Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Januari 2011

NASA Siapkan Misi Pencari Kehidupan di Mars

VIVAnews - Setelah lebih dari empat dekade terakhir manusia mengirim robot ke Mars, kini tiba waktunya memasuki tahapan baru. Perubahan orientasi penelitian tersebut akan dilakukan bersamaan dengan peluncuran misi kendaraan penjelajah Curiosity ke planet merah itu akhir tahun ini.

“Kami akan melakukan transisi dari pencarian air ke pencarian tanda-tanda kehidupan,” kata Doug McCuisition, Director of the Mars Exploration Program NASA, seperti dikutip dari Space, 20 Januari 2010.

McCuisition menyebutkan, Mars telah melewati berbagai tahapan geologi. Di satu miliar tahun pertamanya, diyakini planet itu berbentuk serupa dengan Bumi. Setelah itu ia mengalami periode volkanik dan kemudian mendingin dan kering seperti saat ini.

“Jika planet itu pernah seperti Bumi, apakah kehidupan pernah sempat hadir dan apakah ada kehidupan sampai saat ini di sana? Itu yang menjadi pertanyaan,” ucap McCuisition.

Misi Mars Science Laboratory yang akan digelar itu diharapkan akan menggunakan perlengkapan ilmiah terbaru di permukaan planet Mars, dalam bentuk kendaraan penjelajah bernama Curiosity.

Meski saat ini dua kendaraan penjelajah NASA yakni Spirit dan Opportunity yang masing masing berukuran tinggi 1,5 meter dan lebar 1,8 meter masih parkir di Mars, Curiosity akan hadir melengkapinya. Kendaraan itu akan memiliki ukuran sebesar mobil dan membawa instrumen yang lebih kompleks, termasuk lab kimia yang terintegrasi di dalamnya.

Ke depannya, NASA berharap bahwa mereka dapat membawa bebatuan dari planet Mars untuk dianalisa lebih lanjut di Bumi.

Peneliti Bikin Ayam Tak Sebarkan Flu Burung

VIVAnews - Sekelompok peneliti asal University of Cambridge dan The University of Edinburgh, Inggris yang mendapat suntikan dana dari pemerintah berhasil menemukan cara agar ayam tidak menularkan flu burung ke hewan lain dan manusia yang memeliharanya.

Caranya, peneliti memasukkan gen yang mampu memblokir flu burung agar tidak mereplikasi diri. Ayam yang dimodifikasi ini memang tetap bisa terinfeksi flu burung, akan tetapi sel mereka tidak memproduksi kopi virus flu. Sehingga, ayam yang ada di dekatnya tidak terserang.

Penemuan tersebut, yang dilaporkan dalam jurnal Science, disebutkan berhasil mengatasi masalah terbesar baik bagi para peternak unggas ataupun petugas kesehatan masyarakat yang khawatir bahwa ayam bisa menjadi sumber virus flu yang bisa menularkan pada manusia.

“Modifikasi genetik yang kami temukan ini merupakan langkah pertama yang signifikan untuk mengembangkan ayam yang sepenuhnya kebal terhadap flu burung,” kata Laurence Tiley, profesor dari Department of Veterinary Medicine University of Cambridge, seperti dikutip dari Medindia, 21 Januari 2011.

Selain itu, kata Tiley, penemuan ini juga akan membantu meningkatkan kesehatan unggas rumah tangga dan mencegah penyebaran epidemi flu burung di antara populasi manusia.

Meski menarik, masalah belum terpecahkan sepenuhnya. “Uji coba selama bertahun-tahun masih diperlukan untuk memastikan bahwa tidak ada bahaya tersembunyi dari modifikasi genetik seperti ini,” kata Tiley. “Selain itu, masih banyak tugas kehumasan untuk membujuk lembaga pemerintah dan konsumen agar menerima ayam yang telah dimodifikasi secara genetik ini,” ucapnya.

Saat ini, kata Tiley, ayam-ayam yang sudah mereka modifikasi ini hanyalah ditujukan untuk penelitian, bukan untuk dimakan oleh manusia.

Penjualan TV Disisihkan untuk Pembangkit Listrik

KOMPAS.com - Tak dipungkiri bahwa sebagian penduduk Indonesia di pelosok daerah belum terjangkau listrik. Jaringan pembangkit listrik umumnya sulit mencapai daerah-daerah terpencil karena medan yang berat. Padahal, di sejumlah daerah terdapat sumber listrik alternatif seperti aliran sungai untuk pembangkit listrik mikro hidro.

"Kita tidak usah mengatakan jangkauan listrik di Papua dan daerah terpencil lainnya. Di Jawa bagian selatan saja, banyak sekali daerah yang belum terjangkau listrik. Contoh saja di daerah Cianjur selatan, listrik masih susah," kata pimpinan Yayasan IBEKA (Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan) Tri Mumpuni belum lama ini.

Di beberapa daerah yang dijumpai Tri, seringkali terdapat wilayah yang masih menggunakan daya listrik 500 Watt untuk kebutuhan 10 KK. Bahkan di derah lain, daya yang sama digunakan untuk 17 KK. Jadi, menurut Tri, pembangunan infrastruktur listrik masih harus dilakukan.

Karena itu, Yayasan IBEKA yang aktif membangun pembangkit listrik skala kecil di pelosok daerah menyambut baik kerja sama Toshiba yang menyisihkan penjualan televisinya untuk membangun pembangkit listrik. Dalam peluncuran produk TV terbaru seri Power TV awal bulan lalu, perusahaan elektronika asal Jepang itu berkomitmen menyisihkan Rp 10.000 untuk setiap penjualan televisi selama pameran.

"Setiap pembelian Power TV selama pameran, kita akan menyumbangkan 10.000 rupiah per televisi untuk membantu pembangunan infrastruktur listrik," kata Fransisca Maya, Senior Marketing Manager Toshiba Indonesia.

Dana yang terkumpul nantinya akan diserahkan pada Yayasan IBEKA untuk disalurkan. Mengenai daerah sasarannya, Tri belum bisa menjelaskan. Toshiba dan Yayasan IBEKA nantinya akan bekerjasama dalam pembangunannya. Apa yang dilakukan kedua lembaga bisa menjadi dorongan bagi perusahaan elektronika lain untuk turut berpartisipasi dalam penyediaan energi. Televisi merupakan salah satu produk elektronika yang sudah meraykat dan menyedot total energi di rumah tangga cukup tinggi.

Kamis, 20 Januari 2011

Lintah Darat Ancam Kehidupan Laut?

Sejumlah peneliti asal Kanada yang mempelajari kehidupan ikan paus mencoba membuktikan teori bahwa belut laut yang menempel di tubuh ikan paus hanya sekadar untuk menumpang adalah salah.

Sea lamprey atau Petromyzon marinus (nama belut laut itu), sering terlihat menempel di tubuh ikan paus. Belut ini memiliki mulut serupa corong yang penuh dengan gigi dan lidah seperti silet.

Dari beberapa penampakan, belut itu terlihat menempel di ikan paus bungkuk di kawasan samudera Pasifik. Adapun di kawasan utara Atlantik, ia sering terlihat menempel di paus sikat.

Berdasarkan penampakan yang jarang terjadi itu, beberapa ilmuwan berteori bahwa sea lamprey mencari makan di kulit ikan paus. Sebagian ilmuwan lain berpendapat bahwa sea lamprey menggigit ikan paus agar mereka bisa diantarkan ke tempat-tempat yang jauh yang terpisahkan oleh samudera.

Akan tetapi, setelah diteliti di muara St Lawrence, di mana danau Great Lake bertemu dengan samudera Atlantik di kawasan timur Kanada, peneliti akhirnya mendapatkan jawabannya.

“Lamprey yang menempel ke ikan paus menggigit jauh ke dalam kulit untuk menghisap darah, tidak hanya sekadarn menumpang perjalanan,” kata Ursula Tscherter, Project Director Foundation for Marine Environment Research, seperti dikutip dari BBC, 19 Januari 2010.

Tscherter menyebutkan, banyaknya pemunculan ikan paus minke di kawasan muara St Lawrence memungkinkan penelitian ini dilakukan. “Padahal sebelumnya, menempelnya lintah di tubuh spesies ikan paus ini tidak banyak diketahui,” ucap Tscherter.

Peneliti kemudian mengambil foto saat tubuh ikan paus terlihat, sebelum dan sesudah ditempeli lintah tersebut.

Dari foto-foto yang didapat, terlihat bahwa di tempat yang pernah ditempeli oleh belut itu terdapat luka dan mengeluarkan darah. “Ini merupakan bukti pertama bahwa parasit itu makan dari darah ikan paus,” ucap Tscherter.

Petromyzon marinus, atau sering kali disebut juga sebagai ikan vampir pertamakali ditemukan secara tidak sengaja di kawasan danau Great Lake di tahun 1800-an. Sama seperti ikan salmon, sea lamprey lahir di perairan darat, migrasi ke laut saat dewasa dan kembali ke perairan darat untuk beranak dan mati.

Di sejumlah danau di kawasan utara Amerika, belut atau lintah ini juga telah dianggap sebagai hama. Pada tahun 1930 sampai 1940-an, Petromyzon marinus bertanggungjawab sebagai faktor pemicu anjloknya populasi ikan.

Meski tidak menyerang manusia, akan tetapi pernah terjadi kasus bahwa seorang perenang digigit dan dihisap darahnya oleh petromyzon marinus. Walau tidak sampai mematikan, namun belut ini baru bisa dilepas setelah perenang itu dibawa naik ke darat.

Kini peneliti terus mengamati kehidupan sea lamprey untuk memahami lebih lanjut seputar spesies itu agar dapat mengontrol populasinya yang terus melonjak dan mengancam kelangsungan hidup sejumlah spesies ikan.


Sumber
VIVAnews