Selasa, 18 Mei 2010

Pendidikan Karakter Pada Anak Harus Sedini Mungkin


Praktisi Pendidikan Rani Anggraini Dewi menilai, pendidikan karakter pada anak harus diberikan sedini mungkin sebagai usaha berkesinambungan dalam membentuk karakter seseorang agar menjadi lebih baik dalam beretika, maupun perilaku sehari-hari.

"Pendidikan jangan hanya mementingkan kecerdasan intelektualnya semata, tetapi juga membutuhkan pembinaan karakter luhur di kalangan siswa," kata Praktisi Pendidikan dan Konselor Keluarga Rani Anggraini Dewi pada seminar "Menata Pembinaan Karakter Luhur di Kalangan Siswa" di Jakarta, Senin.

Rani menjelaskan perlunya pembinaan karakter luhur pada siswa harus dikembangkan sejak dini. Dalam masalah ini, katanya, peran orang tua, guru dan dunia pendidikan sangat bertanggung jawab dalam pencapaian tersebut.

"Orang tua jangan hanya memikirkan fisik dan materi saja, tetapi pikirkan juga pendidikan akhlak dan budi pekerti yang sering tertinggal," katanya.

Kurangnya perhatian pada anak juga merupakan faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan dan penyimpangan hak asasi jiwa, sehingga sangat dibutuhkan peran orangtua dalam penanganannya.

"Contoh anak dari keluarga yang orangtuanya bercerai, sering kali timbul masalah yang berkaitan dengan jiwa si anak yang kurang membutuhkan perhatian orangtuanya, sehingga seringkali si anak terlibat masalah, seperti kasus kekerasan atau penganiayaan," kata Rani.

Kurangnya pengertian terhadap kasus kekerasan membuat masyarakat kurang mengetahui kasus yang sering terjadi di sekolah. Bukan hanya murid tetapi tidak jarang guru sendiri yang melakukan tindak penganiayaan terhadap anak muridnya.

"Tidak jarang guru itu menghina muridnya dengan memberikan julukan dari kondisi anak tersebut, sehingga hal itulah yang akan ditiru oleh muridnya," kata Dirjen HAM Kementerian Hukum dan Ham (Kemenhukham) Prof Harkristuti Harkrisnowo, yang akrab dipanggil Tuti.

Tuti menjelaskan, jika orang tua sendiri tidak memberikan contoh yang baik terlebih dulu, jangan mengajarkan anak perilaku tersebut karena anak itu meniru apa yang mereka lihat.

"Anak pada dasarnya memiliki keingintahuan dan senang belajar, jika kita mengajarkan yang baik, mereka akan menyerap pelajaran yang baik pula," kata Tuti.

Seminar pendidikan yang diselenggarakan oleh Yayasan SEJIWA bekerja sama dengan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dan Perpustakaan Nasional RI adalah sebagai momentum peringatan Hari Buku Nasional, Hari jadi IKAPI ke-60 sekaligus Hari Jadi Perpustakaan Nasional ke-30, diharapkan mampu menjadi pijakan para penulis dan penerbit dalam mengupayakan pendidikan pembentukan karakter.

"Saya berharap seminar dan pelatihan ini bisa memacu penulis dan penerbit melahirkan karya-karya yang mengarah pada pembinaan karakter, sehingga mengurangi kekerasan yang selama ini terjadi," kata Ketua IKAPI Setia Dharma Madjid.



Sumber
Jakarta (ANTARA)


Mau dapat uang Gratis, dapat kan di http://roabaca.com/forum/index.php/topic,87.0.html

1 komentar:

Unknown mengatakan...

bener banget.. pendidikan untuk anak emang harus diperkenalkan lebih dini.. tapi faktor keluarga dan lingkungan harus mendukung, karna itu yg paling berpengaruh pada perkembangan prilaku anak..