkan kaum Jabbarin di dalamnya. (Al Maa'idah: 20-26). Ini adalah peradaban mandiri Bani Israil kedua setelah era Ya'qub dan Yusuf di wilayah Kan'aan. Musa dan Harun mendampingi Bani Israil sampai saat mereka wafat. Ketika Musa masih hidup, Bani Israil tidak henti-hentinya menguji kesabaran Musa 'alaihissalam. Betapa banyak kasus-kasus kedurjanaan Bani Israil, sekalipun di hadapan Nabinya sendiri, Musa dan Harun.. Di antaranya: Mereka menyuruh Musa dan Allah berperang di Palestina, sedang mereka mau duduk-duduk saja; mereka meminta Musa agar membuatkan berhala untuk disembah seperti suatu kaum tertentu; mereka mengikuti Samiri, menyembah patung anak lembu dari emas; mereka hendak membunuh Harun 'alaihissalam karena selalu menasehati mereka; mereka hampir tidak melaksanakan
perintah Allah untuk menyembelih sapi betina, karena terlalu banyak bertanya; mereka bosan makan Manna wa Salwa dan meminta bawang, menitumun, kacang adas; dan lain-lain. Begitu sabarnya Musa, sehingga Nabi shallallah 'alaihi wa sallam pernah bersabda, "Semoga Allah merahmati Musa, karena dia telah diganggu lebih banyak dari ini (ujian yang menimpa Nabi), tetapi dia tetap sabar." (HR. Bukhari-Muslim) . Sangat mengagumkan kalau melihat ketabahan perjuangan Musa 'alaihissalam. Di dalamnya terdapat sangat banyak inspirasi untuk menghadapi konspirasi global seperti saat ini. Orang-orang Yahudi di jaman sekarang mengklaim mencintai Musa, padahal di era nenek-moyang mereka, Musa benar-benar mereka sia-siakan. Musa itu lebih dekat kepada kita (kaum Muslimin), daripada Yahudi laknatullah itu.

[7] Saya menyangka, sifat-sifat durjana kaum Yahudi merupakan kristalisasi dari sifat-sifat buruk mereka selama ribuan tahun, sejak perilaku saudara-saudara Yusuf 'alaihissalam, masa perbudakan di Mesir, kedurhakaan mereka kepada Musa, Dawud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Isa, dan Nabi-nabi lainnya 'alaihimussalam. Bahkan kedurhakaan mereka di hadapan Nabi shallallah 'alaihi wa sallam di Madinah. Dalam Al Qur'an disebutkan sebuah ayat yang terasa bagai petir menimpa muka kaum Yahudi: "Lalu ditimpahkanlah kepada mereka (kaum durjana Bani Israil) nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi secara tidak hak. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas." (Al Baqarah: 61).

[8] Peradaban terakhir Bani Israil yang wujud di muka bumi adalah Kerajaan Nabi Sulaiman 'alaihissalam di Palestina. Beliau adalah putra Nabi Dawud 'alaihissalam dari salah satu isterinya. Nabi Dawud adalah seorang pejuang yang berhasil membunuh Jalut (Goliath) di Palestina. (Oleh karena itu bangsa Barat mengenal kisah "David and Goliath"). Beliau ikut dalam pasukan Bani Israil di bawah pimpinan Thalut (Saul). Hal ini terjadi di masa Nabi Samuel 'alaihissalam. Al Qur'an menjelaskannya dalam Surat Al Baqarah ayat 246-251..

[9] Kerajaan Sulaiman memiliki keistimewaan, yaitu kekayaan materinya yang sangat besar. Ia terkenal menjadi buruan manusia di dunia, sebagai harta terpendam "King Solomon". Sampai saat ini kekayaan itu masih menjadi misteri, apakah sudah terkuak atau masih tersembunyi di balik permukaan bumi? Setelah masa Kenabian Sulaiman berlalu, kerajaan Bani Israil semakin merosot. Sampai akhirnya mereka dihancurkan oleh Nebuchadnezzar dari Kerajaan Byzantium (Romawi). Peristiwa itu disebutkan dalam Surat Al Israa' ayat 4-5.

[10] Setelah Bani Israil tercerai-berai di Palestina, mereka menyebar ke berbagai belahan dunia. Mereka pergi ke Eropa, ke Jazirah Arab, ke anak benua India, dan sebagainya. Itulah yang kemudian dikenal dengan istilah DIASPORA. Bani Israil tercerai-berai. Agar mendapat keamanan di Eropa, mereka menjilat kepada para penguasa Romawi. Termasuk menghasut Romawi agar memusuhi Isa 'alaihissalam dan para pengikutnya. Kisah Ashabul Kahfi adalah sebagian pecahan dari para pengikut Isa Al Masih 'alaihissalam.

[11] Perilaku Yahudi di Jazirah Arab sangat menarik. Mereka datang ke Madinah bukan hanya karena ingin menyelamatkan diri dari kekejaman Romawi. Tetapi mereka juga berniat menjemput Kenabian terakhir yang akan datang setelah Musa dan Isa 'alaihimassalam. Mereka ingin "memaksakan" agar Kenabian itu jatuh ke pangkuan mereka. Kenabian ini mereka butuhkan agar mampu membangun kejayaan Bani Israil kembali seperti di jaman Musa dan Sulaiman. Namun setelah mereka menyadari bahwa Kenabian tidak lagi di pihak mereka, tetapi jatuh ke tangan bangsa Arab, mereka marah sekali. Dalam Al Qur'an disebutkan: "Dan ketika datang kepada mereka (Yahudi) sebuah Kitab dari sisi Allah (Al Qur'an) yang membenarkan keberadaan apa yang ada di sisi mereka (Taurat), padahal sebelumnya mereka selalu memohon (kedatangan Nabi) agar dimenangkan atas orang-orang kafir. Maka ketika telah datang (Kenabian dan Wahyu) yang sangat mereka kenal, mereka mengkafirinya. Maka laknat Allah atas�
orang-orang kafir itu (Yahudi)." (Al Baqarah: 89).

[12] Yahudi Bani Israil sangat marah ketika tahu bahwa Kenabian jatuh ke tangan bangsa Arab, anak keturunan Ismail 'alaihissalam. Itu pun turun di Makkah, bukan Madinah tempat mereka tinggal disana. Yahudi telah habis-habisan dalam menanti kedatangan Nabi penerus Musa 'alaihissalam ini. Ratusan tahun mereka tinggal di Madinah, melebur bersama budaya Arab, berbahasa Arab, dan memberi nama anak-anaknya dengan istilah Arab, bukan istilah Hebrew (Ibrani). Bahkan mereka ikut terlibat dalam konflik antara kabilah besar Aus dan Khazraj di Madinah. Sebagian Yahudi membela Aus, sebagian mendukung Khazraj.

[13] Kemarahan Yahudi akhirnya tertuju kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Yahudi marah ketika Kenabian justru jatuh ke tangan bangsa Arab. (Al Baqarah: 90). Apalagi dalam Al Qur'an dijelaskan sangat banyak kebusukan-kebusukan Yahudi. Yahudi merasa dibenci oleh Allah. Bahkan tanda-tanda kekecewaan itu sudah muncul ketika Isa 'alaihissalam diturunkan. Anda tahu bagaimana misi Kenabian Isa? Salah satunya adalah: "Tidaklah aku diutus, melainkan kepada domba-domba sesat dari kalangan Bani Israil." Meskipun Isa adalah bagian dari Bani Israil, tetapi kedatangannya membuat muram wajah kaum Yahudi. Isa ternyata membawa Kitab Suci baru, yaitu Injil (bukan mengikuti Taurat atau Tabut dari jaman Nabi-nabi sebelumnya). Isa juga tidak henti-hentinya mengecam kejahatan perilaku Bani Israil. Isa dianggap lebih dekat kepada murid-muridnya daripada ke kaum Bani Israil sebagai sebuah etnik. Kemarahan itu semakin menjadi-jadi setelah Kenabian terakhir jatuh ke tangan bangsa
Arab. (Al Baqarah: 90).

[14] Kemudian terbukti bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallah 'alaihi wa sallam tidak hanya menyalahkan perilaku jahat kaum Yahudi. Tetapi ia juga menyebabkan kaum Yahudi tercabut akar-akarnya dari Jazirah Arab. Sejak Islam datang, kabilah-kabilah Yahudi tersingkir, seperti kabilah Nadhir, Qainuqa, Quraidhah, hingga benteng terakhir mereka di Khaibar.

[15] Setelah mengalami kekalahan berat di masa Nabi shallallah 'alaihi wa sallam dan Khalifah-khalifah setelahnya, kaum Yahudi menyingkir dari Jazirah Arab. Mereka bergabung dengan Yahudi-yahudi lain di Eropa. Dalam masa ratusan tahun Yahudi menyebar di berbagai negara Eropa, seperti Spanyol, Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Belgia, dan sebagainya.

[16] Kaum Yahudi dalam mengembangkan komunitas, caranya sangat unik. Mereka tidak berbaur dengan masyarakat setempat, bahkan mengharamkan asimilasi. Mereka memelihara warisan-warisan agamanya, terutama membangun kesombongan etnik sampai melampaui batas. Mereka menjalankan bisnis berbasis ribawi dan mereka melakukan ritual-ritual pengorbanan. Dalam ritual pengorbanan, mereka membunuh warga setempat untuk dikuras darahnya, lalu dipakai untuk persembahan. Begitu kejamnya, sampai mereka membuat alat semacam drum yang di dalamnya penuh dengan paku-paku. Di bagian bawah ada saluran untuk mengalirkan darah. Orang yang dikorbankan, dimasukkan drum itu, sampai tubuhnya penuh luka tertusuk paku, lalu darah mengucur ke bawah. Ritual semacam ini kemudian terbongkar, sehingga Yahudi diusir dari negara-negara tertentu di Eropa, salah satunya dari Spanyol. Spanyol melarang Yahudi tinggal di negerinya sampai saat ini, karena kekejaman mereka dalam soal ritual keji itu.

[17] Setelah terusir dari Eropa, Yahudi kesekian kalinya menyebar ke negara-negara lain yang masih mau menampung mereka. Kebetulan waktu itu rakyat Eropa sedang mulai eksodus menuju benua Amerika yang baru ditemukan oleh Columbus. Yahudi ikut di dalamnya. Sampai Amerika merdeka dari tangan Inggris, Yahudi telah eksis di dalamnya. Hingga ketika itu Benyamin Franklin mengingatkan bangsa Amerika tentang bahaya kaum Yahudi. Dia menyebut Yahudi seperti bangsa "vampire" yang tidak bisa damai dengan bangsa lain. Tepat sekali ucapan Benyamin Franklin, sebab dia telah membaca sepak terjang Yahudi di Eropa. Namun sayang, bangsa Amerika tidak memahami arti peringatan Benyamin Franklin tersebut, sehingga apa yang dia takutkan sekitar 400 tahun silam, benar-benar terjadi. Krisis finansial di Amerika saat ini adalah akibat nyata dari sistem ekonomi ribawi Yahudi.

[18] Satu titik sejarah yang jarang diperhatikan oleh para ahli sejarah, yaitu kedatangan Yahudi ke wilayah Turki Utsmani. Kejadian ini terpisah jarak sekitar 700 atau 800 tahun sejak era Nabi shallallah 'alaihi wa sallam. Tentu setelah masa selama itu, peristiwa kejahatan Yahudi di Madinah telah dilupakan. Yahudi diterima dengan tangan hangat di tengah-tengah masyarakat Turki Utsmani. Hal ini juga merupakan aplikasi dari ajaran Islam yang memperbolehkan di dalamnya orang Yahudi dan Nashrani tinggal, selama mereka membayar jizyah. Yahudi tidak dianiaya di negeri ini, mereka diberi pelayanan dan penghormatan, layaknya warga negara Islam. Tentu saja, Yahudi berusaha "bersikap sopan". Di seluruh dunia tidak ada yang memperlakukan mereka dengan manusiawi, selain Peradaban Islam. Disini Yahudi tidak mungkin akan melakukan ritual pengorbanan yang mengerikan itu. Lagi pula, Yahudi waktu itu tinggal di bawah negeri Islam. Mereka tidak takut akan dikutuk oleh
Allah, sebab negeri Islam menjadi pelindung mereka. Di Turki Utsmani, Yahudi tidak melakukan kebiasaan-kebiasaan bejat mereka. Yahudi berlaku baik. Tanpa diduga, ternyata disinilah Yahudi mempersiapkan segala konsep-konsep kejahatan global mereka. Kemurahan Khilafah Islam justru dimanfaatkan Yahudi untuk mempersiapkan imperium kejahatan di seluruh dunia, seperti kita saksikan saat ini.

[19] Selain mengkhianati Khilafah Islam, Yahudi juga mempersiapkan beberapa jurus maut untuk meruntuhkan peradaban Islam, yaitu:

キ Yahudi menyebarkan guru sebanyak-banyaknya di tengah masyarakat Turki Utsmani. Guru-guru itu tidak menyebarkan prinsip-prinspi kekafiran secara langsung, tetapi menyebarkan filsafat humanisme August Comte. Dengan falsafah itu diharapkan anak-anak Turki akan kehilangan sifat furqan akidah Islam, lalu diganti sifat-sifat kemanusiaan saja. Tujuan dari gerakan ini adalah memisahkan generasi muda Turki dari sifat-sifat Islami. Karena itu pula, suatu saat generasi muda Turki hilang rasa hormatnya kepada Sultan Khilafah Islam, dan mereka mau mendukung gerakan Kemal At Taturk sang terkutuk.

キ Yahudi mendorong bangkitnya ideologi Nasionalisme Arab dan Dunia Islam. Dengan ideologi itu tidak ada lagi kesatuan Khilafah Islamiyyah. Kaum Muslimin terpecah-belah dalam berbagai bangsa yang egois sesuai etnik dan wilayahnya. Jika Khilafah Islamiyyah tetap berdiri, mustahil "Kerajaan Yahudi" dalam wujud Israel di Palestina akan bangkit. Kalau Anda saksikan bangsa Arab terpecah-belah menjadi negara-negara kecil, masing-masing saling konflik. Hal itu adalah kondisi yang diinginkan oleh Yahudi. Di jaman itu Jalaluddin Al Afghani sangat aktif berdiplomasi untuk memerdekakan negara-negara Arab dari tangan penjajah. Tetapi di kemudian hari terbuka hasil-hasil penelitian bahwa Al Afghani adalah anggota setia Freemasonry. . (Salah satunya buku terbitan WAMI tentang gerakan-gerakan pemikiran keagamaan di dunia).. Peranan Al Afghani seperti memperkuat sifat Nasionalisme Arab, agar tidak bangkit lagi Khilafah Islamiyyah.

キ Sebagai ganti konsep Khilafah Islamiyyah, Yahudi menyebarkan paham demokrasi seluas-luasnya di seluruh dunia, termasuk di negeri-negeri Islam. Paham ini semakin mempersulit posisi Ummat Islam. Peluang-peluang kebangkitan semakin tipis, sebab demokrasi mengikuti suara terbanyak, sedangkan sebagian besar manusia cenderung mengikuti hawa nafsunya.

キ Yahudi menggerakkan seluruh mesin-mesin politiknya, termasuk agen-agennya di Amerika, Eropa, dan Timur Tengah untuk membidani lahirnya negara Israel pada tahun 1948. Secara politik, Inggris berada di balik pendirian Israel melalui Deklarasi Balfour. Tetapi secara potensial, Amerika mendukung penuh Israel. Dalam diplomasi internasional, isu Holocaust dipakai agar Yahudi dikasihani dunia internasional. Melalui hak veto yang dimiliki Amerika dan Inggris di PBB, Yahudi bisa lenggang kangkung mengejar ambisi-ambisinya.

キ Yahudi menyempurnakan usahanya, dengan menguasai media massa, membuat satuan intelijen yang handal (Mossad), menguasai pasar keuangan dunia, memiliki lembaga pusat ribawi IMF dan World Bank. Mereka juga menguasai Hollywood, dunia akademis, dunia riset, fashion, dan sebagainya. Termasuk dengan merilis agama baru di kalangan Ummat Islam, yang kita kenal sebagai SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme) . Inilah kenyataan yang kemudian disebut sebagai: "Yahudi menggenggam dunia!" Bahkan negara sekuat Amerika pun bertekuk lutut di bawah dominasi Yahudi. Termasuk Barack Obama yang sebentar lagi dilantik menjadi Presiden Amerika.

[20] Berdirinya Israel tahun 1948 adalah impian besar Yahudi sejak jaman Musa, Dawud, Sulaiman, bahkan jaman Nabi Muhammad shallallah 'alaihi wa sallam. Yahudi sangat membutuhkan "Kerajaan Bani Israil" untuk mengalahkan orang-orang kafir. Mereka sebenarnya beriman kepada Allah, dalam arti mereka percaya bahwa datangnya seorang Nabi akan membuat mereka mulia, dan musuh-musuhnya dari kalangan orang kafir terkalahkan. Tetapi setelah jelas di mata mereka bahwa Kenabian terkahir itu bukan untuk Bani Israil, maka mereka tidak lagi menanti kedatangan seorang Nabi. Lalu apa yang mereka lakukan? Mereka hendak mendirikan "Kerajaan Bani Israil" dengan kekuatan tangan, otak, dan uang mereka sendiri. Dan hal itu berhasil, tahun 1948 lalu. Lebih buruk lagi, mereka menganggap kaum Muslimin sebagai orang kafir. Padahal yang mengingkari Kenabian Rasulullah adalah mereka, sehingga disebut kafir dalam Surat Al Baqarah ayat 89.

[21] Sebelum Yahudi memutuskan mendirikan negara di Palestina, waktu itu ada tiga pilihan tempat: Palestina, Agentina, atau Ethiopia. Mengapa dipilih tiga negara ini? Jelas mereka telah melakukan perhitungan yang sangat cermat. Namun pilihan akhirnya jatuh ke Palestina, yang dekat dengan sumber-sumber peradaban Yahudi sendiri di Yerusalem dan sekitarnya. Namun resikonya, disini akan menghadapi banyak tantangan dari negara-negara tetangganya yang mayoritas Muslim. Untuk itu jelas Yahudi harus mempersiapkan segala macam kekuatan, termasuk mendidik agen-agen loyalisnya di negara-negara Arab.

[22] Sebuah pertanyaan menarik, mengapa selama puluhan tahun terjadi konflik berdarah di Palestina dan tidak selesai-selesai? Jawabnya, selain karena memang "Kerajaan Bani Israil" merupakan cita-cita peradaban Yahudi sejak ribuan tahun lalu; juga karena banyaknya tangan-tangan non Yahudi yang membantu negara tersebut. PBB, Amerika, Inggris, Rusia, IMF, World Bank, dll. jelas mengabdi kepentingan Yahudi. Tetapi harus juga disadari banyak agen-agen Yahudi yang tersebar di negara-negara Arab. Mereka setiap hari, siang dan malam menyembah kepentingan Yahudi. Mereka adalah orang-orang kafir, meskipun KTP-nya Islam. Di Mesir, Yordan, Syria, Turki, dll. banyak orang yang identitasnya Muslim, tetapi hatinya telah menjadi Yahudi.. Bahkan di negara-negara kaya seperti UEA, Qatar, Bahrain, dll. banyak dijumpai kemegahan jahiliyyah, yang sebenarnya merupakan hasil konspirasi Yahudi untuk menjauhkan Arab dari Islam. Kota seperti Dubai, Abu Dhabi, dan lainnya tidak
kalah liberalnya dari kota-kota di Barat.

[23] Dapat disimpulkan, kaum Yahudi itu bukan para pemeluk agama Samawi (ajaran Ya'qub, Yusuf, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Isa 'alaihimussalam) . Mereka adalah orang-orang yang sangat arogan dengan etnisnya.. Hakikat agama Yahudi adalah: pemujaan terhadap etnis mereka sendiri! Tidak ada satu pun ras manusia yang sangat ekstrim dalam soal etnis, selain Yahudi. Begitu ekstrimnya sampai mereka berani menghina Allah, marah ketika Isa membawa ajaran Injil, marah ketika Kenabian terakhir jatuh ke tangan bangsa Arab. Mereka menulis "kitab suci" tandingan bagi Taurat (Talmud), menyebut bangsa non Yahudi sebagai Ghaiyim, merusak kehidupan di muka bumi. Mereka merasa mulia sebagai pewaris "darah biru" Nabi-nabi, merasa diunggulkan atas semua ras manusia, pernah disumpah langsung oleh Allah dengan diangkat bukit Tursina di atasnya, dan lain-lain. Yahudi benar-benar mewarisi ideologi arogansi dari makhluk yang pernah mendebat Allah Ta'ala: "Ana
khairun minhu, khalaqtani min naarin wa khalaqtahu min thiin" (aku lebih baik dari dia, Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah). Pemerintah Yahudi, baik di Israel maupun di dunia internasional, adalah perwujudan dari imperium arogansi. Wajar jika simbol-simbol yang selalu mereka angkat selalu bernuansa satanic. Contoh, logo yang dipakai Manchester United (MU) saat ini the red devil. Dan ada ribuan logo atau lambang yang intinya memuja arogansi iblis laknatullah.

Yahudi Merusak Peradaban

Andai ambisi Yahudi satu-satunya adalah ingin membentuk "Kerajaan Bani Israil" seperti di masa Musa, Dawud, Sulaiman, apa susahnya membangun negara seperti itu? Toh, mereka memiliki uang banyak, strategi canggih, serta SDM handal. Tidak sulit bagi Yahudi membangun negara di sebuah sudut dunia. Selama ini banyak negara-negara berdiri dengan modal lebih buruk dari Israel. Negara seperti Bosnia, Chechnya, Kamboja, Myanmar, Timor Leste, dan lainnya tidak memiliki persiapan semegah milik Yahudi. Lagi pula, mengapa Israel harus mendirikan negara di Tanah Al Quds yang merupakan wilayah milik Ummat Islam? Bahkan ia didirikan di jantung peradaban Islam, di Timur Tengah.

Andai Yahudi sudah tidak menemukan solusi lain, selain harus menegakkan "Kerajaan Bani Israil" di Palestina, mengapa mereka harus juga menghancurkan peradaban manusia di dunia? Mengapa Yahudi tidak cukup menempuh cara-cara politik atau militer, tanpa harus menghancurkan peradaban manusia? Kenyataan yang sangat menyakitkan, berdirinya Israel ditempuh bukan hanya dengan menteror warga Muslim Palestina, tetapi juga dengan menyebarkan kehancuran peradaban di seluruh muka bumi. Lihatlah di dunia selama ini, adakah yang selamat dari film Hollywood, media massa Yahudi, bank ribawi, IMF dan World Bank, pornografi, seks bebas, prostitusi, narkoba, perjudian, dan lainnya? Hingga ke anak-anak balita pun, banyak "diracuni" oleh kartun-kartun Walt Disney.

Ternyata, di luar persangkaan kita semua, Yahudi justru sangat mempercayai khabar Al Qur'an. Sebenarnya, mereka mengimani ayat-ayat Al Qur'an, tetapi anehnya mereka bersikap konfrontatif terhadap Al Qur'an. Yahudi sangat mengerti ayat-ayat dalam Surat Al Israa' berikut ini:

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar."

Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.

Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri. Dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam Masjid itu (Al Aqsha), sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (Surat Al Israa': 4-7).

Kehancuran pertama Yahudi terjadi saat sisa-sisa Kerajaan Sulaiman dihancurkan oleh Nebuchadnezzar, sehingga bangsa Yahudi tercerai-berai. Adapun setelah kehancuran pertama ini, mereka akan menjadi kuat dan bisa mengalahkan musuh-musuhnya. Hal itu terjadi saat sekarang ini, ketika "Yahudi menggenggam dunia". Dan nanti di puncak kezhalimannya, Israel akan dihancurkan sebagaimana sisa Kerajaan Sulaiman dulu dihancurkan. Pertanyaannya, mengapa kehancuran kedua itu tidak dihitung saat Yahudi dihancurkan oleh Spanyol atau NAZI Jerman? Jawabnya sederhana, sebab waktu itu Yahudi belum memiliki wilayah sendiri. Mereka masih numpang di negeri orang. Adapun saat ini Yahudi sudah bermukim di suatu (Palestina) tempat sebagaimana Kerajaan Sulaiman dulu.

Yahudi sebenarnya mengimani "jadwal sejarah" sebagaimana disebutkan Al Qur'an di atas. Mereka yakin, dirinya akan diberi kesempatan untuk merajalela di muka bumi. Hal itu terbukti sebagaimana kenyataan saat ini. Hingga Mahathir Muhammad mengecam dominasi Yahudi, dengan mengatakan bahwa 6 juta Yahudi bisa mengendalikan 6 miliar manusia di dunia. Yahudi tidak merasa cukup dengan hanya mendirikan Israel, bahkan tidak cukup dengan menempuh jalur politik, mereka benar-benar ingin merajalela di bumi dengan segala kedurhakaannya.

Lalu siapa yang ingin dilawan Yahudi? Mereka tidak sekedar ingin melawan Muslim Palestina, Hamas atau Syaikh Ahmad Yasin, dunia Arab dan Ummat Islam sedunia, atau segala peradaban manusia. Tetapi mereka ingin melawan Allah Ta'ala dengan segala kekuatan yang mereka miliki. Yahudi adalah satu-satunya ras manusia yang berani menghina Allah dengan ucapan mereka: "Tangan Allah terbelenggu. " Kemudian mereka dikutuk oleh Allah karena perkataannya itu. (Al Maa'idah: 64). Mereka pula yang berani mengatakan, "Sesungguhnya Allah itu fakir dan kami kaya raya." (Ali Imran: 131). Disini ada dendam sejarah yang amat sangat parah di hati kaum Yahudi terhadap eksistensi agama Allah.

Aneh memang, Yahudi mengimani khabar Al Qur'an, tetapi sekaligus menentang eksistensi agama Allah (Islam). Sifat mereka persis iblis yang mengimani Allah, tetapi mendurhakai- Nya. Untuk merealisasikan maksudnya, Yahudi mengangkat simbol "Messiah", yang pada hakikatnya adalah dajjal laknatullah. Dajjal disebutkan oleh Nabi sebagai fitnah terbesar bagi orang-orang beriman.

Maka janganlah heran dengan kezhaliman Yahudi saat ini di Palestina. Ia adalah sebagian penampakan atau konsekuensi dari dendam sejarah mereka. Awalnya, Bani Israil hanyalah sebuah kaum dengan perilaku tertentu. Perjalanan sejarah mereka yang sangat panjang melahirkan watak durjana luar biasa. Dan ternyata, watak Bani Israil itu "telah disiapkan" untuk menjadi cobaan di akhir jaman. Dulu para ahli tafsir merasa heran, mengapa A Qur'an banyak sekali bicara tentang Yahudi? Padahal setelah tercerai-berai di Madinah, mereka nyaris lenyap (mungkin karena eksodus keluar dari negeri-negeri Islam). Karena itu sebaik-baik usaha untuk melawan Yahudi adalah memahami sifat-sifat mereka dalam Al Qur'an (khususnya Surat Al Baqarah). Dan satu lagi, yakinlah bahwa serangan Israel ke Gaza bukan serangan terakhir mereka. Itu hanya delay sebelum go with new aggression!



Senin, 09 Februari 2009

" Mencari Tuhan "

Memang dalam al Qur’an banyak dibahas masalah akidah, tentang keimanan dan panjang lebar diuraikan contoh proses keimanan yang dilakukan nabi Ibrahim as . Oleh sebab itu nabi Ibrahim as dikenal sebagai nabi aqidah, karena dalam perjalanan spiritualnya Ibrahim mengalami proses yang sangat dinamis dan juga sangat mendasar.

Seperti dijelaskan dalam surat Al Anbiyaa ayat 50-70. Dalam ayat itu dikisahkan proses nabi Ibrahim membangun kesadaran masyarakatnya bahwa patung (berhala) bukan Tuhan yang sesungguhnya, karena patung itu tidak bisa memberikan pertolongan, bahkan Ibrahim menunjukkan eksperimennya, dia hancurkan patung-patung itu untuk membuktikan bahwa patung itu memang bukan Tuhan .

Kemudian dalam surat Al An’am ayat 74-79. Di ayat itu diterangkan bagaimana Ibrahim mencari Tuhan dengan pendekatan yang jujur dan rasional, sehingga datang gelap malam tak ada satu pun manusia yang berkutik, tidak ada yang memiliki kekuasaan lagi, semua kehidupan terhenti ketika datang gelap malam. Kesimpulannya manusia dan alam semesta ini ditaklukkan oleh gelap malam dan pada saat gelap itu nabi Ibrahim melihat sebuah bintang dan dia berkata inilah Tuhanku, tetapi bintang yang dipertuhankan itu lama kelamaan sirna. Dan Ibrahim melihat alternatif lain, ada bulan, inilah Tuhanku tapi bulan juga sirna .

Apa yang terjadi pada nabi Ibrahim? Ternyata dia gagal mencari Tuhannya. Dia gagal mencapai Tuhannya, dia tidak bisa meraih Tuhannya dengan indranya dengan matanya, telinganya, tangannya bahkan dengan fikirannyapun dia mencoba membayangkan macam apa wujud Tuhan, Ibrahim gagal.

Rupanya memang Allah itu Al Ghaib, suatu yang misterius dan Ibrahim memang gagal mencapai Tuhannya dengan kemampuan yang ada pada dirinya. Tetapi untuk mengatakan bahwa Tuhan itu tak ada, justru pengalaman Ibrahim selama ini mengarahkan pada kesimpulan, mesti ada sesuatu yang mengendalikan alam ini, Tuhan itu mesti ada. Tapi yang mana? Akhirnya nabi Ibrahim bersikap sebagaimana terungkap dalam Q S. 6 : 79.

Tapi dari situ Ibrahim hanya bisa mengetahui bahwa Dia, Tuhan itu tetap Gaib. Oleh sebab itu siapa Dia, sebagai zat dalam al qur’an juga tidak dikenal. Istilah istilah keTuhanan dalam alqur’an , hanya nama- nama yang menjelaskan sifatnya saja, zatnya tidak diperkenalkan (Asmaul Husna 99).

Kemudian ada lagi 2 nama yang menjelaskan tentang Dia, tapi menjelaskan tentang kedudukannya saja, Rabbun dan Ilaahun. Rabbun artinya pemilik dan penguasa, pendidik, pemelihara, pengendali, yang menjelaskan kedudukan dan Ilahun berasal dari kata Laha dan Ilaha yang berarti sesuatu yang abdi, yang dicintai, yang dikejar, yang diingini, yang didamba, yang diharap.

Jadi zat itu sendiri apa disebutnya? Memang ada satu istilah yang dalam Al-Qur’an yang banyak dipakai yaitu Allah sebagai nama zat. Allah itu selain sebagai Tuhan alam semesta, dalam Al-Qur’an dijelaskan pula sebagai sifat dan kedudukanNya, sebagian lagi ada ulama yang menjelaskan, ada lagi nama yang menjelaskan sebagai isim yaitu Allah. Tapi soal ini sebagian ulama ada perbedaan pendapat.

Pertama dari sejarah, kalau dilihat kamus lisanul Arab, istilah Allah itu berasal dari Ilah, yang dicintai, yang diagungkan, yang dijadikan tempat bergantung. Jika demikian apapun bisa menjadi Ilah; yang dicintai, yang dikejar, yang didamba, segala yang diingin dan diharap itu namanya Ilah. Tetapi apakah yang segala diharap itu menjadi Tuhan alam semesta? Ya tentu tidak.

Jadi ada Ilah subyektif, manusia yang menginginkan, manusia yang mendambakan, manusia yang mengejar, maka sesuatu yang dikejar oleh manusia itu jadi Ilah bagi manusia itu sendiri. Tapi apakah arti Ilah dalam arti sesungguhnya?

Belum tentu secara obyektif. Oleh sebab itu Ilah itu bisa menjadi banyak, jama’nya adalah Alihah, dia bisa berupa benda-benda, orang atau ambisi jadi Ilah. Sehingga di kalangan bangsa Arab ada Ilah yang dikejar oleh manusia tapi fiktif, sekedar sesuatu yang diinginkan manusia saja, dicintai, dikejar, didamba manusia. Tapi ada Ilah yang sesungguhnya, memang Dialah yang diinginkan dan dikejar oleh manusia dan penguasa alam semesta. Ilah dalam arti sesungguhnya itu dalam bahasa Arab mendapat awalan alif lam, jadi Al-Ilah itu Allahu (dalam pengucapan) lam diidghomkan.

Tapi ada juga yang mengatakan bahwa Ilah itu isim jamad, nama dari zat Tuhan alam semesta ini. Tapi sebagian lagi mengatakan bahwa Allah ini bukan nama zat Tuhan, karena Allah berasal dari kata Ilah, sedangkan Ilah dan Robb hanya menjelaskan kedudukan.

Jadi arti Allah itu sesuatu yang sebenar-benarnya dicintai, dikejar, didamba. jika itu yang dipakai, nama sifatnyau ada, nama kedudukannya ada, Ilah dan Robb, lalu terbentuk kata Allah (Tuhan). Lalu nama zat mana?
Sebagian ulama mengatakan nama zat tidak ada. Kenapa? Karena penamaan sesuatu berarti pembatasan.

Sebuah pena akan menjadi pena ditangan saya, jika bentuknya begitu dan fungsinya begitu, tapi pena sudah tergiling mesin giling, hancur, dia sudah tidak disebut pena, sudah berubah bentuk, warna dan zat. Sedangkan zat Allah Maha Tidak terbatas. Zat Allah tidak ada yang pernah mengenali, sesuatu yang tidak terhenti, terbatasi. Mana bisa dinamai, jika dinamakan berarti membatasi.

Dalam ilmu Keimanan, maka Dia Yang Maha Kuasa, Tuhan alam semesta hanya bisa kita kenal:
1. Sifat-sifatnya saja
2. Kedudukannya saja, statusnya sebagai ilah dan robb
3. Soal nama zat, sebagian ulama mengatakan tidak ada nama zat, sehingga dalam mengenali Dia, ada sebuah istilah dinamakan Huwa, Dia, Hu.

Istilah Allah sebenarnya sudah digunakan orang Arab sebelum turunnya Al-Qur’an. Ayah Nabi Muhammad namanya Abdullah (artinya hamba Allah). Jadi orang Arab Quraisy itu sudah mengenal istilah Allah.
Tapi Allah itu bagaimana menurut orang Quraisy? Allah itu artinya ilah, sebenar-benar ilah. Tuhan alam semesta, yang Dia adalah bapak dari 3 orang dewa wanita (perempuan) yang disimbolkan dalam bentuk patung Latta, Uzza, Manna yang disembah itu. Lalu turunlah ajaran Islam dengan surat Al-Ikhlas. Surat itu bukan untuk mengcounter Trinitasnya Kristen, tapi untuk mengcounter konsep Trinitasnya Quraisy.

Kelebihan manusia itu mampu memilih. Kesadaran intelektualnya, kesadaran moralnya meyebabkan manusia bisa memilih. Dengan naluri ber-Tuhan itu kadang-kadang diarahkan pada bukan Tuhan yang sesungguhnya, belum lagi selain itu ada unsur hawa (kecenderungan- kecenderungan, keinginan-keinginan ). Keinginan-keinginan itu bisa membentuk manusia sehingga tidak ber-Tuhan kepada yang sebenar-benarnya Tuhan. Tetapi Tuhan yang secara adhoc (secara singkat) nampak memberikan pertolongan, memberi manfaat.

Misalnya pertolongan Tuhan tidak terlihat secara langsung. Sementara jika punya uang, pertolongan uang itu bisa jelas dan langsung kelihatan, maka orang sering terpeleset lalu memper-ilah uang, memper-ilah materi, memper-ilah pejabat yang punya kekuasaan. namun secara hakekat, secara substansial apakah betul uang itu memberikan daya tolong yang efektif? Sebenarnya tidak.

Ternyata naluri ber-Tuhan terkalahkan oleh kecenderungan- kecenderungan rendahnya yang sesaat, kepentingan sesaat.

Mencari Tuhan
Ditulis Oleh Wahfiudin
Selasa, 30 Oktober 2007

From:
"nugraha romadhan"

" Nikmatnya Memperbanyak Sujud "

Bersujud di hadapan Allah SWT termasuk ibadah yang paling mulia sekaligus sebagai sarana paling baik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena, kata Rasulullah Saw, “Saat dimana seorang hamba paling dekat kepada Tuhannya, Allah Azza Wajalla, adalah ketika dia bersujud....” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra)

Namun, tahukah Anda bahwa dengan banyak bersujud maka muatan-muatan listrik yang ada dalam tubuh kita akan kelaur karena diserap oleh bumi (tanah)?

Abdurrahman Al-Asymawi, seorang ulama terkemuka berkebangsaan Mesir dalam bukunya yang berjudul Basysyiru Wa La Tunffiru mengatakan, setiap hari tubuh menyerap cahaya dan tenaga listrik magnetis yang tak sedikit jumlahnya melalui perangkat-perangkat listrik yang kita gunakan. Sehingga dengan demikian tubuh ini menjadi alat untuk menyerap cahaya listrik magnetis dalam jumlah banyak. Artinya, tubuh mengangkut sejumlah tenaga listrik tanpa kita sadari.

Ketika kita mengalami influenza, badan terasa pegal, berat, sesak, malas dan lemah, hal ini menandakan bahwa tubuh sedang merasakan sesuatu dari muatan magnetis tersebut. Lalu bagaimana jalan keluarnya?
Melalui riset ilmiahnya, seorang peneliti Barat yang non-muslim mengemukakan bahwa metode paling jitu untuk “mensucikan” tubuh dari kandungan listrik positif (yang berbahaya bagi tubuh) adalah dengan mengarahkan ubun ke bumi(tanah) lebih dari sekali. Karena, tanah itu sifatnya negatif maka ia akan menarik muatan lsitrik yang positif, yang terdapat dalam tubuh. Hal yang sama juga terjadi pada aliran (kabel) listrik dari gedung-gedung yang dialirkan ke dalam tanah. Tujuannaya adalah untuk menarik muatan listrik yang ada pada petir ke arah tanah.

Lebih jaun dia menjelaskan metode paling tepat adalah menempelkan ubun-ubun ke tanah secara langsung seraya memfokuskan arah pandangan ke arah pusat bumi. Karena, dalam keadaan seperti itu, muatan lsitrik yang ada dalam tubuh akan terserap oleh bumi sacara lebih kuat dan dalam jumlah yang banyak. Dan yang lebih mengagumkan adalah seperti yang kita ketahui bersama bahwa secara ilmiah pusat bumi adalah Makkah Al-Mukarramah. Lebih tepatnya lagi adalah Ka’bah, sebagaimana yang terdapat dalam kajian-kajian geografis dan disepakati oleh mereka yang ahli di bidangnya.

Jika demikian, sujud kepada Allah SWT yang kita lakukan setiap kali melaksanakan shalat adalah merupakan sarana yang paling tepat untuk membuang muatan-muatan listrik berbahaya tersebut, sekaligus menjadi sarana yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, Sang Maha Pancipta. “....maka, perbanyaklah oleh kalian bersujud,” perintah Rasulullah (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Manfaat lain dari banyak bersujud adalah ampunan dan derajat yang tinggi di Allah SWT. Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah kamu memperbanyak sujud. Sesungguhnya jika kamu sujud satu kali saja karena Allah, maka Allah akan mengangkatmu satu derajat dan menghapuskan satu kesalahanmu.’” (HR. Muslim dari Tsauban Abu Abdullah)
Maka, dengan memperbanyak sujud, dua beban tubuh yang berbahaya, yaitu muatan listrik dan dosa, akan berkurang sehingga tubuh pun terasa ringan.

Dalam Shahih-nya, Muslim meriwayatakan bahwa Abu Firâs Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslamiy–khadim (pelayan) Rasulullah SAW dan termasuk ahlusshuffah-berkata, Suatu kali saya bermalam bersama Rasulullah SAW. Saya menyediakan air untuk beliau berwudhu dan untuk kepentingan beliau yang lain. Melihat hal tersebut, Rasulullah saw bersabda, “Mintalah!” Saya menjawab, “Saya mohon agar dapat menemanimu di dalam surga.” Maka beliau bertanya, ‘Apakah ada permohonan lainnya?” Saya menjawab, “Hanya itu, wahai Rasulullah.” Beliau lalu bersabda, “Bantulah aku untuk mewujudkan permintaanmu itu dengan banyak bersujud.”

Demikianlah Allah SWT mempersembahkan balasan yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya banyak bersujud di hadapan-Nya.

Tabe',
M.Yusuf Shandy
www.kaunee.com \\ www.myshandy.multiplte.com


From:
"yusuf shandy"



Minggu, 08 Februari 2009

" Umur Kita Buat Apa? "

Di sebuah siang, selesai shalat dzuhur penulis buka-buka Al-Qur’an. Tiba-tiba mata penulis tertuju pada sebuah ayat dalam surat Al-Anbiya (21). Ayat pertama dalam surat itu sangat menarik perhatian penulis. Berulang-ulang ayat itu penulis baca.
"Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya) ." (QS Al Anbiya’ : 1)

Bahwa semakin dekat kepada manusia, saat-saat perhitungan untuk mereka, tapi karena bodohnya, karena lalainya, mereka lalu mengabaikan semua itu. Hal ini mengandung makna perjalanan waktu terus berputar. Waktu makin dekat dan akan datang saatnya kita menghadapi perhitungan- perhitungan atas segala perbuatan di dunia, namun kita sering lalai. Karena bodohnya kita atau karena sibuknya kita.

Manusia adalah mahluk serba bisa, bisa bertindak apa saja. Manusia bisa menggali gunung yang di dalamnya banyak tanah, pasir dan bebatuan, tidak hanya yang kecil bahkan yang besar-besar. Manusia mampu menyelam ke dalam lautan yang sangat dalam sekalipun. Manusia mampu menjelajah ruang angkasa. Manusia mampu menciptakan kabel yang sangat tipis namun bisa dilalui oleh informasi yang sangat banyak, dengan fiber optik manusia bisa membuat jaringan komunikasi, mendekatkan jarak yang saling berjauhan di dunia, dengan teknologi internet.

Nah, segala macam kehebatan sains dan teknologi itu memperkokoh keyakinan pada diri kita bahwa manusia dapat melakukan segala-galanya. Kemudian muncul sebuah pertanyaan dalam benak penulis, kalau memang manusia bisa mengatasi semua masalahnya, suatu saat nanti, maka keyakinan akan keberadaan Tuhan bisa saja semakin hari semakin tipis. Kemudian manusia semakin punya harapan bahwa kehidupan itu bisa lebih dinikmati dengan semakin panjang karena segala-galanya bisa diciptakan. Kesan-kesan seperti itu muncul manakala kita menyadari keberadaan yang kolektif bersama manusia lain. Ketika kita sadar, kita hidup bersama manusia lain. Saling memberi, saling memberikan manfaat, saling memberikan sumbangan-sumbangan , maka seakan-akan muncul kekuatan itu, kepercayaan diri.

Tetapi seringkali kita lupa bahwa kita juga makhluk individual yang Allah mematikan manusia dengan konsep-konsep yang tidak kolektif. Setiap manusia menghadap Allah secara individu. Hubungan manusia dengan Allah bersifat individual yang tercermin pada Surat Al Baqarah ayat 286 :
… Lahaa Maa Kasabat Wa ‘alayhaa mak tasabat… artinya …seseorang mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…

Termasuk di dalamnya peristiwa kematian. Ia bersifat individual dan tidak bisa dicegah secara kolektif. Biasanya apabila manusia menghadapi kematiannya, ia akan sangat egois. Perhatikan kisah-kisah kapal laut yang karam, pada beberapa peristiwa kecelakaan kapal laut, para penumpangnya lebih menyelamatkan dirinya sendiri, meski di sampingnya ada anggota keluarga terdekat. Seorang ayah, secara sadar atau tidak, melepas anaknya. Suami istri saling melepas pasangannya ketika diamuk gelombang dan disaat mulai tenggelam.

Perhatikan juga Al Qur’an Surat ‘Abasa [80] ayat 33-37:
“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua) (33) pada hari ketika manusia lari dari saudara-saudaranya (34) dari ibu dan bapaknya (35) dari istri dan anak-anaknya (36) Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya (37)”

Dengan kemajuan teknologi, manusia akhirnya berasumsi kiamat rasanya masih panjang, karena segala macam problem-problem alam, bencana-bencana alam, masih bisa diatasi oleh manusia secara kolektif. Tetapi lain halnya dengan kematian. Ia tidak bisa dihindari secara kolektif maupun individual. Ia kapan saja bisa datang, sehingga wajar orang bilang kematian adalah kiamat kecil.

Jika kita renungkan, semakin hari kiamat kecil semakin dekat dengan kita. Usia kita, meski secara urut baris selalu bertambah, tetapi ternyata semakin mendekati azal, sementara kita tidak sadar apa yang sudah kita perbuat dalam hidup ini.

Allah Swt berfirman dalam surat Al Hasyr [59]:18
Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…

Lagi-lagi itu tadi; “Iqtaraba linnas” artinya telah semakin dekat bagi manusia saat-saat evaluasi untuk dirinya, saat-saat perhitungan untuk dirinya. Namun kebanyakan manusia terlena dalam kelalaiannya sehingga mengingkari keberadaan mati dan kiamat itu. Secara kolektif mungkin masih berpikiran kiamat ‘masih panjang’ tetapi secara individual tidak lama lagi kita akan mati. Apabila pada setiap pertambahan tahun terjadi pengurangan jatah kehidupan. Sedangkan Allah membatasi usia hingga umur 40 tahun, sekarang 39 tahun, maka sisa satu tahun lagi. Betapa singkat waktu tersisa bagi kita. Rugilah kita apabila hidup tidak diisi dengan iman dan amal shaleh.

Berbicara masalah waktu ada beberapa hal yang berhubungan dengan waktu, antara lain :
• Waktu adalah sesuatu yang unrenewable, sesuatu yang tidak bisa diperbaharui,
• Waktu adalah sesuatu yang unsubstituted, sesuatu yang tidak bisa diganti,
• Waktu adalah sesuatu yang unrecycled, sesuatu yang tidak bisa diulang.

Untuk memahaminya kita ambil permisalan salah satu sumber daya alam kita, minyak bumi. Minyak merupakan sumber daya alam yang terpendam didalam bumi. Fosil-fosil yang ratusan ribu mungkin jutaan tahun terpendam di dalam bumi mendapat tekanan dan temperatur tinggi berubah menjadi minyak. Tetapi ketika minyak sudah disedot keluar dan dibakar, orang tidak bisa memperbaharui, tidak bisa menanam bibit minyak lagi, dia sumber daya alam yang unrenewable, yang tidak bisa diperbaharui. Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan, contoh pohon padi, setelah selesai dipanen, kita bisa cari bibitnya, benihnya. Lalu kita tanami kembali. Pohon padi adalah sesuatu yang newable, bisa diperbaharui. Sedangkan waktu tidak bisa diperbaharui kembali.

Tetapi walaupun minyak habis dan tidak bisa diperbaharui, dia masih bisa tersubstitusi artinya ada alternatif pengganti. Jika minyak habis masih ada energi batu bara, energi panas bumi, energi nuklir. Sedangkan yang namanya waktu bukan saja tidak ada alternatifnya, tetapi juga tidak ada pengganti (unsubstitusi) . Jadi jika waktu telah habis/berlalu maka tidak ada apa-apa lagi.

Jika waktu bisa diulang (recycled) mungkin kita ingin jadi kanak-kanak lagi. Karena masa kanak-kanak itu masa-masa indah, masa-masa tanpa problema. Terkadang waktu membuat manusia lupa diri bahwa dia sesungguhnya memiliki kelemahan. Kira-kira melalui cara apa kita bisa introspeksi terhadap diri kita, karena selama ini kadang kita tidak merasa kalau kita telah berbuat suatu kedzaliman atau kesalahan kepada pihak lain, mungkin ada langkah-langkah tertentu agar kita juga mengingat kembali kalau kita salah ?

Masalahnya adalah apakah kita bisa melihat diri kita jika kita masih ada di dalam diri sendiri? Mari kita ambil sebuah ilustrasi. Mengapa dalam sebuah pertandingan sepakbola, di dalam stadion, penonton yang berada di tribun atas lebih pintar dari pemain yang ada di lapangan? Karena penonton yang ada di tribun atas berjarak dengan permainan, maka penonton bisa melihat seluruh permainan. Jarak pandang pemain hanyalah apa yang ada di depannya, sedangkan pendangan penonton di tribun atas lebih luas. Mereka bisa melihat kekosongan, kekurangan, kelebihan atau kesalahan pemain. Begitu juga dalam hidup, apakah kita bisa melakukan evaluasi jika kita masih terlibat dalam aktifitas kehidupan?

Kita cenderung baru bisa menghargai isteri kalau sedang jauh darinya. Jika isteri tak ada terpaksa harus masak sendiri, mencuci sendiri, dan lain-lain. Para istri juga baru bisa menghargai suami jika sedang jauh dari suami. Jika suami pergi keluar kota, turun hujan lalu atap rumah bocor, banyak air tergenang di dalam rumah, lalu mulai berangan-angan ”jika saja suamiku ada…, ah kan, lumayan bisa memperbaiki atap yang bocor.”
Jadi agar kita bisa mengevaluasi diri, lepaskan ego. Keluar dari kehidupan diri, keluar dari rutinitas. Untuk bisa melakukan observasi kita harus membuat jarak.
Source: www.radix.co. id / www.wahfiudin. net

Umur Kita Buat Apa?
Ditulis Oleh Wahfiudin Rabu, 07 November 2007
From:
"nugraha romadhan"


" Shinta Nuriyah Wahid : Leher Wanita Bukan Aurat ? "

Jakarta (Arrahmah.Com) - Sebuah pendapat aneh dan nyeleneh muncul dari Shinta Nuriyah Wahid, Istri Gus Dur. Di depan karyawan Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi (RSMKB), wanita yang sehari-hari hanya mengenakan kerudung ini mengatakan bahwa leher wanita tidak mengapa diperlihatkan, karena bukan aurat.

Peryataan yang bertentangan dengan ayat-ayat Allah SWT di dalam Al Qur’an dan banyak hadits Rasulullah SAW ini disampaikan oleh Shinta Nuriah Wahid dalam rangka memantapkan manejemen RSMKB yang sedang kesandung masalah akibat melarang seorang karyawatinya untuk mengenakan jilbab syar’i ketika melaksanakan tugas di RSMKB.

Shinta Nuriyah Wahid memang diundang berbicara oleh pihak manejemen RSMKB dalam rangka menjelaskan bagaimana aurat menurut pemahaman Islam. Sayangnya, alih-laih mendapatkan penjelasan yang syar’i dan nyunnah, peserta disodorkan pendapat yang aneh dan nyeleneh, hasil pemahamannya sendiri tentang aurat wanita.

Ketetapan Aurat Wanita

Entah memang tidak tahu atau sengaja menyembunyikan ilmu, Shinta Nuriyah Wahid seharusnya memahami dan menjelaskan ketetapan tentang aurat yang sudah diatur dalam hukum Islam. Aurat dalam hukum Syara’ telah ditetapkan dengan jelas, yaitu untuk kaum wanita (muslimah) meliputi seluruh anggota tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Leher adalah aurat, tangan merupakan aurat, begitu juga dengan kaki dan juga rambut, meskipun sehelai rambut, telinga dan raut muka juga merupakan aurat. Oleh karena itu seorang muslimah seharusnya menutup seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan dari laki-laki asing baik itu muslim atau bukan. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak dari mereka…”(QS. An-Nur:31).

Apa yang biasa nampak adalah muka dan telapak tangan yang mana ini berlaku bagi para muslimah,apakah sedang shalat atau mengerjakan haji, atau di hadapan Rasulullah saw yang diamnya menjadi bukti bahwa beliau tidak keberatan. Sebagaimana keterangan Rasulullah saw yang berkata kepada Asma’:

"Wahai Asma’ jika seorang wanita telah baligh, tidak ada bagian dari tubuhnya yang ditampakkan kecuali ini dan ini (menunjuk pada muka dan telapak tangannya).”

Ketetapan tentang aurat mengharuskan warna kulit harus disembunyikan, baik itu hitam, putih, merah atau coklat. Jika pakaian tersebut transparan, dan menampakkan warna kulit, maka tidak sah sebagai penutup aurat, oleh karena itu dianggap bahwa aurat ditampakkan dan tidak tertutup. Hukum Syara’ memerintahkan untuk menyembunyikan kulit dengan menyembunyikan warnanya. Dan bukti tentang ini diambil dari kisah Aisyah ra:

Asma’ binti Abu Bakar memasuki rumah Rasulullah SAW untuk mengunjungi saudaranya Aisyah dan dia memakai pakaian yang tipis (transparan) lalu beliau memalingkan muka dan berkata: :”Wahai Asma’ jika seorang wanita telah baligh, tidak ada bagian dari tubuhnya yang ditampakkan kecuali ini dan ini (menunjuk pada muka dan telapak tangannya).”

Sehingga pakaian yang tipis dianggap oleh Rasulullah saw sebagai pakaian yang menampakkan aurat, maka tidak sah sebagai penutup aurat. Bukti yang lain dari apa yang diceritakan Usama ibnu Zaid, ketika Rasulullah saw bertanya padanya tentang apa yang ia lakukan dengan kobtya (baju tipis) itu, Usama berkata bahwa ia memberikannya untuk dipakai istrinya. Lalu beliau berkata:

"Katakan padanya untuk memakai beberapa lapisan di bawah bajunya (kobtya), aku khawatir akan lekuk tubuhnya kemungkinan masih terlihat”.

Agenda Terselubung

Dari seluruh keterangan ini sangat jelas bahwa leher wanita adalah aurat yang harus ditutup, berdasarkan ayat Al Qur’an dan hadits yang shahih. Dengan demikian menjadi sebuah pertanyaan, syetan mana yang membisikkan Shinta Nuriyah Wahid sehingga berhujjah bahwa leher bukanlah aurat dan tidak mengapa diperlihatkan. Bukankah ini sebuah perkataan yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Al Hadits yang wajib ditolak dan dibuang jauh-jauh.

Pernyataan Shinta Nuriyah Wahid bahwa leher bukanlah aurat jelas-jelas sebuah peryataan yang menyesatkan umat Islam, khususnya yang menghadiri acara tersebut. Bisa jadi ada agenda terselubung dari Shinta Nuriyah Wahid, yakni ide feminisme liberal yang sengaja ditiupkan di setiap kesempatan.

Alhamdulillah, ada seorang pembaca Arrahmah.com yang menyampaikan masalah penting ini ke redaksi setelah mendengar berita di Radio Fajri FM pada tanggal 8 januari 2009. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua. Insya Allah! (M.Fachry/Arrahmah. Com)

From:
"agus prayitno"

Rabu, 28 Januari 2009

Apa itu malam Lailatul Qadar??

- Malam Lailatul Qadar adalah malam dimana seseorang yang mendapatkan malam itu
akan dihapus segala dosanya sebagaimana seorang bayi yang baru keluar dari rahim
ibunya.
- Malam Lailatul Qadar hanya datang pada malam-malam terakhir di Bulan Ramadhan
- tanda- tanda orang yang mendapatkan malam itu yaitu ia merasakan sejuknya udara
dimana malam itu hadir, ada pula yang pendapat yang mengatakan bahwa orang yang
mendapatkan malam itu dapat melihat surganya Allah SWT
- Kapankah malam itu tiba?? Wallahu'alam hanya Allah yang tau kapan malam seribu
bulan itu tiba
- Bulan Suci ramadhan adalah bulan dimana Allah melipatgandakan setiap amaliah yang
dilakukan oleh para hamba-hambaNya
- Di malam pertama Bulan Ramadhan Allah menjadikan para Hamba-Nya yang beriman
kepada-Nya seperti seorang bayi yang baru keluar dari rahim ibunya yaitu bersih, suci
tanpa ada setitik noda pun yang mengotorinya

- dimalam kedua diampunilah segala dosa-dosa nya baik dosa kecil maupun dosa besar
- sampai pada dimalam ke tujuh belas Allah memberikan kesempatan kepada hamba_Nya
untuk melihat syurga yang telah disediakan bagi orang-orang yang telah ditetapkan
oleh_Nya
-Dimalam terakhir disucikannya hati, jiwa, Raga nya oleh Allah untuk kemudian ia
kembali fitrah lahir batinnya
- Subhanallah Maha Agung Allah yang maha Pemurah lagi Maha Bijaksana begitu maha
Penyayang nya Ia sampai-sampai ia mau memaafkan segala kesalahan umat Nya yang sangat
banyak itu
- Maka jadilah engkau para hamba Allah yang pemaaf karena Allah Tuhan MU itu Maha Pemaaf
segala kesalahan.
- Innallaha Ma'as Shoobiriin " Allah akan selalu bersma orang yang bersabar"
jika engkau ingin selalu bersama Allah maka jadilah engkau orang-orang yang sabar senantiasa
memaafkan kesalahan orang lain.

Senin, 19 Januari 2009

" TANGKAL DAN AZIMAT "

FYI... Karena cukup banyak yang sengaja memakaikan "tangka palasik" ke anak, "tangka ibu hamil", jimat, ayat 1000 dinar dll... Berhati2lah...

Berikut beberapa hadis yang melarang
keras mereka yang cuba bermain dengan tangkal dan azimat. Tidak kira sama ada
tangkal itu dijadikan daripada al-Qur’an atau pun bukan al-Qur’an ianya tetap
bernama tangkal dan tetap haram dan syirik menurut maksudnya.

"Sesungguhnya jampi mentera (tamaim), tangkal dan guna-guna itu perbuatan
yang syirik". (H/R Ibn Majah (3521) at-Tibb. Ahmad (3433) Musnad. Abu Daud
(3385) at-Tibb)

"Sesiapa yang memakai (mengantung) tangkal, maka ia telah melakukan
kesyirikan". (H/R Turmizi (1998) at-Tibb. Nasaii (4011) Tahrimul ad-Dam)

"Sesiapa yang memakai (bergantung kepada) sesuatu (tangkal, azimat
pendinding) maka dia telah bertawakkal dengannya. Allah akan menyerahkan
urusannya kepada sesuatu itu". (H/R Turmizi dan al-Hakim)

"Barangsiapa yang memakai sesuatu (tangkal, azimat atau pendinding) maka
ia telah mewalikan atau bertawakal kepadanya". (H/R Ahmad (18035) Musnad
al-Kufiyyin)

"Dari Isa bin Abdulrahman berkata: Kami melawat Abdullah bin 'Ukaim dan
dia sedang sakit maka dikatakan kepadanya: (Ada baiknya) jika engkau memakai
sesuatu (tangkal). Maka beliau berkata: Apakah aku akan memakai sesuatu
(tangkal) sedangkan Rasulullah saw telah bersabda : Sesiapa yang telah memakai
sesuatu (dari jenis tangkal) maka dia telah bertawakkal kepadanya". (H/R
Ahmad (18030) Musnad. Turmizi (1998) at-Tibb)

"Sesiapa yang menggantung (memakai) tangkal maka ia telah melakukan kesyirikan."
(H/R Ahmad (16781) Musnad)

Islam telah mengharamkan setiap mukmin menyeru selain Allah untuk meminta
pertolongan yang melibatkan perkara-perkara yang ghaib. Begitu juga Islam
mengharamkan para mukmin dari menggunakan tangkal, azimat, pendinding atau yang
seumpamanya kerana benda-benda tersebut tidak akan memberi faedah atau sebarang
kesan kepada penggunanya sebagaimana penjelasan Allah Subhanahu wa Ta'ala
melalui firman-Nya:

"Katakanlah! Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai pelindung) selain
Allah mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah di langit dan di bumi
dan mereka tidak memiliki suatu saham pun dalam (urusan) langit dan bumi dan
sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya".
(Saba', 34: 22)

Sekiranya Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan bahaya, kemudaratan dan bala ke
atas mereka yang memakai tangkal, azimat atau pendinding, mereka tidak akan
dapat menjadikan benda-benda tersebut sebagai pelindung sebagaimana yang mereka
sangkakan.

Firman Allah:

"Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepada kamu, maka tiada yang
berkuasa menghilangkannya melainkan Allah dan jika Dia mendatangkan kebaikan
kepada kamu, maka Dia Maha Kuasa di atas sesuatu". (al-An’am, 6: 17)

Kesimpulan:

1 – Beramal-lah dengan ayat-ayat al-Qur’an dengan cara yang betul, dengan ilmu,
membaca, dan berusaha memahami serta mempelajarinya.

2 – Apa yang disarankan melalui ayat surah ath-Thalaq, 65: 2-3 itu sendiri
meminta kita untuk bertaqwa dan Allah akan memberi ganjaran rezeki dari jalan
yang tidak disangka-sangka serta akan membantu mereka yang bertaqwa dengan
mencukupkan keperluannya.

3 – Ayat al-Qur’an bukan bahan untuk dijadikan sebagai tangkal dan alat
pelaris. Malah perbuatan mempercayai tangkal itu sendiri termasuk ke dalam hal yang
syirik dan berdosa besar.

4 – Langkah terbaik untuk meminta pertolongan adalah dengan cara berdoa kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala yang Maha Pemurah, Maha Penyayang, dan Maha Pemberi
Rezeki. (Rujuk al-A’raaf: 180, az-Dzariyat: 58, dan al-Baqarah: 186) Di samping
sentiasa berusaha menggandakan usaha dan mempelbagaikan strategi
pemasaran/perniagaan yang betul.

http://bahaya-syirik.blogspot.com