Minggu, 08 November 2009

Soeryo Goeritno: Selama ini Trah Mangkunegoro terpecah

Untuk mengangkat eksistensi Trah Mangkunegoro I, pada Februari 2009 lalu terbentuklah Kekerabatan Trah Mangkunegaran I. Ketua Pendiri Kekerabatan Trah Mangkunegoro I Pangeran Sambernyowo, Ir KGPH Soeryo Goeritno MSc mengatakan selama ini Trah Mangkunegoro terpecah.



”Kami baru membentuk Kekerabatan Trah Mangkunegoro I yang selama beberapa ratus tahun lalu tidak eksis. Kami merasa terpanggil untuk ikut menyatukan Trah Mangkunegoro. Berhubung yang di dalam Mangkunegaran tidak aktif akhirnya berjalan sendiri-sendiri. Kami merupakan trah langsung tapi mereka tidak berkomunikasi dengan kami,” ucap Soeryo.
Saat ditemui wartawan usai audiensi dengan Walikota Solo, Ir H Joko Widodo (Jokowi), di Loji Gandrung, Soeryo mengemukakan kedatangan rombongan dari Jakarta itu salah satunya untuk sosialisasi tentang Kekerabatan Trah Mangkunegoro I.
Soeryo menilai selama ini belum terjalin komunikasi yang baik antara Mangkunegoro IX dengan Trah Mangkunegoro I. Dikemukakan Soeryo agenda lain yang akan dibahas dengan adanya Kekerabatan Trah Mangkunegoro I Pangeran Sambernyowo yaitu soal suksesi Mangkunegaran.
”Saya harapkan dari Pura Mangkunegaran dapat menjadi panutan dan berkomunikasi dengan masyarakat. Semua harus menyatu dan melihat kenyataan di luar,” tegas Soeryo.
Selain itu, Soeryo juga menyampaikan perihal rencana renovasi Mangkunegaran dengan anggaran dari Pemerintah Pusat Rp 25 miliar. Ditambahkannya, untuk pembangunan tiang-tiang yang keropos akan didahulukan Januari mendatang. Jokowi menuturkan, banyak pihak yang ingin berkontribusi ke Mangkunegaran. Untuk itu, kata Jokowi, pihaknya berusaha merespons dan menerima kedatangan Kekerabatan Trah Mangkunegoro I Pangeran Sambernyowo.
”Yang paling penting, jaringan-jaringan harus dihidupkan menjadi sebuah networking. Mereka merasa memiliki Kota Solo dan ingin memberikan kontribusi menjadikan Kota ini lebih baik. Mereka menanyakan soal revitalisasi Mangkunegaran,” kata Jokowi.
Saat ditanya soal kondisi keluarga Mangkunegaran, Jokowi melihat mereka sangat rukun. Dalam rangka kebaikan, dia ingin bisa mengakomodasi semua keinginan.
- Oleh : nad
Berita Terakhir

Solopos

Reproduksi seni tradisi

Dalam tiga bulan terakhir ini industri kreatif ramai diberitakan media. Kedai Informasi pun telah mengagendakannya sebagai topik sarasehan.

Namun kasus Bibit-Chandra “meledak” di media, menenggelamkan berita industri kreatif. Fenomena ini disebut efek penyekat–suatu berita menyembunyikan berita lainnya.


Untungnya, Don masih setia tuhu pada visi dan misi budayanya. Visinya, ”Kejayaan Budaya Tradisi”, sedangkan misinya: mengglobalkan seni tradisi dengan kreativitas. Wah, kok vulgar bin klise begitu. Seingat saya, visi dan misi ini pernah diucapkan Don saat fit and proper test ketika ia melamar pekerjaan di sebuah sanggar tari.
Seperti biasa, kami bersarasehan.
”Don, bagaimana caranya mengglobalkan budaya tradisi?.”
”Dengan teknologi, Pak. Seni tradisi, seperti seni tari, wayang, atau ritual-ritual tradisional, kita rekam di atas CD, kemudian kita edarkan ke mancanegara. Beres. Ini kata teman saya, seorang pembuat video amatir. ”
Pertama-tama mari kita beri aplus kepada juragan kecil kita atas kesuksesannya dalam menyerderhanakan persoalan. Justru di sini persoalan dimulai. Justru reproduksi mekanis ini yang bikin puyeng pengamat seni tradisi. Men-CD-kan tari Anglir Mendhung, umpamanya, atau pertunjukan wayang kulit, tidak sesederhana yang dibayangkan Don.
”Memangnya yang dibayangkan para pengamat apa, Pak?”
”Aura. Suasana sakral, magis, mistik, serta etika dan estetika tradisional yang lain, tidak bisa terangkut dalam CD.”
Don Sastro, budayawan lokal kita ini, tercenung. Ia bertanya kepada dirinya sendiri, masih pentingkah aura budaya di zaman teknologi? Masih relevan kah bicara soal estetika tradisional di zaman budaya massa yang beranak budaya pop, yang lebih banyak melahirkan kedangkalan daripada kedalaman? Ini sih bukan pertanyaan, tapi keprihatinan. Don prihatin terhadap semakin ngepopnya seni tradisi.
”Coba njenengan sekali-sekali mirsani wayang kulit, Pak. Isinya cuma goro-goro dan limbukan, sebab di situ Ki Dalang punya kesempatan berguyon ria. Kata para dalang, kalau tidak begitu, ndak ada yang nonton. Walau saya ndak suka, tapi inilah kenyataannya.”
Inilah kenyataannnya, seperti kata Don, adalah pandangan sosiologi pengetahuan. Fenomena semakin ngepopnya budaya tradisi ini menandakan bahwa kebudayaan memang harus selalu merespons dinamika masyarakat. Tidak ada kebudayaan yang tetap dan tegas dalam identitas budaya. Juga tidak ada yang murni dan monolitik. Budaya merupakan situs bagi proses-proses negosiasi yang tak putus-putus yang dilakukan oleh pelaku kebudayaan sebagai respons terhadap kondisi kekinian.
Terhadap teknologi, negosiasi dilakukan dengan reproduksi mekanis, seperti yang disebut di depan. Sekarang masalah reproduksi mekanis ini menjadi wacana di kalangan pengamat budaya. Masalahnya adalah reproduksi mekanis dipastikan akan mereduksi makna. Kita bisa merasakan kesakralan dan keadiluhungan Bedaya Ketawang ketika menontonnya secara “liver” di keraton, tetapi tidak di atas CD.
Makna berada pada saat produksi, kata Adorno. Keaslian terkait dengan auranya, dengan rohnya, yang dihidupi masyarakat di sekitarnya. Sementara pengamat budaya tradisi yang lain melihat makna ada pada konsumsi. Ketika Bedaya Ketawang, umpamanya, keluar dari keraton melalui reproduksi secara mekanis, maknanya menjadi sangat lain. Bedaya Ketawang akan koncatan kesakralannya.
Dirumuskan secara lain, ketika menjadi CD, yang keluar bukan ”seni” tari tradisi, melainkan hanya ”penanda” dari seni itu. Penanda bahwa CD tentang tari tradisi itu punya referensi ke tempat lain, mungkin dengan Keraton Surakarta, mungkin juga dengan Pulau Bali. Penanda tak lagi berisi secara esensial apa yang disebut sebagai kesenian tradisi.
Don Sastro bertanya: ”Lantas bagaimana jalan keluarnya, Pak?” Agak sulit menjawabnya. Tetapi saya katakan, harus kita sendiri yang men-CD-kan seni tradisi itu. Sebab kita lah yang lebih memahami aura dan rohnya. Sekurang-kurangnya, ini bisa mengurangi reduksi makna, yang selalu terjadi pada reproduksi mekanis. - Oleh : Mursito BM, Pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNS

Solopos

Sabtu, 07 November 2009

Seleksi harus dengan prestasi

Pekan-pekan ini, ribuan orang disibukkan dengan persiapan tes seleksi CPNS 2009. Ya hampir di seluruh kabupaten/kota secara serempak mengadakan seleksi penerimaan calon abdi negara. Tak terkecuali kabupaten dan kota di Soloraya.


Tak mau dikatakan sekadar formalitas, sejumlah Pemkab/Pemkot menambahkan persyaratan tambahan pada para pelamar. Salah satunya adalah sertifikat test of English as a foreign language (TOEFL).
Namun apa lacur? Di lapangan kabupaten/kota yang memakai persyaratan TOEFL justru dijauhi pelamar. Seperti di Kota Solo yang hingga hari ke empat pendaftaran pesertanya pun belum beranjak secara signifikan. Sebaliknya Kabupaten Karanganyar kebanjiran pelamar yang justru menurut BKD merupakan pelamar luar kota.
Saat ditelusur alasan para pelamar terbilang klasik bahwa sertifikat TOEFL adalah sesuatu yang sulit didapatkan dan dianggap berbelit. Celakanya ada juga pelamar yang justru memilih mencari sertifikat TOEFL ”tembakan”. Ironis memang, terlebih nantinya jika lolos mereka akan menjadi abdi masyarakat. Kalau mau ditelaah, penambahan persyaratan TOEFL, komputer dan sebagainya sejatinya merupakan upaya peningkatan kualitas calon PNS di masa datang. Lha bagaimana PNS mau maju jika saat seleksi saja mereka mencari lowongan dengan persyaratan paling minimal?
Sudah saatnya para pelamar mengubah pola pikir bahwa menjadi PNS juga membutuhkan kualifikasi prestasi. Bukan justru sebaliknya prinsip kalah cacak menang cacak justru jadi sugesti terbesar. Mau jadi apa negara ini jika aparatur negaranya juga hanya bermodal kemampuan sekedarnya?
Mental serba instan pun tampaknya sudah terlalu mendarah daging pada diri kita. Termasuk pada proses seleksi CPNS yang saat ini sedang berlangsung. Penambahan syarat tertentu justru dijadikan sebagai beban tambahan bukan justru sebagai persyaratan kualifikasi. Hasilnya bisa ditebak, karena minim syarat pelamar lebih memilih tempat lain dengan tingkat persyaratan lebih ringan. Ataupun jika tetap memaksa maka jalan pintas ditempuh. Maka jangan heran bila muncul sertifikat TOEFL Aspal (asli tapi palsu) dari lembaga pendidikan.
Bagi pihak penyelenggara ini juga menjadi sebuah tantangan. Pemkab maupun Pemkot hendaknya juga lebih transparan dalam pelaksanaan seleksi CPNS. Masih adanya rumor titipan, joki hingga praktik uang menunjukkan jika seleksi CPNS masih memilih celah untuk ditembus oknum-oknum tak bertanggung jawab.
Lepas dari itu semua, ke depan sudah saatnya seleksi CPNS harus lebih transparan dan independen. Bagi pelamar, silakan ubah paradigma bahwa seleksi CPNS bukan sekadar upaya putus asa untuk mendapatkan pekerjaan. Bagi penyelenggara, bukan hal tabu untuk membuat gebrakan. Penambahan persyaratan kualifikasi sekarang harus menjadi hal mutlak agar output seleksi diharapkan benar-benar yang memiliki kualifikasi prestasi. - Oleh :

Solopos

Wahai guru, bangunlah!

Bangun tidur, tidur lagi
Bangun lagi, tidur lagi


Pembaca tentu masih ingat lagu mendiang Mbah Surip di atas. Lagu yang terkesan kekanak-kanakan dan jenaka. Namun syair lagu ini terasa pas ketika melihat fenomena guru saat ini. Sebanyak 484 (54,38%) dari 890 guru tak lulus sertifikasi.


Penyebabnya, guru minim kreativitas. Dan yang lebih parah lagi, menurut pengamat pendidikan M Furqon Hidayatullah, guru cenderung lebih menekankan pada pencapaian kesejahteraan daripada meningkatkan mutu pendidikan (SOLOPOS, 12/10).
Menyaksikan fenomena tersebut, sungguh memprihatinkan. Mengapa mereka malah mengejar kesejahteraan? Ataukah guru tidak memahami bahwa resep sejahtera adalah ketika guru menjadi insan kreatif?
Akhir-akhir ini banyak dibahas masalah sertifikasi guru berikut efeknya. Pada awalnya, sertifikasi guru adalah untuk peningkatan mutu guru dan pada saat yang bersamaan akan meningkatkan kesejahteraan bersangkutan.
Namun ternyata, apa yang menjadi konsep awal sertifikasi tak sesuai dengan rencana. Artinya sertifikasi hanyalah sebuah bungkus untuk kepentingan pribadi guru dan fatalnya setelah itu guru “tertidur”, tidak menggali dan mengembangkan ide untuk meningkatkan mutu serta kreativitasnya dalam mengajar.
Berani berubah
Semestinya fenomena ini layak dicermati dan dijadikan kajian oleh badan pengawas pra dan pascasertifikasi. Jangan sampai esensi sertifikasi kabur tak berbekas. Pengawas sertifikasi ini pun hendaknya selalu merekonstruksi kompetensi apa saja yang menjadi menu wajib guru serta menyosialisasikannya.
Apakah karena proses awal dari sertifikasi yang kurang berkualitaskah yang kemudian mendorong hal ini terjadi. Misalnya, guru yang mempunyai sertifikat seminar pendidikan, namun sebenarnya dia tak pernah mengikuti seminar tersebut.
Ada pula, oknum yang bergentayangan selama pelaksanaan pendidikan latihan profesi guru (PLPG ). Oknum tersebut melayani berbagai jenis penugasan. Produk oknum tersebut yang paling diminati adalah membuatkan proposal penelitian tindakan kelas ( PTK).
Konsekuensi logis seorang guru yang akan dan telah menjalani sertifikasi adalah sadar untuk selalu belajar dan berkembang. Jangan sampai sertifikasi hanya sebagai bungkus dari kepentingan jangka pendek.
Hal ini jelas sangat bertentangan dengan ranah pendidikan. Ranah pendidikan adalah dinamis. Pendidikan akan selalu berubah menyesuaikan kebutuhan zaman. Hal ini tak luput dengan peran serta guru di dalamnya.
Diperlukan upaya riil para guru untuk selalu membuat perubahan-perubahan. Guru pun dituntut lebih berdaya untuk mengasah ketajaman dalam pengembangan yang lebih praktis. Misalnya seorang guru punya kesempatan berkembang dengan cara membuat aktivitas kreatif.
Masalah kreativitas tak melulu dikembangkan dalam pengelolaan kelas. Namun bisa pula dengan membuat kegiatan berdaya guna tinggi, seperti mentradisikan membaca di kalangan peserta didik dan masyarakat sekitar tempat tinggal guru, membuat penelitian yang berkaitan dengan bidang yang diampunya atau terjun ke masyarakat membuat pencerahan tentang lingkungan.
Untuk tindakan di dalam kelas, seorang guru bisa mengembangkan kemampuan peserta didik dengan konsep multiple intelligence (kecerdasan majemuk). Selalu membuat terobosan baru di bidang pengajaran. Membuat rancangan belajar yang interaktif misalnya dengan teknik diskusi dibanding mengajar konvensional. Inovasi yang dilakukan ini akan memunculkan gairah baru untuk selalu mengklopkan gaya mengajar guru dan gaya belajar siswa.
Jika hal ini dilakukan guru, penulis yakin kreativitas akan terpantik dan hasilnya akan terlihat. Sekecil apapun tindakan guru yang telah berlabel sertifikasi akan selalu memberi makna positif.
Jika semua guru berpikiran bahwa memaknai proses kreatif adalah sebuah tantangan maka semua guru akan senantiasa berkompetisi secara sehat. Dan lingkungan seperti inilah yang selayaknya diciptakan dan terus dipupuk.
Membuat perubahan memang tak mudah, namun tidak salah jika melakukan percobaan ke arah yang lebih baik. Sosok guru yang demikianlah yang tidak akan ketakutan melihat perubahan zaman.
Seorang guru akan lebih dihargai tanpa harus ada kecurangan. Label dari peserta didik atau masyarakat akan membuat penilaian lebih jujur atas tindakan nyata ini.Wahai guru, bersiaplah untuk bangun dan memulai menjadi pembelajar sejati sebelum menularkan virus ini ke peserta didik. - Oleh : Yuyun Nur Hidayati MHum, Praktisi pendidikan rumah (homeschooling)

Solopos

Menjadi guru karena panggilan hati...

Bila dirunut dari silsilah keluarga, sejak dari sang nenek, keluarga Soenarso termasuk keluarga pedagang. Bahkan, sang nenek itu dulu memiliki industri rokok nipah rumahan dengan merk cukup ternama pada masanya, yakni Priyayi.

Meski demikian, rupanya jiwa dagang tak menurun kepada Soenarso.



Setelah rampung ikut angkat senjata di medan perang melalui Tentara Pelajar Brigade 17, panggilan hatinya memilih menjadi guru, walaupun menurutnya, sempat pula terbesit keinginan untuk menjadi tentara. “Apalagi saat itu, paru-paru saya juga divonis sedikit berkapur,” ucap lelaki penggemar nagasari Bandung dan sayur bening ini.
Sesuai dengan hobinya berolahraga, ia pun memilih menjadi guru olahraga. Sampai kini, walaupun tak sekuat dulu lagi, setiap pagi, ayah lima orang putra tersebut juga selalu menyempatkan diri untuk berolahraga meskipun sebentar.
Maka setelah menamatkan pendidikan sarjana muda olahraga di Jakarta tahun 1952, ia pun langsung mengajar di Sekolah Guru Atas (SGA) yang kemudian menjadi Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Setahun kemudian, Soenarso pindah lagi ke Jakarta dan menjadi guru di SMA Kanisius College dengan gaji Rp 127 per bulan.
Tahun 1960, ia ditugaskan ke Ambon untuk menjadi kepala Sekolah Guru Pendidikan Djasmani (SGPD). Tak hanya sebagai kepala sekolah, Soenarso juga banyak berinovasi dengan bidang yang digelutinya, yaitu menciptakan kreasi baru gerakan-gerakan senam. Salah satunya adalah senam sandang pangan yang kemudian ditampilkan saat Bung Karno berkunjung ke Ambon. ”Itu sangat berkesan bagi saya,” tutur penerima Bintang Gerilya dari Presiden Soekarno tahun 1957.
Dilatarbelakangi keinginan untuk tetap mengabdi kepada bangsa lewat jalur pendidikan, bersama sejumlah eks Tentara Pelajar Brigade 17, pada 1979, Soenarso membuka program Pendidikan Ahli Teknik ( PAT ) sebagai embrio berdirinya Universitas Tunas Pembangunan Solo, di bawah Yayasan Perguruan Tinggi Tunas Pembangunan ( YPTTP ) Solo yang setahun kemudian resmi menjadi Universitas Tunas Pembangunan (UTP). - Oleh : Fetty Permatasari

Solopos

Direct TV the Best TV Channel


Hai all, i have some problem about televition station. every day me and family use television to see news, cartoon, movie, ect. In the my country Indonesia the televition program repeat about information, and is so very boring.But after use Direct TV in Indonesian the tv program in my country Indonesia can be better.

But now i get good news to you, this is about Direct TV. In this you can many see channel in world. And you can choose many program Tv, to watching.

The DirectTV offer packages to for all. starting from cheaper until very expensive. Example for package family you spend only 29 dollar, and the premier package you spend only 59 dollar to see more 265 channels in you televition.


If your interested to buy package from Directv you only 5 step to get you needed. Not only this you can call now to asked on this number 866-689-3541.

On the Directv you must be happy and you must be lucky in the word. Try it don't be chagrined.

Jumat, 06 November 2009

Bolos, 45 pelajar kena razia

Gara-gara berkeliaran di tempat umum saat jam pelajaran berlangsung, 45 pelajar SMA/SMK negeri dan swasta terjaring razia yustisi di Grobogan, Kamis (5/11).


Sempat terjadi kejar-kejaran antara pelajar dengan petugas dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Grobogan dan anggota Polsek Kota Purwodadi. Para pelajar itu terjaring razia di Terminal Purwodadi, taman kota, halaman Masjid Jabal Khoir, Jl Soponyono, utara Ayodya, Jl Diponegoro, GOR dan bawah tower PDAM Simpang Lima.
Bahkan, ada siswi SMA swasta di Kota Purwodadi saat dirazia tengah asyik berciuman dengan teman prianya di sebuah penyewaan PlayStation (PS). Tidak hanya itu, sejumlah pelajar juga sempat nekat memanjat tembok rumah untuk mengindari kejaran petugas.
Razia ketertiban umum tersebut dimulai dengan menyisir kawasan Jalan Soponyono, Jetis. Petugas yang mendapat laporan warga adanya sejumlah pelajar yang sering bermain biliar saat jam belajar, langsung meluncur ke lokasi.
Di lokasi itu, petugas menjumpai sejumlah siswa SMA yang masih berseragam lengkap tengah asyik bermain biliar. Saat itu juga mereka dinaikkan mobil Satpol PP.
Operasi terus digelar dengan menyisir sejumlah tempat lain. Petugas kembali kejar-kejaran dengan sejumlah pelajar di Masjid Jabal Khoir. Setelah dijaring, 45 pelajar itu dibawa ke Kantor Satpol PP, Jl Gatot Subroto, Purwodadi.
Menurut Kepala Satpol PP Grobogan, Daru Wisakti, kegiatan ini dalam rangka ketertiban umum. Para pelajar itu kedapatan berkeliaran saat jam belajar, sehingga mengganggu ketertiban umum.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Grobogan, Sugiyanto, menyambut baik kegiatan razia pelajar. Sebagai tindak lanjut kegiatan ini, siswa akan dibina dengan memanggil pihak sekolah. - Oleh : Arif Fajar S

Solopos

Chandra M Hamzah: Tiada Kata Jera Dalam Perjuangan!! !

Kemaren, tanggal 29 Oktober 2009, tepat sehari setelah Hari Sumpah Pemuda, Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto ditahan di Mabes Polri. Keduanya dikenakan tuduhan telah menyalahgunakan wewenang sebagai pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bagi saya, ini adalah masalah hukum yang pelik dan rumit. Dan saya merasa tidak tahu apa-apa tentang itu, selain hanya membaca perdebatan hukum di media dan bertanya lewat para ahlinya.


Yang ingin saya tulis adalah Chandra M Hamzah. Kami menyebutnya dengan nama Pance. Dulu, ketika masuk UI tahun 1991, dia adalah Ketua Harian Senat Mahasiswa UI. Dalam balairung besar UI, Pance bersuara lantang menyambut para mahasiswa UI yang berjumlah ribuan. Slogan yang dipakai oleh SMUI waktu itu adalah “Tiada Kata Jera dalam Perjuangan.” Chandra juga Komandan Resimen Mahasiswa UI yang bermarkas di pintu masuk UI, dekat para mahasiswa menunggu bis kuning.

Pance kuliah di Fakultas Hukum UI. Dia berhasil menjadikan Menwa UI sebagai organisasi yang tidak sesangar di kampus lain. Hubungannya begitu dekat dengan kelompok atau organisasi mahasiswa lain. Begitu juga dengan SMUI, Pance berhasil menjadikan sebagai organisasi yang padu, ketika berhadapan dengan aturan organisasi mahasiswa yang berubah-ubah. Pance menggantikan Eep Saefullah Fatah (FISIP UI) sebagai Ketua Harian SMUI. Di kemudian hari, Bagus Hendraning menggantikan Pance. Proses pemilihan waktu itu dilakukan oleh Ketua-ketua Senat Mahasiswa Pakultas. Setelah itu, baru diadakan pemilihan raya (pemira) dengan ketua terpilih Zulkiefliemansyah (FEUI). Baru berturut-turut Komaruddin (FISIP UI), Selamat Nurdin (FISIP UI) dan Rama Pratama (FEUI). Saya pernah maju jadi Ketua SMUI tahun 1995, namun kalah dari Komaruddin.

Pance adalah organisatoris yang baik. Dia juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Saya masih mengingat bagaimana dia mendekati para yunior satu demi satu, lalu memberikan pemahaman tentang kemahasiswaan. Seingat saya – ada dalam catatan harian saya --, Pance menilai saya sebagai yunior yang susah berbicara. Kalau berbicara, sulit dimengerti. Mungkin karena logat atau memang karena sejak kecil saya “teloh” (bahasa Minang) alias gagap berbicara. Aktivitas di UI memang membuat saya mulai membiasakan diri, pertama lewat catatan di buku sebelum berbicara, lalu pelan-pelan mulai mengandalkan ingatan.

Ketika Pance menjadi Ketua Harian SMUI, kami sempat mengadakan kegiatan nasional dengan tajuk Diskusi Mahasiswa Tentang Tinggal Landas (DMTL). Waktu itu saya kebagian sebagai seksi acara. BJ Habibie hadir waktu itu, juga pimpinan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Sebagian dari pimpinan mahasiswa itu kini menjadi pemimpin dalam dunianya masing-masing, terutama di bidang pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, kaum profesional, intelektual dan lain-lain. Terlalu banyak nama untuk disebutkan. Pada tahun berikutnya, di masa kepemimpinan Bagus Hendraning, diadakan juga Simposium Nasional Angkatan Muda 1990-an: Menjawab Tantangan Abad 21. Kebetulan saya sendiri yang menjadi Ketua Panitia Pelaksana. Eep dan Pance menjadi narasumber dalam kegiatan kemahasiswaan itu.

Saya juga hadir ketika Pance menikah dengan istri pertamanya: Nadia Madjid. Di sana saya baru tahu Pance adalah putra Minang dengan penggunaan adat Minang dalam prosesi pernikahan. Mbak Nadia adalah mahasiswa Fakultas Sastra UI jurusan Bahasa Inggris dan putri Nurcholis Madjid. Masih ada foto perkawinan itu, ketika setiap orang ingin berdiri berdekatan dengan Cak Nur. Selama periode itu, kami beberapa kali bertemu, terutama dalam forum-forum diskusi mahasiswa. Dibandingkan antara Pance dengan Eep Saefullah Fatah, tentu saya lebih banyak bertemu dengan Eep, baik sebagai notulis, moderator, sampai kemudian sebagai pembicara pendamping dan pembicara pengganti tentang gerakan mahasiswa. Skripsi saya juga tentang gerakan mahasiswa.

Ketika aksi-aksi mahasiswa 1998 meledak, saya ketemu Pance di pagar halaman kampus UI Salemba. Waktu itu tanggal 2 Mei 1998. Keluarga Besar UI mengerahkan massanya, ketika senat-senat mahasiswa justru tidak bergerak. Di kampus terpasang pengumuman dari Ketua-Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran UI, Fakultas Ilmu Keperawatan UI dan Fakultas Kedokteran Gigi UI bahwa mereka tidak bertanggungjawab atas aksi mahasiswa hari itu. Saya lihat beberapa tokoh luar kampus hadir di panggung orasi, seperti Ali Sadikin, Adnan Buyung Nasution, dan Rohut Sitompul. Saya sempat mengusir Rohut Sitompul dari atas mimbar.

Kebetulan, para mahasiswa dari luar kampus bergerak di jalanan Salemba dan ingin agar mahasiswa UI ikut turun ke jalan. Para mahasiswa UI sedikit terpancing, tetapi ditahan oleh aparat keamanan bersenjata lengkap di pagar kampus. Saya dan Pance ada di tengah-tengah aparat dan mahasiswa UI itu, mencegah agar mahasiswa tidak keluar kampus dan juga menghalangi aparat yang mendekat langkah demi langkah mendekati mahasiswa. Belakang saya tahu aksi di pagar kampus itu masuk CNN. Memang sempat terjadi aksi dorong-dorongan, tetapi tidak sampai menjadi bentrokan. Kepada saya Pance mengatakan bahwa Ia mendapatkan informasi betapa mahasiswa UI akan dikorbankan. Dia mewanti-wanti agar saya menghubungi pimpinan aksi mahasiswa untuk tidak membuat massa mahasiswa UI turun ke jalan. Saya menyampaikan informasi itu di posko yang kami buat di Gang Kober (Kuburan), Depok. Pimpinan KBUI memang berkumpul di sana dan kini sebagian sudah mendapatkan gelar doktor dan masih
banyak yang mengambil gelar doktor di luar negeri.

Ketika menduduki Gedung MPR-DPR, Pance juga terlihat di luar pagar. Menurut informasi yang saya dapat, dia berusaha mencegah kalau terjadi penyerbuan atas mahasiswa yang menduduki gedung itu. Pance menyediakan sejumlah bis untuk evakuasi, kalau tiba-tiba terjadi penyerbuan. Isu penyerbuan itu menyebabkan kami tidak bisa tidur. Pada dini hari, pukul 03.00, kami sempat terbangun dan berlari sekencang-kencangny a menuju halaman belakang, karena ada info sweeping dan penyerbuan dari pasukan militer di luar gedung. Gedung DPR-MPR itu tidak jadi diserbu, justru dimasuki oleh banyak sekali tokoh yang kemudian dikenal sebagai tokoh-tokoh reformasi. Peran Pance yang paling besar menurut saya adalah dalam berhubungan dengan ayah mertuanya, Cak Nur.

Setelah semuanya berakhir, Pance saya dengar lebih banyak aktif di law-firm yang dia pimpin. Kebetulan saya juga kenal para tetua di sana yang dikenal sebagai genk Erry Riyana Hardjapamengkas. Dia juga berinisiatif membentuk lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang advokasi hukum. Salah satunya adalah Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK). Ada beberapa teman yang aktif disana. Ketika konflik horizontal meledak di banyak daerah, seperti di Ambon, kelompok itu juga aktif mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat yang kemudian membentuk Forum Indonesia Damai. Saya juga aktif di kelompok itu dan beberapa kali ikut rapat di kawasan Kebayoran Baru. Belakangan, kelompok inilah yang menjadi salah satu pihak yang aktif dalam amandemen Konstitusi, paling tidak dalam mendorong dari belakang. Saya juga terlibat menjadi anggota dari Koalisi Konstitusi Baru (KKB). Adegan paling “heroik” adalah ketika Bambang Widjojanto merobek naskah pembentukan
Komisi Konstitusi versi MPR.

Para pengacara lain setahu saya sibuk dengan menjadi pengacara bagi para tersangka Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), terutama yang perusahaannya masuk ke dalam BPPN. BPPN waktu itu memiliki aset ratusan trilyun rupiah. Rata-rata mereka kemudian menjadi kaya raya. BLBI, kita tahu, telah menghabiskan uang negara sebanyak lebih dari Rp. 600 Trilyun, hampir 100 kali lipat skandal Bank Century. Tetapi tidak ada artinya dibandingkan dengan dana tanggap darurat yang hanya Rp 100 Milyar untuk gempa di Sumatera Barat. Butuh lebih dari 60 gempa bumi lagi berkekuatan 7,9 scala richter agar dana turun Rp. 6 Trilyun. Atau butuh 6000 gempa bumi lagi berkekuatan 7,9 scala richter agar dana turun Rp. 600 Trilyun.

Nama Chandra muncul lagi sebagai kandidat pimpinan KPK yang diseleksi di DPR RI. Saya sendiri gagal lolos ke DPR RI sebagai calon anggota KPU. Suara yang diperoleh Chandra berada di urutan atas. Tapi dalam pemilihan Ketua KPK, dia kalah dari Anthasari Azhar. Saya beberapa kali saja mengirimkan SMS kepada Chandra atau Pance ini. SMS terakhir saya kirimkan menjelang deklarasi saya sebagai politisi di Universitas Paramadina, Jakarta, tanggal 6 Agustus 2008. Chandra datang dan memberikan kesaksian (lihat di www.indrapiliang. com bagian testimony):

“Terima kasih. Pada dasarnya Saya kenal Indra ini 15 tahun yang lalu. Jadi kebetulan waktu itu saya Ketua Senat Mahasiswa UI dan kemudian Beliau ini masuk dalam seksi kepengurusan. Sejak pertama saya kenal yang namanya Indra itu memang tukang kritik, tukang ribut, apapun dipertanyakan.

Sehubungan dengan niat Indra untuk masuk ke DPR, jadi kami di KPK memang menganggap ada korupsi di pengadaan badan dan jasa, ada korupsi di beberapa sektor lain. Tetapi satu hal yang paling sukses adalah korupsi dalam pembuatan peraturan perundang-undangan.

Sampai saat ini katakanlah UU kita UUD 1945, itu umurnya sebelum di amandemen masih berlaku sampai tahun 1999. 55 tahun UUD 1945 itu berlaku dan yang membuat sudah meninggal. Berarti kita dikuasai oleh orang-orang mati. Kitab UU Hukum Perdata di Indonesia itu itu dibuat pada tahun 1930 dan sekarang sudah 2008, berarti sudah 78 tahun.

Jadi seandainya proses pembuatan legislasi undang-undang ini diwarnai dengan nuansa korupsi, maka bisa dibayangkan generasi ke depan akan di kekang atau hidup dalam suasana yang korup. Jadi korupsi yang ada di pengadilan hanya satu orang, satu keluarga atau sekelompok orang, tetapi korupsi yang ada di legislatif menjadi kolektif. Itu adalah sumber permasalahan kenapa bangsa ini menjadi demikian terpuruk. Dan hadirnya Indra mudah-mudahan tidak larut, karena ada beberapa asumsi, mudah-mudahan tidak benar kalau kita masuk ke sarang penyamun, jadi penyamun juga. Terima kasih.

(Chandra M Hamzah, Wakil Ketua, Komisi Pemberantasan Korupsi)”

Terakhir jumpa Chandra saya lupa, barangkali dalam suatu malam di sebuah cafe di TIM ketika sejumlah teman bertemu. Tapi yang jelas, Chandra alias Pance ini adalah produk murni dari reformasi. Almarhum Cak Nur mengatakan bahwa yang dibutuhkan dalam zaman reformasi ini adalah kaum reformis yang otentik. Saya bersaksi bahwa Chandra alias Pance ini adalah produk dari kaum reformis yang otentik itu. Apakah karena itu ia ditahan? Apakah karena itu ia diperiksa? Atau adakah drama-drama lain yang terlihat semakin hebat dipertontonkan dalam produk kemasan seperti sekarang ini? Indonesia jelas berada di tubir jurang negara gagal (failed state). Apakah penahanan Chandra bagian dari sangkakala kematian sebuah bangsa itu, seperti yang pernah ditangisi oleh Kahlil Gibran?

Yang jelas, seperti Chandra yang berucap di hadapan ribuan mahasiswa UI tahun 1991 lalu itu, saya hanya bisa katakan: TIADA KATA JERA DALAM PERJUANGAN!! !

Mahasiswa Indonesia di Belanda Tolak Kunjungan BEM

Beberapa pelajar Indonesia di Belanda menolak secara tegas kedatangan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Indonesia ke Belanda, dengan alasan studi banding.

Menurut salah seorang mahasiswa Indonesia di Belanda, Yusrizal Abubakar, Minggu, agenda studi banding yang rencananya akan dilakukan BEM se Indonesia ini, merupakan penghamburan pos APBN Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) Indonesia.


"Agenda study banding yang diadakan oleh Dikti dengan beneficiaris BEM sudah tercacat sejak awal, dan menunjukkan pola-pola study banding terdahulu, yang selalu berkarakterkan, penghamburan dana APBN, ketidakjelasan agenda program, agenda penuh dengan jalan-jalan, dan karakter lainnya yang tidak mencerminkan rasa keadilan di tengah bencana di negeri Indonesia," kata mahasiswa Maastrich ini.

Lebih lanjut, mahasiswa asal Aceh ini mengatakan, upaya study banding tersebut, dinilai salah satu bentuk pembungkaman suara mahasiswa Indonesia secara sistematik, dan terselubung dengan dalih untuk memberikan reward (penghargaan) .

Menurutnya, bentuk model pembungkaman tersebut, akan menghilangkan pengawasan dari elemen mahasiswa, dan memberikan preseden buruk terhadap independensi mahasiswa di Indonesia.

"Apabila model kegiatan ini sudah terbentuk dan terpelihara, maka tidak akan ada lagi kepemimpinan mahasiswa yang progresif ke depan," tegasnya dan menambahkan bahwa program BEM berupa kunjungan ke luar negeri, biasanya bekerjasama dengan sejumlah mahasiswa independen lainnya melalui program Young Leadership Award, International Medical Student Ascociation.

Program ini, dinilai memiliki agenda dan platform kunjungan yang jelas, pengadaan dana bersifat sukarela, didanai fakultas alias kompetisi pendanaan melalui beasiswa kompetitif.

Sementara itu, mahasiswa lainnya, Henky Wijaya juga menyatakan ketegasannya menolak kunjungan studi banding para mahasiswa Indonesia dari berbagai perguruan tinggi, yang tergabung dalam BEM tersebut. Menurut dia, dana yang studi banding yang dilakukan BEM itu, tidak bernilai positif, terutama bila pesertanya tidak memiliki kapasitas dan rencana aksi yang jelas tentang hasil kunjungan mereka.

"Pada saat ini, Indonesia masih mengalami kekurangan diberbagai bidang. Dana untuk kunjungan studi banding BEM diperkirakan, mencapai sekitar setengah miliar rupiah untuk membiayai kunjungan 27 mahasiswa ini, dan saya kira dana yang berjumlah sekian itu, memiliki nilai manfaat yang lebih besar, bila digunakan untuk keperluan lain di bidang pendidikan, termasuk pemberian beasiswa untuk siswa tidak mampu," jelasnya.

Perihal penggunaan dana tersebut, lanjut mahasiswa The International Institute of Social Studies (ISS), Den Haag ini, memerlukan suatu pertanggungjawaban yang jelas, tidak hanya sekedar pertanggungjawaban secara akuntansi (bukti fisik), tetapi juga pertanggungjawaban moral atas kepatutan penggunaannya.

Berdasarkan surat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi tentang studi banding BEM, yang dikirimkan ke Kedubes Indonesia untuk Kerajaan Belanda, tertanggal 30 September 2009, studi banding BEM ini, akan dilakukan pada 24 hingga 30 Oktober 2009, namun karena alasan visa dan bencana alam di Sumatera, kegiatan ini rencananya akan dilakukan pada 9 - 15 November 2009.

Rombongan yang akan mengikuti studi banding ini, terdiri dari 27 mahasiswa (pimpinan BEM perguruan tinggi), satu orang pendamping dari Pimpinan Perguruan Tinggi bidang kemahasiswaan, dan dua orang dari Direktorat Jenderal Penddikan Tinggi.

Selama di Belanda, mereka akan melakukan studi banding ke Wageningen University and Research Centre dan Radboud University, Nijmengen, University of Twente, University of Groningen, dan kunjungan wisata di Den Haag sebelum kembali ke tanah air.

Topik bahasan terkait study banding tersebut, berkisar tentang kehidupan mahasiswa di Belanda, kepemimpinan dan organisasi kemahasiswaan, minat dan bakat, kesejahteraan dan kewirausahawan mahasiswa, dan pengembangan kompetensi untuk penguatan daya saing bangsa.

Pilihan Ganda "Menjerumuskan"

Pembiasaan evaluasi atau tes dengan soal-soal pilihan ganda dari tingkat SD hingga perguruan tinggi dinilai "menjerumuskan" siswa. Kondisi tersebut mengakibatkan siswa hanya kuat menghafal, sedangkan kemampuan menalar dan menerapkan ilmu pengetahuan sangat rendah.


Soal-soal pilihan ganda juga mendorong siswa untuk menebak jawaban tanpa berpikir terlebih dahulu serta lebih membuka peluang terjadinya ketidakjujuran. Oleh karena itu, dalam aspek penilaian atau evaluasi siswa oleh guru, perlu digalakkan penggunaan item uraian.

Demikian kajian yang dikemukakan sejumlah peneliti dari beberapa perguruan tinggi berdasarkan hasil-hasil tes internasional yang diikuti siswa Indonesia dalam seminar bertema mutu pendidikan dasar dan menengah. Penelitian dilakukan berkolaborasi dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sejak tahun 1990-an hingga saat ini Indonesia terlibat dalam tes internasional yang diikuti siswa dari negara-negara maju dan negara berkembang, yakni Programme for International Student Assesment (PISA) di bidang membaca, Matematika, dan Sains untuk siswa SMP. Indonesia juga mengikuti Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) bidang membaca untuk siswa SD serta Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) bidang Matematika dan Sains untuk siswa SMP. Hasil tes menunjukkan, kemampuan siswa Indonesia di bawah standar internasional.

Kemampuan rata-rata siswa Indonesia dalam merespons item format uraian lebih rendah dibandingkan pilihan ganda. Kondisi itu secara umum menunjukkan siswa Indonesia lemah untuk melakukan analisis, prediksi, dan membuat kesimpulan.

Felicia N Utorodewo dari Universitas Indonesia, Minggu (1/11), mengatakan, prestasi membaca siswa SD Indonesia tak saja terlihat rendah dalam PIRLS, tetapi juga dalam ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN). Siswa Indonesia tidak terlatih untuk menyampaikan pikiran dan gagasannya dalam bahasa yang runtut serta jelas.

"Mereka sigap menjawab soal pilihan ganda, tetapi lemah dalam mengungkapkan pikiran dalam bentuk esai," kata Felicia.

Heri Retnawati dari Universitas Negeri Yogyakarta mengatakan, salah satu yang memengaruhi kesulitan siswa Indonesia menjawab soal-soal dalam tes internasional adalah karena tidak terbiasa mengerjakan evaluasi skala nasional dengan soal esai. Siswa lebih terbiasa dengan soal pilihan ganda. Di soal TIMSS banyak soal yang bersifat penerapan dan penalaran sehingga akan menyulitkan siswa yang tidak terbiasa berpikir analitis.

Wasis dari Universitas Negeri Surabaya mengingatkan supaya kegiatan pembelajaran harus memberikan ruang yang lebih luas lagi bagi siswa untuk melakukan proses menalar dan menerapkan dibandingkan mengumpulkan pengetahuan.

Fredi Munger, Contractor for Strategic Advisory Services, Australia-Indonesia Basic Education Program, AusAid, mengatakan, dari tes-tes itu, secara umum siswa Indonesia lemah dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan memecahkan masalah. (ELN)

Media Belajar

ADA banyak cerita di balik kesuksesan seorang guru dalam mengajar. Salah
satu pendukung sukses seorang guru adalah kepandaian dan kreativitas
guru tersebut menggunakan media pembelajaran dalam berinteraksi dengan
siswa-siswi mereka. Kiki, sebutlah begitu namanya, adalah tipologi guru
muda yang disenangi anak didiknya karena selalu atraktif dalam
menggunakan media pembelajaran, baik yang sudah tersedia di sekolah, di
lingkungan sekolah, maupun di rumah.


Mungkin tak terpikir sebelumnya bagaimana dedaunan kering, koran bekas,
pembungkus semen, kaleng dan botol bekas minuman semacam soft drink akan
menjadi alat media belajar yang efektif, baik untuk mata ajar fisika,
biologi, kimia, dan bahkan sejarah. Pendek kata, media belajar yang
digunakan Kiki selain murah juga ramah dengan lingkungan. Jangan ditanya
hasilnya, karena para siswa pun menjadi lebih termotivasi untuk belajar
secara sederhana, menggunakan media belajar yang ramah lingkungan, serta
yang paling penting adalah fun dan tidak membosankan.

Ketika Edu bertanya tentang media belajar yang digunakan Kiki dalam
proses belajarmengajar, jawaban Kiki sungguh di luar dugaan.
Kiki seperti memahami benar prosedur pengembangan pembelajaran menurut
Gerlach dan Elly, yakni tujuan instruksional diarahkan kepada rumusan
tingkah laku yang harus dimiliki oleh siswa setelah selesai mengikuti
pembelajaran.
Barulah setelah itu Kiki merinci materi pembelajaran yang diharapkan
dapat menunjang pencapaian tujuan yang telah ditentukan.
Melakukan tes entering behaviour level untuk mengetahui minat siswa
sangatlah penting di mata Kiki, yaitu sebagai cara untuk mengetahui
kemampuan awal yang dimiliki siswa yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran sebagai dasar untuk menentukan dari mana guru harus
mengawali pembelajaran.

Selain itu, kemampuan guru dalam merumuskan tujuan, isi, dan entering
behaviour level akan menempatkan guru pada posisi yang benar ketika
menentukan strategi yang sesuai dengan karakteristik tujuan maupun
materi yang diberikan, juga termasuk mengatur dan mengelompokkan siswa.
Pengelompokan siswa diselaraskan dengan waktu dan ruang belajar yang
tersedia. Menentukan media yang cocok digunakan dalam pembelajaran dapat
disesuaikan dengan tujuan, strategi, waktu yang tersedia, dan fasilitas
pendukung lainnya. Barulah setelah itu kegiatan pembelajaran diakhiri
dengan penilaian terhadap penampilan siswa untuk menentukan umpan balik
dan merevisi rencana dan pelaksanaan pembelajaran selanjutnya.

Penting juga bagi para guru mengetahui alasan praktis memilih media
tertentu dalam pembelajaran. Alasan praktis tersebut biasanya berkaitan
dengan pertimbangan- pertimbangan dan alasan guru mengapa menggunakan
media dalam pembelajaran. Beberapa alasan praktis penggunaan media dalam
proses pembelajaran antara lain untuk mendemonstrasikan sebuah konsep,
objek, kegunaan, cara mengoperasikan dan lainlain. Media berfungsi
sebagai alat peraga pembelajaran, seperti seorang guru kimia akan
menjelaskan proses perubahan-perubahan zat dengan menggunakan gelas
ukur. Sebelum dilakukan praktikum, terlebih dahulu guru tersebut
memperagakan bagaimana cara menggunakan gelas ukur dengan baik.

Penggunaan media, bagi beberapa guru, juga memiliki alasan pribadi
mengapa mereka menggunakan media, di antaranya adalah karena sudah
terbiasa menggunakan media tersebut, merasa sudah menguasai media
tersebut, jika menggunakan media lain belum tentu bisa dan untuk
mempelajarinya. Alasan familiarity tentu saja tidak selamanya tepat,
jika tidak memperhatikan tujuannya. Meski demikian, alasan ini cukup
banyak terjadi dalam proses pembelajaran. Selain itu alasan kejelasan
(clarity) juga menjadi pendorong mengapa guru membutuhkan media
pembelajaran.

Yang lebih penting diketahui oleh para guru adalah bahwa penggunaan
media harus dapat berbuat lebih dari yang bisa dilakukan oleh guru.
Salah satu aspek yang harus diupayakan oleh guru dalam pembelajaran
adalah siswa harus berperan secara aktif baik secara fisik, mental,
maupun emosional. Dalam praktiknya guru tidak selamanya mampu membuat
siswa aktif hanya dengan cara ceramah, tanya jawab dan lain-lain, namun
diperlukan media untuk menarik minat atau gairah belajar siswa. Untuk
itulah media pembelajaran yang akan digunakan para guru harus mampu
memacu dan memicu terjadinya proses pembelajaran yang aktif (active
learning).

Menkominfo Dukung Indonesia dalam Olimpiade Robot di Korsel

Untuk pertama kalinya, sejak tahun 2008, Robotic Organizing Committee Indonesia (ROCI) berhasil membawa Team Robotika Indonesia untuk ikut serta dalam ajang International Robotic Olympiad (IRO) di Korea Selatan, 17 – 21 Desember 2009 mendatang


Sebelumnya, Indonesia mengirim 43 orang delegasi berbagai sekolah, baik SD, SMP dan SMU. Diantaranya berasal dari Jakarta, Bandung, Sidoarjo (Surabaya). Dan hasilnya, untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia memperoleh satu medali perak (silver medal) dan 9 penghargaan khusus (special award).

Chairman ROCI, Santoso Gondowidjojo mengatakan, saat ini Team Robotika Indonesia tengah sibuk mempersiapkan diri untuk ikut serta dalam International Robotic Olympiad (IRO) ke 10 di Daejeon, Korea Selatan.

“Team Robotika Indonesia yang bersiap diri dan akan berangkat tahun ini berjumlah kurang lebih 50 orang,” tambahnya.

Wahidin Wahab, President ROCI menambahkan, ROCI memberikan bimbingan dan pengarahan bagi para siswa sebagai persiapan dalam menghadapi perlombaan tingkat dunia ini. Untuk mensosialisasikan bidang robotika kepada masyarakat, khususnya para pelajar dan sekolah sebagai institusi, maka ROCI melakukan berbagai kegiatan diantaranya seminar, workshop dan pameran.

Sebelum menuju ke Korea Selatan, ROCI terus menggalang dukungan masyarakat pada Team Robotic Indonesia. Salah satunya melalui ajang Indocomtech 2009 yang diselenggarakan 4-8 November 2009 mendatang. Melalui pameran ini diharapkan, kelak, makin banyak siswa Indonesia yang bisa memperoleh kesempatan ikut dalam IRO dan membuktikan kemampuannya yang tidak kalah dengan bangsa lain dalam ajang lomba robot tingkat dunia ini.

Yang menggembirakan, Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring turut menyatakan dukungannya terhadap Team Robotika Indonesia dan sebagai bentuk apresiasinya terhadap kemajuan teknologi robot di Indoesia, saat pembukaan Indocomtech 2009 nanti (4/10), Tifatul akan menyerahkan tiga unit Hewlett Packard (HP Mini) kepada 3 orang siswa SMPK BPK Penabur Gading Serpong (Adinugroho Harlianto, Moses Natadirja dan Yudistira Hartanto) yang memperoleh medali perak di International Robotic Olympiad tahun lalu di Kuala Lumpur, Malaysia.

“Dukungan dan doa restu bangsa Indonesia tentunya akan memberikan semangat untuk berjuang dalam acara tersebut. Besar harapan kita semua, Indonesia akan memperoleh medali emas tahun ini,” kata Tifatul kepada Soegiharto Santoso, Pimpinan Umum BISKOM saat melakukan audiensi tentang pameran Indocomtech 2009 di Jakarta.

Sementara Martin Wibisono, Category Director – Personal System Group Hewlett Packard (HP) Indonesia mengatakan, “Event ini sesuai dengan komitmen HP, dimana HP sangat peduli dan memiliki tanggung jawab sosial untuk bersama-sama pemerintah membangun generasi muda yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.”

Di Indocomtech 2009 pula, berbagai robot karya anak bangsa dipamerkan untuk memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa bidang ini adalah bidang yang sangat menarik dan mempunyai peluang besar untuk dikembangkan di Indonesia

Semoga sukses Team Robotika Indonesia.


Tersaingi Negeri, Sekolah Swasta di Kaltim Merosot

Jumlah siswa sekolah swasta di Kalimantan Timur (Kaltim) terus merosot setiap tahun, karena pemerintah daerah terus membuka banyak sekolah negeri.

Demikian hal tersebut diungkapkan oleh pendiri Yayasan Sumber Mas Group Yos Soetomo. Yos, yang mengelola enam sekolah swasta mulai TK hingga SMA atau sederajat di Kaltim ini mengatakan, merosotnya jumlah disebabkan karena pemerintah seolah berlomba mendirikan sekolah negeri baru. Akibat itu pula, siswa lebih memilih masuk ke sekolah negeri.

Menurut Yos, sekolah negeri mulai menjamur sejak diberlakukannya undang-undang otonomi daerah pada 1999 silam. Sejak itu, masing-masing daerah seolah berlomba mendirikan sekolah negeri tanpa menggandeng sekolah swasta, sehingga pengelola sekolah swasta merasa dirugikan.

Di Sekolah Kesatuan, lanjut Yos, jumlah siswa mencapai lebih dari 3.000 orang. Namun sejak otonomi daerah berlaku dan daerah berbondong-bondong mendirikan sekolah negeri, jumlah siswa kini hanya tercatat 800 orang.

"Di Sekolah Kesatuan hingga saat ini ada enam unit yakni satu TK, satu, satu SMP, satu SMA, dan dua SMK," katanya.

Akibat merosotnya jumlah siswa di sekolah tersebut, lanjutnya, yayasan itu hampir saja menggabungkan dua sekolah sejenis menjadi satu dan berniat mengurangi jumlah guru. Namun setelah dilakukan pemikiran secara bijaksana, hal itu urung dilakukan, meskipun dari bulan ke bulan yayasan selalu mengalami defisit, baik untuk operasional ataupun gaji guru.

Menurut Yos, setiap bulan yayasan harus mengeluarkan dana senilai Rp 130 juta untuk menggaji 96 guru di enam sekolah milik yayasan itu. Namun, pemasukan untuk semua sekolah tersebut hanya Rp 100 juta, sehingga pihaknya harus menutupi kekurangan sebesar Rp 30 juta.

Alih-alih tidak mengurangi jumlah guru, yayasan menelurkan kebijakan yang telah disepakati para guru. Dikatakannya, setiap guru yang telah bersertifikasi dan mendapatkan gaji serta tunjungan lebih harus menyisihkan penghasilannya untuk guru lain.


Kamis, 05 November 2009

Rendah, Kemampuan Guru Ajarkan Membaca Pemahaman

Hasil penelitian Pusat Penelitian Pendidikan Depdiknas menunjukkan, kemampuan guru dalam mengajarkan kemampuan membaca pemahaman relatif rendah.

Banyak faktor penyebabnya yang memerlukan perbaikan. Studi penilaian tersebut dilakukan dengan cara merekam menggunakan video tentang segala kemampuan guru dalam mengajarkan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV melalui tahap prainstruksional, instruksional dan evaluasi.

Disebutkan dalam studi itu bahwa kemampuan guru-guru tersebut relatif rendah, yaitu hanya 42,85 % dari ideal. Sementara itu, kemampuan tiap tahapan pembelajaran pada prainstruksional 29,67 %, instruksional 49,55 %, dan evaluasi 24,75 % dari ideal.

Sejurus dengan rendahnya kemampuan guru tersebut, studi ini juga menunjukkan bahwa kemampuan membaca pemahaman siswa tergolong rendah, yaitu hanya 35,64 % untuk tes lokal dan 33,27 % untuk tes PIRLS .

Menurut hasil penelitian ini, beberapa faktor yg secara signifikan memengaruhi kemampuan mengajar guru tersebut adalah status guru dalam kelas. Sedangkan pada faktor pendidikan, pengalaman mengajar tidak signifikan berpengaruh terhadap kemampuan mengajar guru.

Kemampuan pendidikan dan pengalaman guru secara signifikan berpengaruh terhadap kemampuan siswa dan membaca pemahaman. Faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap kemampuan membaca pemahaman siswa adalah kebiasaan berbahasa Indonesia.

Kebiasaan membaca dan kondisi sekolah tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan siswa. Adapun hasil penelitian tersebut sedang dijadikan salah satu pembahasan seminar Mutu Pendidikan Menengah Hasil Penelitian Puspendik 2009 yg berlangsung hari ini, Rabu (28/10), di Jakarta.


Rektor ITB: UN Terintegrasi SNMPTN Bisa Dipertimbangkan

Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Djoko Santoso mengatakan, ide agar Ujian Nasional (UN) dijadikan salah satu paramater penilaian dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) bisa dipertimbangkan. Asalkan, faktor kejujuran dan kredibilitasnya bisa dijamin.

"Akan kita pertimbangkan, jika itu yang diinginkan," tuturnya ketika ditemui di sela-sela seminar yang menghadirkan pembicara BJ Habibie, Rabu (4/11).

Menurutnya, di ITB, penerapan hasil UN dijadikan sebagai parameter di dalam proses seleksi calon mahasiswa baru bukanlah hal yang asing. "Di seleksi jalur Kemitraan Nusantara hal itu sudah dilakukan. Plus, dengan nilai rapor," ungkapnya.

Kemitraan Nusantara adalah jalur seleksi khusus di ITB yang menjaring putra-putra daerah terbaik dengan mekanisme beasiswa dari pemda. Namun, ucapnya, yang perlu ditekankan adalah aspek kejujuran dari peserta UN sendiri.

Sebelum-sebelumnya, Joko sempat menolak ide hasil UN dijadikan salah satu parameter penilaian SNMPTN. Alasannya, kata dia, adalah karena persoalan kredibiltas hasil UN itu sendiri. Sebab, sebelumnya banyak diberitakan persoalan kecurangan di dalam pelaksanaan UN.

Ide dijadikannya hasil UN sebagai salah satu penilaian SNMPTN ini pernah dikemukakan oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Pemerintah menargetkan hal tersebut bisa berlaku selambat-lambatnya pada 2010 mendatang.

Perintah Linux berdasarkan urutan abjad (B)

Perintah Linux berdasarkan urutan abjad (B)

b

badblocks
banner
basename

bash
batch
bc
biff
bison
bzcmp
bzdiff
bzgrep
bzip2
bzless
bzmore

SEJARAH INTERNET

Sejarah Internet dan Perkembangan Internet

Sejarah dari adanya intenet dimulai pada tahun 1969 ketika itu Departemen Pertahanan Amerika, U.S. Defense Advanced Research Projects Agency(DARPA) memutuskan untuk mengadakan riset tentang bagaimana cara menghubungkan sejumlah komputer sehingga membentuk jaringan organik.

Program riset ini dikenal dengan nama ARPANET. Pada 1970, sudah lebih dari 10 komputer yang berhasil dihubungkan satu sama lain sehingga mereka bisa saling berkomunikasi dan membentuk sebuah jaringan.

Tahun 1972, Roy Tomlinson berhasil menyempurnakan program e-mail yang ia ciptakan setahun yang lalu untuk ARPANET. Program e-mail ini begitu mudah sehingga langsung menjadi populer. Pada tahun yang sama, icon @juga diperkenalkan sebagai lambang penting yang menunjukkan “at” atau “pada”. Tahun 1973, jaringan komputer ARPANET mulai dikembangkan ke luar Amerika Serikat.

Komputer University College di London merupakan komputer pertama yang ada di luar Amerika yang menjadi anggota jaringan Arpanet. Pada tahun yang sama, dua orang ahli komputer yakni Vinton Cerf dan Bob Kahn mempresentasikan sebuah gagasan yang lebih besar, yang menjadi cikal bakal pemikiran internet. Ide ini dipresentasikan untuk pertama kalinya di Universitas Sussex.

Hari bersejarah berikutnya adalah tanggal 26 Maret 1976, ketika Ratu Inggris berhasil mengirimkan e-mail dari Royal Signals and Radar Establishment di Malvern. Setahun kemudian, sudah lebih dari 100 komputer yang bergabung di ARPANET membentuk sebuah jaringan atau network. Pada 1979, Tom Truscott, Jim Ellis dan Steve Bellovin, menciptakan newsgroups pertama yang diberi nama USENET. Tahun 1981 France Telecom menciptakan gebrakan dengan meluncurkan telpon televisi pertama, dimana orang bisa saling menelpon sambil berhubungan dengan video link.

Karena komputer yang membentuk jaringan semakin hari semakin banyak, maka dibutuhkan sebuah protokol resmi yang diakui oleh semua jaringan. Pada tahun 1982 dibentuk Transmission Control Protocol atau TCP dan Internet Protokol atau IP yang kita kenal semua. Sementara itu di Eropa muncul jaringan komputer tandingan yang dikenal dengan Eunet, yang menyediakan jasa jaringan komputer di negara-negara Belanda, Inggris, Denmark dan Swedia. Jaringan Eunet menyediakan jasa e-mail dan newsgroup USENET.

Untuk menyeragamkan alamat di jaringan komputer yang ada, maka pada tahun 1984 diperkenalkan sistem nama domain, yang kini kita kenal dengan DNS atau Domain Name System. Komputer yang tersambung dengan jaringan yang ada sudah melebihi 1000 komputer lebih. Pada 1987 jumlah komputer yang tersambung ke jaringan melonjak 10 kali lipat manjadi 10.000 lebih.

Tahun 1988, Jarko Oikarinen dari Finland menemukan dan sekaligus memperkenalkan IRC atau Internet Relay Chat. Setahun kemudian, jumlah komputer yang saling berhubungan kembali melonjak 10 kali lipat dalam setahun. Tak kurang dari 100.000 komputer kini membentuk sebuah jaringan. Tahun 1990 adalah tahun yang paling bersejarah, ketika Tim Berners Lee menemukan program editor dan browser yang bisa menjelajah antara satu komputer dengan komputer yang lainnya, yang membentuk jaringan itu. Program inilah yang disebut www, atau Worl Wide Web.

Tahun 1992, komputer yang saling tersambung membentuk jaringan sudah melampaui sejuta komputer, dan di tahun yang sama muncul istilah surfing the internet. Tahun 1994, situs internet telah tumbuh menjadi 3000 alamat halaman, dan untuk pertama kalinya virtual-shopping atau e-retail muncul di internet. Dunia langsung berubah. Di tahun yang sama Yahoo! didirikan, yang juga sekaligus kelahiran Netscape Navigator 1.0.


Minggu, 01 November 2009

Harga mobil Gubernur dengan Pendidikan

Sedikit melongok ke dalam, sebuah pemerintah di Indonesia ini. Saya habis membaca sebuah surat email dari temen saya di forum pendidikan. Saya membaca email itu sambil menahan sedih di dalam hati, Judul Surat nya Harga Mobil Dinas Untuk Gubernur. Sekilas aku membaca harga nya 4 millar dengan banyak fasilitas nya. Padahal banyak sekali sekolah-sekolah yang butuh perawatan, tapi malah dari mereka memanfaatkan nya untuk membeli mobil mewah itu.

Memandang dari sudut Internasional, seperti mana India, disana dilarang keras orang membeli produk luar negeri, khusus nya mobil. Dan mereka mencintai produk dalam negeri itu dengan secinta-cintanya.

Gandhi yang seorang Hindi mengatakan 4 pesan kepada rakyat nya, diantara nya

1. Dilarang membunuh
2. Gunakan produk dalam negeri
3.
4.

(Maaf yang 3 dan 4 lupa, mungkin ada salah kalau ada salah mohon di benarkan ya, thank )
Itu bisa mengajarkan kita jangan berfoya-foya terhadap uang kita (negara Kita). Aku sungguh heran melihat hal tersebut, Apakah kita bisa maju dengan hal semacam itu. Apakah kita menyaingi Teknologi IT orang hindia kalau kita cuman bisanya berfoya-foya.

Dan apakah maju pendidikan kita kalau kita cuman bisa mengeluh dan berdiam diri seperti ini.

Karier Sebagai Guru

Tentang karir yang begitu di idam idamkan oleh semua orang dari segala usia, jabatan, jenjang, serta dari seorang guru sekaligus.

Menurut banyak ahli mengatakan bahwa karir itu menentukan bagaimana kita berada di dalam suatu kerja dalam artian baik atau buruk kah disana. Di dalam sektor guru yang dimulai dari guru bantu, guru, kepala sekolah, dan terakhir sebagai pengawas.


Menurut Masfufah Khomsun salah satu penulis aktif didalam salah satu forum pendidikan, mengatakan bahwa Jenjang Karier seorang Guru adalah ...... Guru lalu Kepala sekolah lalu Pengawas. Atau Guru, Kepala Sekolah ,lalu Jadi Guru lagi..... tidak apap-apa.

Dia sangat memperhatikan bahwa sektor karir di dalam pendidikan begitu semrawut, dan tidak maju sama sekali. Apalagi dengan kebijakan pemerintah tentang kenaikan gaji guru. Belum ada naik gaji tapi sembako yang mendukung penghidupan guru sudah naik, dan bila gaji naik, semisal 5% dari gaji sama saja gaji guru yang C3 atau D3( sebelum nya saya tak tahu pangkat dari seorang guru), gaji nya 1.000.000 rupiah dan bila naik 5% sama saja.

1.000.000 kali 5 dibagi 100 = 50.000 untuk kenaikan gaji seorang guru. Padahal gaji itu untuk 5 hari mungkin tak mencukupi untuk sekarang.

Seperti seperti lagunya mbah Surip .. Bangun lagi .. tidur lagi ....bangun lagi .. tidur lagi.... kapan majunya..... ..kalau mengulang terus dari nol. Bagaimana kita dapat menangani masalah ini, dah banyak orang yang bersedih terhadap ini.


Belasan murid SD keracunan permen

Belasan murid SDN Segorogunung 2 Ngargoyoso, Karanganyar, Sabtu (31/10), keracunan permen cokelat. Lima korban di antaranya kini dalam perawatan intensif di Puskesmas Ngargoyoso.

Peristiwa itu baru diketahui saat mereka sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas mereka. Di tengah pelajaran, tiba-tiba mereka diserang rasa mual, mulas dan pusing.

Melihat keadaan tersebut pihak sekolah langsung memeriksakan para murid ke Puskesmas Ngargoyoso.
Menurut pengakuan beberapa siswa, mereka memakan permen produk baru yang dijual di halaman sekolahnya. Sebelum masuk kelas, para siswa tersebut membeli permen rasa cokelat susu dalam kemasan kardus bergambar sapi yang dijajakan oleh pedagang keliling.
Wiwik Setyaningsih, 12, salah satu korban keracunan, mengaku sebelum mengkonsumsi permen kondisinya sehat-sehat saja. Hal itu juga dibenarkan oleh ibu korban, Sularni, 39, saat ditemui di Puskesmas tersebut. ”Anak saya sebelumnya sehat-sehat saja. Saat berangkat sekolah, dia terlihat bugar dan ceria,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Ngargoyoso, dr Retno Sawartuti, menyebutkan korban keracunan permen yang dirawat di Puskesmas berjumlah lima orang. Mereka adalah Wiwik Setyaningsih, 12; Pujiningsih, 12; Tri Winarsih, 12; Wahyu Martiyati, 12; dan Arnasti Surati Tegal, 12.
”Setelah kelima anak tersebut diberikan pertolongan pertama penanganan keracunan dengan memberikan infus, obat penawar racun dan oksigen, kami langsung turun ke SDN 2 Ngargoyoso,” kata dr Retno.
Hasil monitoring di lapangan yang dilakukan pihak Puskesmas, pihaknya menemukan sampel permen yang diduga sebagai penyebab keracunan beberapa siswa SDN 2 Ngargoyoso.
Pantau perkembangan
Staf medis Pukesmas Ngargoyoso juga melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap 11 murid yang memakan permen tersebut. Untuk sementara mereka tidak mengalami gangguan kesehatan akibat mengkonsumsi permen itu, namun pihak Puskesmas masih memantau perkembangannya. Sebab, mereka sempat mengeluh pusing setelah mengkonsumsi permen itu.
”Kami telah mengirimkan sampel permen ke Laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten Karanganyar untuk mengetahui apakah permen tersebut mengandung racun atau tidak. Selain itu kami juga melakukan pemeriksaaan terhadap siswa yang memakan permen,” ungkapnya.
Terpisah, Kapolsek Ngargoyoso AKP Rianto mewakili Kapolres AKBP Sri Handayani membenarkan peristiwa keracunan yang menimpa lima siswa SDN 2 Ngargoyoso. - Oleh : Oleh: Damar Sri Prakoso (Karanganyar)

Sumber solopos.co.id