Kamis, 29 Januari 2009

" RATING PALSU "

Ibaratnya sebuah hakim , rating adalah kata
penentu kemenangan atau kekalahan dalam dunia pertelevisian di Indonesia. Hidup
atau matinya sebuah program televisi sangat tergantung oleh angka rating yang
bagus. Kalau sebuah program televisi mendapat rating yang tinggi, maka dapat
diasumsikan akan ada banyak pendapatan dari iklan yang akan masuk ke televisi
tersebut. Namun sebaliknya bila rating sebuah program turun, televisi tersebut
kehilangan pemasukan iklan.

Dengan demikian rating adalah TUHAN bagi para
pekerja televisi. Mereka rela berjumpalitan kerja siang malam demi memperoleh
angka rating tersebut. Di Indonesia ,SATU- SATUNYA jasa penyedia rating adalah Nielsen
Media Research , perusahaan ini praktis menjadi tumpuan utama atau MONOPOLI
bagi semua stasiun televisi , biro iklan dan semua produsen pemasang iklan.


Selama 14 tahun terakhir ini Nielsen Media
Research juga selalu berhasil menampik semua tudingan yang mempertanyakan
keabsahan penelitiannya, maupun validitas data responden yang telah ditebarnya.
Namun sebenarnya jaminan mutu internasional itu hanyalah lip servis semata.
Kenyataannya sungguh jauh dari tampilan make up luarnya.

Yang pertama Nielsen Research
Indonesia tidak memiliki tenaga handal profesional yang direkrut dari luar
negeri demi menjaga kerahasiaan sistem mereka, seperti yang selalu diklaimnya.
Nielsen Indonesia yang sekarang banyak ditangani oleh para pekerja Indonesia ,
yang sebagian besar dari mereka adalah fresh graduated ( sebagian besar
adalah lulusan statistik dan matematika
). Sehingga kerahasiaan sistem mereka sebenarnya tidak benar- benar seperti
benda suci yang selalu mereka jaga kerahasiaannya. Mereka banyak merekrut
tenaga dari dalam negeri dengan anggapan bahwa tenaga dari Indonesia adalah
jauh lebih murah dibanding mempekerjakan tenaga dari negara mereka yang sudah
berpengalaman. Bahkan Hampir setengah dari tenaga lapangan Nielsen Media
Research adalah para mahasiswa yang belum lulus dengan hitungan tenaga magang.
Sehingga dengan tujuan efisiensi pada sumber daya manusia , mereka dapat lebih
banyak mendapat keuntungan.

Yang Kedua dengan banyak merekrut tenaga kerja baru lulus kuliah
dan mahasiswa magang, Nielsen Indonesia banyak memberikan toleransi kesalahan
data. Terutama data- data yang ada di lapangan. Sering sekali saya alami
penyimpangan data terjadi hanya karena keteledoran SDM semata- mata.

Yang Ketiga Untuk pemilihan demografis responden rating televisi
cenderung dilakukan dengan asal – asalan. Dan tidak diusahakan pemerataan pada sebaran datanya Misalnya , untuk mengetahui
berapa kecendrungan pemirsa untuk tayangan televisi A, mesti diambil jumlah
responden yang seimbang misalnya untuk kelas ekonomi atas 33,3%, kelas ekonomi
menengah 33,3 %, untuk kelas ekonomi bawah 33,3%, sehingga total 100%. Sehingga
angka rating yg didapat adalah lebih obyektif. Namun pada prakteknya , Nielsen
Indonesia banyak mengambil data responden sebagian besar dari kelas ekonomi
rendah.. Profil mereka sebagian besar adalah : ekonomi kelas rendah, berpendidikan
rendah, tidak mempunyai pekerjaan, bekerja sebagai pembantu rumah tangga,
pedagang kaki lima, karyawan toko, buruh pabrik, dan lain- lain. Hal ini
menjelaskan mengapa sebagian besar tayangan televisi nasional yang memiliki
rating tinggi justru yang memiliki cita rasa rendah dan apresiasi seni yang
rendah. Seperti musik dangdut, tayangan gosip artis, tayangan mistik, film-
film hantu, dan sinetron – sinetron picisan.

Tayangan –tayangan televisi yang justru bersifat
mendidik dan mencerdaskan akan selalu mendapat nilai rating yang rendah dari
Nielsen. Kebijakan ini diambil Nielsen karena ia tidak mau membayar uang
imbalan untuk respondennya. Sehingga responden yang diambil adalah kebanyakan
dari kaum ekonomi bawah agar bisa dibayar murah.

Yang Keempat Untuk pemilihan
responden secara geografis juga dilakukan dengan tidak merata. Sebaran data
yang diambilnya tidak pernah dilakukan dengan distribusi yang sama rata secara
nasional, melainkan sekitar lebih dari 60% datanya hanya terkumpul dari Jakarta
saja.

Yang Kelima sebagai imbalan ( honor ), responden rating hanya
mendapat souvernir senilai Rp 30,000 s/d Rp 50,000,- saja per bulannya.
Sehingga responden cenderung ogah- ogahan untuk menjaga integritasnya.

Yang Keenam Idealnya sebuah keluarga atau sebuah rumah yang menjadi
responden televisi menjadi reponden selama 6 bulan saja atau maksimal selama 1
tahun. Setelah itu Nielsen harus mencari responden baru. Secara statistik hal
itu perlu dilakukan demi menjaga obyektifitas data. Agar secara psikologis ,
mood responden tidak mempengaruhi data selanjutnya. Namun pada kenyataannya,
seorang responden kebanyakan bisa menjadi responden selama 7 TAHUN LEBIH. Untuk
hal ini adalah murni dikarenakan kemalasan dari manajemen Nielsen untuk
melakukan pemeriksaan ke lapangan.

Yang Ketujuh para responden rating Nielsen sama sekali tidak
mempunyai integritas. Dengan demikian , beberapa oknum televisi beserta oknum
Nielsen dapat memberikan “pesanan” kepada ratusan responden sekaligus agar
“memanteng “ program televisi tertentu, agar hitungan rating program tersebut
menjadi tinggi. Biasanya jumlah yang diajak adalah sekitar 100 s/d 700 orang
dari total 3,500 responden. dengan 700 orang berarti program tersebut
diharapkan sudah memegang rating 1/5 dari total rating. Biasanya tiap satu kali
“memanteng” ( demikian sebutannya ) tiap responden meminta bayaran Rp
100,000,-. Sehingga dengan 700 orang x Rp 100,000,-, oknum pihak televisi
tersebut hanya mengeluarkan uang Rp 70,000,000 saja per satu kali “manteng”.
Dengan begitu angka rating dapat dimanipulasi dengan mengeluarkan biaya yang
relatif murah sebenarnya bagi para stasiun televisi.

10 Okt 2007

RATING PALSU

"annafora leysus"

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Mantap, mohon maaf, ini mungkin cuma perasaan saya saja, tapi sepertinya tulisnanya terlalu menggebu", dan cenderung menjelek-jelekkan itu perusahaan, kan belum tentu betul, gimana kalau itu perusahaan rating nuntut seperti kasus rumah sakit internasional itu, sudah itu saja