Kamis, 04 Februari 2010

Yang Penting Pendidikan Seks atau Pengetahuan Seks?

Ribut-ribut soal kehamilan remaja yang belakangan marak lagi di kalangan pelajar yang masih aktif sekolah menimbulkan masalah tersendiri. Koran-koran pun mengangkat tema ini sebagai sesuatu yang harus diselesaikan dari akarnya.

Dan masalah ini tentu saja terkait erat dengan kesehatan reproduksi yang masih belum dipahami oleh banyak remaja. Mengapa remaja begitu rentan jatuh dalam masalah yang pelik ini.

Dari sisi fisik dan mental, remaja dalam kondisi yang tidak stabil, karena sedang dalam masa transisi antara masa transisi dan dewasa. Mereka juga menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan.

Di negara-negara berkembang masa transisi ini berlangsung sangat cepat. Bahkan konon menurut penelitian Kiragu (1995:10), yang dikutip Population Council usia saat berhubungan seks pertama, ternyata selalu lebih muda daripada usia ideal menikah.
Konon pengaruh informasi global (paparan media audio visual) yang semakin mudah diakses justru memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiasaan tidak sehat seperti merokok, minum minuman beralkohol, penyalahgunaan obat dan suntikan terlarang serta perkelahian antar remaja.

Pada akhirnya secara kumulatif, kebiasaan-kebiasaan tersebut akan mempercepat usia awal seksual aktif serta mengantarkan mereka pada kebiasaan berperilaku seksual yang berisiko tinggi. Karena kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi.

Kebutuhan dan jenis risiko kesehatan reproduksi yang dihadapi remaja mempunyai ciri yang berbeda dari anak-anak maupun orang dewasa. Jenis risiko yang harus dihadapi remaja antara lain, kehamilan, aborsi dan penyakit menular seksual (PMS), serta kekerasan seksual dan keterbatasan akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan.
Risiko ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berhubungan, seperti tuntutan kawin muda, hubungan seksual, akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, ketidaksetaraan jender, kekerasan seksual dan pengaruh media massa maupun gaya hidup.
Khusus bagi remaja putri, posisinya semakin terjepit karena minimnya ketrampilan menegosiasikan hubungan seksual dengan pasangannya. Apalagi dari segi kesempatan memperoleh lapangan kerja semakin membuat mereka untuk menunda perkawinan dan kehamilan serta mencegah kehamilan yang tidak dikehendaki.

Pencetus dari semua masalah ini kadangkala justru datang dari rumah atau keluarga seperti ketidakharmonisan hubungan ayah dan ibu, sikap orangtua yang menabukan pertanyaan remaja tentang fungsi dan proses reproduksi. Sementara di sisi lain remaja juga mulai memiliki rangsangan seksual (libido). Padahal mereka juga menjadi korban dari kekerasan seksual.


Sumber satuwanita.com

Tidak ada komentar: