Kamis, 04 Februari 2010

Pengakuan Anak Yang Dilacurkan ("Ayam ABG")

Di sampaikan kepada sebuah LSM Perlindungan anak

Namaku Ratna

Aku bernama Ratna, umurku 17 tahun baru saja aku merayakan ulang tahunku bersama teman-teman malamku, dikos-kosan. Dulu aku tinggal dengan kelima saudaraku bersama Bapak dan Ibuku disebuah kampung yang fanatik berat dengan Agama Islam. Tetanggaku hobi sekali nggosip kalo ada remaja pake baju yang sedikit modis. Bapakku kerja di DIKBUD sebagai guru SMEA. Ibuku jualan nasi bungkus diwarung di depan Studio East yang akhirnya jadi tempat nongkrongku juga. Ketika penataran P4 kelas 1 SMP, Bapakku meninggal. Aku sangat sedih apalagi Bapak adalah tulang punggung keluarga. Aku sendiri sebagai anak kedua merasa kasihan karena beban Ibuku semakin berat untuk membiayai keluarga. Sampai kelas 3 SMP aku tetap bantu Ibu jualan nasi dan akhirnya aku berhasil lulus SMP. Lulus SMP bukan tambah bahagia, karena beban ibu berarti tambah berat. Nggak enak rasanya kalau harus memberatkan ibu untuk membiayai SPP, dan akhirnya walaupun aku sekolah SPP sering nunggak. Ketika sekolahpun aku sudah penuh beban.

Mendiang Bapak menginginkan aku sekolah di SMEA supaya cepat kerja, tapi aku pingin masuk SMA. Jadi selama aku sekolah aku merasa penuh tekanan. Sampai kelas II aku akhirnya sudah males ke sekolah, selain SPP masih nunggak dan teman-teman sekolah yang aneh. Mereka tidak langsung pulang sekolah tapi nunggu om-om yang menjemput mereka. Karena merekalah aku mengenal dunia diskotik.

Diskotik Bandara adalah tempat ketika pertama aku mengenal diskotik. Perasaan takut, soalnya gelap dan banyak laki-laki yang mengerumuniku menjadi perasaan yang pada awalnya kualami saat itu. Umurku waktu itu baru 15 tahun. Tapi aku nggak tahu kenapa keinginan ke diskotik selalu ada. Selain seneng juga karena melihat teman-teman kok kelihatan gembira berjoget-joget. Lama kelamaan aku terbisa dan mulai menyukai dunia diskotik. Aku biasa ke diskotik tiap hari Sabtu dan aku bolos sekolah. Sejak SMA itulah aku merangkap sebagi pelajar dan pekerja seks. Pertama kali kerja dilatarbelakangi karena aku berpikir bahwa aku sudah nggak perawan lagi, sebab pacarku di jalan.

Aku mengenal Santo, dan dialah yang memperawani aku. Sedangkan keluargaku juga nggak mampu, hitung-hitung itu juga membantu keluargaku dengan memberikannya ke Ibu dengan mengaku bekerja di Karaoke. Sebenarnya ibu juga sedih melihat saya bekerja untuk keluarga, namun tidak berusaha mencegah karena memang beban Ibu juga sudah cukup berat. Walaupun kadang Ibu memintaku untuk sekolah lagi dan pulang, aku pikir nanti nambah beban pikiran Ibu. Apalagi adikku nomor tiga mulai nggak sekolah juga karena masalah biaya, aku jadi mikir gimana nasib adikku, padahal saat ini udah kenaikan ke kelas III SMP. Aku merasa sayang sekali.

Sebenarnya aku sangat sedih melakukan kerja seperti itu, aku rasanya ingin nangis, ingin bunuh diri, tapi aku mikir kalau aku mati siapa lagi yang akan menghidupi keluargaku. Selama bekerja sebagai pelacur, aku biasa nge-Bir di depan Toko Nam, dengan tarif pertama kali Rp. 350.000 untuk short time, mungkin karena germoku pinter.

Hubunganku dengan germo juga sudah saling kenal, yakni di Studio East tempat aku biasa mangkal menjaga warung nasi Ibuku. Hasil uang itu aku serahkan ke Ibu, walaupun dengan rasa sedih bahwa itu uang haram. Tapi itu harus kulakukan untuk membantu Ibu. Akhirnya aku sudah terbiasa menerima pekerjaan dengan jalan sebagai pelacur. Di jalan aku ketemu temen yang sangat baik dan kost bersama.

Aku terus-terusan keluar masuk diskotik dan akhirnya aku terjebak obat-obatan atau yang biasanya dikenal dengan NARKOBA. Tapi itu semua aku lakukan demi mencari uang. Kemudian aku pertama kali kenal dengan Ratih, dikenalin sama temen. Aku bertemu lagi dengan dia di kos-kosan seorang temen. Setelah aku akrab dengan dia aku akhirnya kos bersama, sampai sekarang ini aku masih bersama dia. Aku mengenal Ayu ketika di Studio East tetapi aku tidak terlalu akrab dengannya. Pada waktu pelatihan Pengurangan Resiko di Tretes aku semakin akrab dengan Ayu aku kira dia itu cewek ternyata dia itu banci, tapi meskipun dia banci dia baik sama teman. Pengalaman di Jalan Pertama kali turun dijalan tahun 1998 yaitu pada saat aku mulai merasa harus bertanggung jawab pada hidupku sendiri tanpa memberatkan orang tua (Ibu). Kalau perlu aku malah berpikir harus mampu membantu keuangan Ibuku meskipun uang itu harus kudapatkan dengan cara yang tidak wajar. Pilihan pekerjaan itu didasarkan karena kondisi ku pada saat itu yang sudah tidak perawan lagi. Ditambah keakrabanku dengan germo sehingga memudahkan jalanku pada pekerjaan itu.

Memang tidak mudah melakukan pekerjaan ini. Sangat banyak yang harus kukorbankan, entah itu perasaan, harga diri maupun keyakinanku sendiri. Tapi pikiranku mengatakan bahwa itulah pengorbanan. Semakin banyak yang kita dapat maka semakin banyak pula yang harus dikorbankan. Dan aku harus kuat setidaknya itu pikiranku pada waktu itu. Dijalan inilah aku banyak mengenal berbagai watak dan perilaku orang. Dan sangat banyak kejadian yang kualami. Mulai dari perlakuan dan tanggapan orang-orang disekitarku sampai pada perlakuan tamu yang sangat tidak manusiawi. Aku punya salah satu pengalaman buruk tentang perlakuan tamu ini. Saat itu aku berada dalam diskotik sedang menemani tamu. Oleh tamu ini aku diberikan obat dan aku disuruhnya nelan . Aku yang mengira obat itu ineks mulanya menolak tapi di paksa sama tamu itu. Akhirnya aku nelan dan ternyata efeknya beda. Kuketahui kemudian kalau obat yang aku telan itu ternyata obat perangsang yang memang sengaja diberikan tamu itu untukku. Otomatis aku kemudian ‘nyium-nyium gelas’seperti orang gila. Untung saat itu kesadaranku masih ada sedikit sehingga kemudian aku mencari teman (mbak Nanik) dan setelah ke temanku minta disembunyikan dari tamu itu.

Perlakuan aparat Secara langsung sebenarnya aku belum pernah merasa mendapat perlakuan salah dari aparat. Tapi kalau dengar dari cerita teman-teman yang lain, ternyata banyak diantara mereka yang sudah mengalaminya. Selain dicakup juga masih ada perlakuan aparat yang lain yang sangat tidak manusiawi. Satu contoh yaitu pernah teman-teman ini ‘dikumpulkan’ oleh petugas (nama kesatuannya lupa yang jelas beberapa diantaranya mengenakan celana seragam warna agak kecoklat-coklatan) yang datang dengan sekitar 7-8 orang dengan mobil pick up warna tanah. Mereka mengumpulkan teman-teman ayla (anak yang dilacurkan) yang beroperasi disekitar Bambu Runcing . Disini teman-teman itu kemudian disuntik tanpa penjelasan lebih lanjut atau penjelasan yang bersifat penerangan. Langsung saja mereka disuntik berganti-gantian dengan jarum suntik yang sama. Tidak diganti pada tiap anak. Teman-teman tidak diberi kesempatan menolak atau pun protes karena perasaan takut selalu ada pada mereka. Apalagi jika itu berkaitan dengan petugas (meskipun beberapa diantaranya juga ada yang berpakaian preman).

Perlakuan salah aparat lainnya yang juga sering dialami teman-teman yaitu perlakuan yang mengarah pada pelecehan dan kekerasan seksual. Sering para aparat ini memakai jasa teman-teman secara’gratisan’. Tanpa membayar ataupun hanya sekedar mencolek teman-teman. Mungkin mereka berpikir bahwa kami hanyalah orang hina yang tidak pantas mendapat perlakuan baik sehingga mereka bertindak demikian. Namun yang jelas sebagai aparat, sebagai orang pemerintahan seharusnya justru mereka melindungi kami dari perlakuan salah orang lain, bukannya malah melakukan hal yang menghina mereka sendiri, karena dengan demikian apa bedanya mereka dengan kami? Hal lain adalah ditetapkannya setoran wajib yang juga sering aku dan teman-teman berikan sebesar Rp.3000 per orang (biasanya dikumpulkan melalui germo) kepada aparat ini supaya kami tidak dicakup. Dan secar teratur aparat / petugas ini datang mengambil setoran tersebut dengan tanpa malu-malu sekaligus ‘ngecek’ anak-anak yang kerja. Begitulah yang selalu terjadi.

Karena terlalu seringnya sampai-sampai oleh beberapa teman hal ini dianggap sebagai suatu hal yang biasa, bukan pelanggaran lagi. Tanggapan masyarakat sekitar. Awalnya banyak tanggapan yang negatif yang dilontarkan oleh masyarakat sekitar. Mulai dari sekitar bisik -bisik dampai pada ucapan sinis yang sering dilontarkan pada kami. “Kalo mbalon jangan disini. Jangan tinggal di kampung ini, sana tinggal di Dolly!” umpatan seperti itu bukan lagi hal baru bagi telingaku dan teman-teman (kebetulan dalam satu kost juga ada teman yang bekerja sepertiku). Tapi seperti biasa kami hanya mencoba ‘cuek’, pura-pura tidak mendengar. Bukan karena kami tidak mau berubah atau kami tidak malu. Sebenarnya kami juga malu, aku terutama juga ingin bisa kembali sepert masyarakat yang lain, hidup sepert orang-orang pada umumnya.

Tapi bagaimana kami bisa mulai kalau tanggapan masyarakat selalu sinis begitu? Tapi untungnya hal ini sudah agak mereda. Masyarakat sudah mulai agak ‘cuek’ dengan keberadaan kami. Mungkin ini disebabkan karena pernah masyarakat disekitar itu di ‘tegur’ oleh seorang kiai setempat yang menilai perlakuan masyarakat terhadap kami sudah keterlaluan. Oleh kiai itu kami juga sempat dinasehati dan diperlakukan wajar sebagaimana keluarganya. Aku khususnya dinasehati untuk tidak terlalu sering bekerja sebagai pelacur jalanan. Bahkan oleh kiai ini aku kemudian dianggap sebagai adiknya sendiri. Sampai saat ini kiai ini juga masih sering mengontrol aku dan kawan-kawan yang lain. Rencananya kami ingin diajaknya untuk ikut belajar di pesantren yang hendak dibangunnya. Tapi kasihan selama pesantren itu belum jadi kiai ini sekarang dianggap kiai cabul dan kiai germo oleh masyarakat, padahal dia bener-bener mau menyadarkan aku dan temen-temen.

Cita-cita/Harapan masa depan Untuk saat ini aku belum punya cita-cita yang pasti. Namun yang jelas aku hanya ingin berubah. Aku pingin berhenti dari pekerjaanku selama ini. Aku sudah capek. Aku ingin melakukan hal lain yang tidak hanya bisa berarti bagi diriku sendiri tapi aku ingin itu juga bisa berarti bagi orang lain khususnya bagi teman-teman lain yang juga seperti ku. Saat ini aku mulai sering main dan belajar di yayasan perlindungan anak ini untuk mewujudkan harapan itu bareng temanku saat ini kami sudah mulai merencanakan untuk bisa mewujudkan hal itu, menjadi orang baik dan bisa di terima orang lain itulah cita-cita kami masa depan. “Adalah menjadi tugas orang-orang yang berpikir jika ada orang tidak bersalah namun dihukum/dipersalahkan”


Leuboye


Sumber http://yudhim.dagdigdug.com

Artikel Yang Berhubungan



0 komentar:

Template by:
Free Blog Templates