Selasa, 18 Agustus 2009

" Buntut Rontoknya Jumlah Siswa SMK Swasta "

Buntut Rontoknya Jumlah Siswa SMK Swasta

MALANG - Sejumlah SMK swasta di Kota Malang ibarat sedang meregang nyawa. Masa depannya semakin tidak jelas karena ditinggalkan asetnya paling berharga, yakni siswa. Beberapa spekulasi penyebab kondisi ini. Bisa jadi karena kualitas SMK tersebut kurang bagus, juga adanya keserakahan SMK Negeri yang mengeruk siswa sebanyak-banyaknya.

Siang kemarin Radar berkunjung ke SMK Sri Wedari Jalan Bogor. Di sekolah yang megah itu terlihat sejumlah siswa sedang belajar di kelas. Deretan bangku kosong berjajar rapi di kelas itu. Kemudian di kelas sebelahnya kosong, sudah tidak ada muridnya.




Yumi dan Caca, dua siswi kelas tiga jurusan administrasi perkantoran keluar dari ruang hendak pulang. Dua siswi ini tak terlihat sedih, keduanya masih terlihat semangat belajar di sekolah yang dulu memiliki murid di atas lima ratusan itu. "Ya kami masih tetap semangat, di sini gurunya juga rajin kok," ujar Yumi diiyakan Caca.

Kepala SMK Sri Wedari, Sugeng Triwarsono mengatakan, dulu di sekolah itu jumlah siswa kelas satu saja sekitar 200 siswa, kini tinggal belasan. Menurut dia, jumlah siswa itu akibat penerimaan siswa baru di SMK Negeri yang terus digenjot. "Kami berharap pengambil kebijakan bisa melihat kondisi ini," ujar dia. Sehingga tahun-tahun ke depan tidak ada lagi SMK yang mati.

Menurut dia, pengelola sekolah itu kini harus menanggung 22 guru dan karyawan. Dulu jumlahnya lebih banyak lagi, tetapi karena siswanya terus menurun, maka banyak guru yang keluar.

Kondisi sama juga terjadi di SMK Nusantara di kawasan Klayatan Janti. Di sekolah ini lebih nahas lagi. Saat Radar berkunjung di sekolah itu tinggal ada kepala sekolah satu guru dan satu tenaga tata usaha (TU). Sedangkan siswanya tinggal kelas tiga berjumlah 39 siswa. Untuk kelas dua dan kelas satu sudah tidak ada siswanya. Padahal, tahun 2002/2003 lalu, di sekolah itu terdapat 1.306 siswa. "Sejak dibuka SMKN di wilayah Sukun, sekolah ini terus mengalami penurunan peminat," ujar I Gusti Ayu Putu Nurlikawati, kepala SMK Nusantara kemarin.

Menurut dia, sejak kehabisan murid ini, kondisi sekolah semakin tidak terawat. Karena sudah tidak ada biaya untuk perawatan. Dari pengamatan Radar, halaman sekolah itu ditumbuhi rerumputan. Kelas-kelas kosong dan banyak debu menempel di jendela. "Tapi kami masih akan terus berusaha untuk bangkit, kami tidak ingin sekolah ini mati," ujar Nurlikawati.

Selain itu, kemarin Radar juga berkunjung ke SMK Muhamadiyah 1 di Jalan Galunggung. Dulu, sekitar lima tahun lalu, sekolah itu begitu ramai. Malahan untuk masuk harus pagi dan sore. Tetapi kemarin tidak demikian, sekolah itu terlihat sepi. Mesin-mesin praktik yang ada di sekolah itu banyak yang ditutupi terpal, siswanya juga tidak banyak lagi. Sekolah itupun terlihat kurang bergairah.(lid/abm)

2 komentar:

Unknown mengatakan...

aku juga sekolah di SMK,yg negri sih,untung muridnya masih banyak trus sekolahnnya masih rame,mudah2n pendidikan Indo makin maju ya,amin,,,,

Jaiman Asli mengatakan...

padahal klo menurut saya SMK dan SMA khan sama saja... (soalnya q lulusan SMK juga heheheheh....)